Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku mencintainya."
Pernyataan jujur dan lugu itu mendapat sambutan gelak tawa dari lawan bicaranya. Pundak dokter berambut kelabu itu berguncang hebat. Ketika akhirnya reda, Ducky bisa melihat sedikit jejak air mata di antara kerut sudut mata Dokter Jonas Auer. Lelaki paruh baya itu tertawa sampai menangis.
Dokter Sial, padahal dia sendiri yang bertanya.
Malam kedua di gurun Direland. Karena terlalu mewaspadai kendaraan penguntit, progres perjalanan Ducky jadi agak terhambat. Rencana untuk memeriksa reruntuhan tempat kincir angin pun tak sempat terlaksana, pihak penguntit sudah keburu selesai berbenah dan mulai mendekat. Dia harus pergi.
Ducky mencoba rute agak memutar. Selain berharap para penguntitnya percaya tujuan perjalanan Ducky bukanlah bekas fasilitas penting yang ditunjuk Ronald, juga untuk menjauhi area yang terlalu terbuka.
Dia hanya seorang diri. Walau sangat hati-hati untuk tidak masuk jarak pandang, kendaraan penguntitnya terdengar lebih besar. Entah berapa orang muat di dalamnya.
Memiliki banyak jalan untuk bisa melarikan diri memang penting, tetapi dia juga harus mempersiapkan jika tak sempat menghindari penyergapan. Pada saat demikian, Ducky lebih suka bila ada penghalang yang cukup kokoh antara dirinya dengan para penyergap. Seperti saat mengobrol dengan Suster Tilia.
Berusaha untuk tak menatap langsung. Sibuk dengan tugas apapun yang diberikan sebagai ganti biaya hidup. Menghindari berada dalam satu ruangan yang sama dengan perempuan cantik yang sepertinya selalu menemukan cara untuk menggoda Ducky hingga mati kutu—walau ada kemungkinan Tilia tidak bermaksud demikian.
Tindak-tanduknya itu sepertinya jadi bahan hiburan bagi Dokter Auer. Berkali-kali Ducky melihat kedipan penuh arti dari balik kacamata dokter itu, setiap kali dia harus menghadapi situasi yang membuatnya harus berhadapan dengan Suster Tilia. Orang lain mungkin menganggap dokter itu berbaik hati, tetapi Ducky tahu Jonas Auer hanya ingin menonton hiburan—yaitu dirinya yang melakukan banyak kebodohan di hadapan Suster Tilia.
Peta yang diberikan oleh Ronald menunjukkan area yang digunakan Ducky sebagai tujuan palsu dulunya merupakan tempat banyak bangunan berkumpul. Struktur yang belum habis dimakan cuaca gurun menunjukkan beberapa bangunan terlalu besar dan kokoh untuk sekadar jadi pemukiman. Mungkin bekas pabrik atau pergudangan.
Sayang tidak banyak sisa fasilitas. Jangankan keran yang masih berfungsi, sumber air hanya tinggal genangan dangkal yang merembes dari dasar tanah. Mungkin bila digali dan dipasang dinding masih bisa menjadi sumur, tetapi tak ada waktu dan tenaga untuk itu.
Bercampur pasir dan tanah gurun, tetapi air tetap air. Ducky mengumpulkan sebisanya untuk disaring dan direbus. Lumayan menghemat persediaan. Air yang dikumpulkan tak terlalu banyak, asal cukup untuk membasahi tepung umbi yang jadi makan malam hari itu dan segelas kaldu.
Ducky mengunyah makan malamnya sembari mengawasi sekeliling. Melihat bekas-bekas penjarahan, mungkin baja dan logam dari mesin yang ada sudah menjadi diloak atau dilebur jadi sesuatu yang lain. Setidaknya dinding yang tebal cukup untuk melindungi dari angin gurun, Ducky hanya perlu menggunakan tenda sebagai atap.