Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Koloni yang tidak lebih besar dari koloni lain yang didatangi Ducky. Memiliki kelebihan yaitu situs reruntuhan peradaban sebelumnya masih berfungsi walau hanya sebagian kecil. Cukup untuk mengolah limbah dan sumber air yang tak seberapa hingga bisa menghidupi penghuninya.
"Kalau bukan karena lokasi kami yang sulit dicapai walau tak terlalu jauh dari koloni lain, kami tidak akan bertahan hidup dari penyamun atau invasi koloni lain." Penjaga gerbang menjelaskan dengan nada bangga dalam suaranya.
Tanah bercadas yang harus dilalui Ducky untuk mencapai tempat itu memang menyulitkan bagi pengguna kendaraan beroda. Banyak undakan dan batuan curam yang memaksa untuk memutar, menghabiskan lebih banyak bahan bakar dari biasanya. Sementara hewan tunggangan sudah amat jarang dimiliki. Ducky beruntung bisa mendapat kuda.
"Nah, ini satu-satunya penginapan di koloni ini. Kujamin tempatnya lumayan dan makanannya enak." Penjaga itu kembali mengoceh sesampainya mereka di sebuah bangunan yang sepintas terlihat seperti benda tambal-sulam dengan kombinasi bahan struktur yang digunakan.
Sebagian besar tembok terbuat dari bebatuan karang yang disusun dan dipahat, sebagian lagi terlihat seperti beton yang biasa terlihat di reruntuhan, sisanya merupakan kombinasi bahan apa saja yang bisa menutup. Anehnya semua tertata dengan cukup baik dan tidak terlihat bobrok.
Ketika salah satu dari pintu ganda dibuka, pemandangan yang terpampang makin menakjubkan di mata Ducky. Lobi penginapan tak terlalu luas, tetapi meja dan kursinya yang juga terbuat dari beton berwarna kunyit pudar, terlihat kokoh dan mengkilap. Bantal pipih diletakkan di atas setiap dudukan sehingga pelanggan tidak harus beradu pantat dengan permukaan keras dan dingin.
Namun yang membuat Ducky tidak terlalu memerhatikan sapaan ramah resepsionis penginapan adalah ukiran relief di tembok belakang meja resepsionis. Total ada enam tegel batu, kira-kira berukuran 60 x 60 centimeter. Lima tegel berjajar rapi, tiga di atas dua di bawah.
Dari bahan yang digunakan yang berbeda dari tembok dan sedikit retak di tepiannya, menunjukkan bahwa ukiran itu diambil dari situs reruntuhan peradaban sebelumnya, tetapi secara umum enam tegel berukir yang dipajang itu masih dalam kondisi baik.
"Oh, gambar-gambar ini? Kami mendapatkannya ketika merenovasi bangunan ini menjadi penginapan. Begitulah yang dikatakan oleh pemilik penginapan sebelumnya." Resepsionis itu menjelaskan.
Ukiran timbul di masing-masing tegel menggambarkan hewan-hewan, berupa: seekor burung berkaki jenjang, beberapa ekor hewan tak berkaki yang sepertinya tinggal di sebuah kolam, dan seekor kepiting.
"Kepiting yang aneh," gumam Ducky.
"Ya, kami juga baru kali ini melihat gambar kepiting tak berbulu dengan capit sebesar itu." Resepsionis kembali menanggapi.
Pada tegel pertama menunjukkan gambar unggas tergeletak, kelihatan terluka di dekat kolam. Dengan gambar seekor kepiting gundul dalam kolam dan seekor hewan tak berkaki di sebelahnya.
Tegel berikutnya memiliki gambar unggas berdiri tegak dengan seekor hewan tak berkaki dekat paruhnya dan seekor lagi di dekat kaki jenjangnya. Kepiting gundul berdiam di sebelah hewan tak berkaki yang di bawah. Jumlah hewan tak berkaki di gambar bertambah di setiap tegel.
Pada tegel terakhir di sudut kanan bawah, para hewan tak berkaki terlihat bersenang-senang dengan kepiting gundul, sementara si unggas memandang kolam dari tepian.
Sampai di situ saja tidak ada yang aneh, tetapi kemudian Ducky melihat di setiap tegel ada tanda ditorehkan. Seperti huruf abjad umum, tetapi hanya terdiri dari huruf I dan V saja, dengan jumlah dan susunan bervariasi.
"Anda beruntung kamar-kamar penginapan ini tidak pernah penuh, walau tidak pernah kosong juga. Satu kamar untuk satu orang, ini kuncinya." Resepsionis itu menyerahkan kunci analog yang terlihat seperti versi kuno dari kunci kamar Ducky di asrama dulu.
"Kenapa tegel-tegel itu tidak dipasang berurutan?" tanya Ducky sambil mengantongi kunci.
"Maaf, maksud Anda ...?"
"Itu, di sudut ada angka petunjuk urutannya ... angka romawi, kan?"
Resepsionis mengarahkan pandangan pada apa yang ditunjuk oleh Ducky. "Deretan huruf ini?" dia balik bertanya. Terdengar tak memahami maksud perkataan tamunya.
"Berdasar itu, ada satu tegel yang hilang. Tegel nomor 5." Saat mengucapkan itu, Ducky mengacungkan dua jari, seperti simbol victory, kemenangan.
Sepeninggal Ducky, resepsionis itu segera memanggil seseorang di ruang belakang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika Ducky hendak mengembalikan kunci sebelum melanjutkan perjalanan, dia melihat jumlah tegel bergambar relief sudah lengkap menjadi 6 lembar. Satu tegel yang menggambarkan kepiting gundul menyerang unggas berkaki jenjang, diselipkan di antara gambar unggas yang terluka dan gambar unggas yang membawa seekor hewan tak berkaki dan seekor hewan tak berkaki tertinggal di bawah bersama kepiting gundul.
"Tuan Ducky, terimakasih banyak. Berkat Anda kami bisa menemukan susunan yang benar dari relief kuno ini. Bahkan kami jadi bisa menemukan bahwa karya seni ini merupakan buatan tahun 2075. Tahun yang sama dengan tahun berdirinya kota kuno yang menjadi koloni kami sekarang."
Perkataan resepsionis itu tak berarti apa-apa bagi Ducky, dia hanya merasa sedikit lega akhirnya bisa menemukan urutan cerita yang benar. Setelah dijajarkan keenam-enamnya, Ducky baru memahami bahwa tegel itu bercerita tentang seekor unggas yang menipu ikan-ikan dalam kolam untuk bisa memakan mereka satu-persatu.
Sungguh bodoh si Unggas itu, pikir Ducky. Seandainya dia tidak serakah dan segera pergi ke tempat lain sebelum ikan ketiga, dia tidak akan diserang oleh si Kepiting Gundul.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Catatan Penulis
Halo, semuanya! >w<)/
Selamat datang di karya ke 12 DWC. Tulisan kali ini bertemakan fabel tetapi bukan admin pecut NPC kalau tidak menambah masalah bagi peserta. Maka yang tertulis di pengumuman adalah:
Pilih salah satu fabel di Indonesia. Recreate dengan latar waktu tahun 2075.
Fabel, asyiiik. Tahun 2075? How??? Ducky dan yang lainnya saja tidak jelas tahun berapa. Akhirnya saya nekad buat seolah2 fabelnya dipahat/diukir pada tahun 2075. Garing? Biarin. Ini cara singkat karena saya hanya bisa menulis sebentar hari ini.