Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ducky tak bisa benar-benar mengingat apa yang sebetulnya terjadi di bangunan fasilitas tempat misinya berlangsung. Kebiasaannya menulis dan mencatat di jurnal pun tak membantu. Ketika isi jurnal itu dibaca ulang, dia tak bisa membedakan: mana yang mimpi, mana yang halusinasi, mana yang kenyataan. Absurd.
Perjalanan pulangnya cukup lancar. Dalam artian, tak ada yang berbeda. Hanya rutinitas bertahan hidup dari cuaca, medan, dan monster gurun.
Sesampainya di Koloni terdekat dia hanya ingin tidur, istirahat. Bahkan tak ingat kapan dia mulai terlelap. Ketika esok paginya terbangun di ranjang penginapan, dia jadi menyangsikan sendiri apakah bangunan fasilitas canggih itu benar-benar ada.
Satu helaan napas panjang dilepaskan sebelum menopangkan dagunya ke telapak salah satu tangan. Sementara tangan yang lain memutar-mutar sendok bertangkai panjang yang menyertai gelas tinggi berisi jus kaktus.
"Bung, mukamu kelihatan suram," sapa perempuan paruh baya yang sedang mengelap cangkir di belakang meja. "Tak ingin mencoba pesan sesuatu selain jus kaktus? Kami punya Arkhi. Kalau tak suka yang alkoholnya keras, masih ada Kumys juga."
"Mukaku memang begini dari lahir," gerutu Ducky, meneguk jus kaktusnya. Hambar. Ibu-Ibu itu pasti hanya memasukkan sari kaktus saja, tanpa potongan buah kaktus, tanpa tambahan apa-apa lagi.
"Hambar, kan?" komentar Ibu-ibu itu lagi, seperti membaca pikirannya. "Nih, cobalah dulu se sloki. Kutraktir."
Sebuah gelas mungil berisi cairan bening disodorkan padanya. Ducky melirik sepintas pada cairan yang menguarkan aroma samar keju itu, sebelum menggeser kembali gelas tersebut pada Ibu-Ibu itu.
"Tidak, terimakasih," ucapnya. "Aku sedang tidak ingin kehilangan kewarasan lagi."
Serangkaian decakan prihatin lolos dari mulut Ibu-Ibu itu. "Wah ... wah, malam yang berat, ya? Atau pekerjaan yang berat?"
Ducky baru akan menjawab, ketika pintu ruangan berayun membuka dengan gemerincing bel sederhana dari lempengan logam yang dipasang longgar dekat puncak pintu.
"Selamat datang!" sapa Ibu-Ibu di belakang meja dengan riang. Mengembangkan senyum bisnis. "Mau pesan apa, bisa dibungkus untuk dibawa ke kamar penginapan juga, kalau mau?"
"Ah," keluh suara nyaring dan terdengar sok yang seperti pernah didengar oleh Ducky. "Tempat ini juga tak terlalu bagus, pasti minumannya juga tak lengkap. Sayang, kau yakin tetap mau mencoba Ahi ... Arki ... Apalah namanya itu?"
Senyum ramah di wajah Ibu-Ibu di belakang meja masih belum pudar, tetapi Ducky seperti melihat ada sedikit kedutan di bawah matanya. Membuatnya melirik sedikit ke arah pintu untuk melihat sosok perempuan pertengahan usia 30-an, berpakaian khas orang Koloni Maju yang sedang bersafari.
Wisatawan, batinnya getir. Mengingat pengalaman ketika harus satu kendaraan dengan rombongan orang-orang berduit dan keluarga mereka.
"Aku yakin salah satu dari toko yang disebut dalam brosur ini punya, Sayangku. Agen pariwisata itu yang merekomendasikan," ujar lelaki kurus berkacamata yang masuk di belakang perempuan berpakaian safari. Penampilannya nyaris serupa, dengan mantel luar kedodoran.