Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sori, Brrro ... Mesin ini sudah tidak mungkin bisa memutar roda-roda lagi."
Ducky merogoh kantong tasnya lebih dalam, suara gemerincing terdengar oleh si Montir, walau teredam oleh tas.
"Nggak ... Nggak! Kowe ra ngerti, Brrro. Nambah ongkos nggak mesti bisa bikin mesinnya mbalik seperti semula. Ini cuma uang, bukan mesin waktu," potong montir itu dengan logat kental, di mana huruf B, D, G, J, dan sesekali T, terdengar tebal serta sedikit meletup yang belum pernah didengar Ducky sebelumnya. "Omong-omong, kowe nemu dari mana ATV tua tur babak-belur gini?"
Ducky mengacungkan telunjuknya ke arah yang dia perkirakan sebagai koloni kecil tempat dia mendapatkan ATV itu.
Kerut di dahi dan alis yang naik sebelah menunjukkan bahwa si Montir tidak memahami maksudnya. Malah mungkin menganggap lelaki kumal di hadapannya kurang waras, atau kurang pandai, atau malah keduanya sekaligus.
"Apa ... Betul-betul tidak ada cara lain?" tanya Ducky. Suaranya serak dan kering. Segera setelah bicara dia langsung terbatuk-batuk, membuat sekelilingnya maklum mengapa sedari tadi dia memilih untuk tidak berbicara.
"Kecuali kowe ubah sistem kerjanya supaya bisa diboseh seperti sepeda ontel, nyari montir sampai Planet Saturnus juga nggak akan bisa bikin mesin ATV ini secara ajaib bekerja lagi."
Ducky menggeleng dan buru-buru menggerakkan kedua tangan menunjukkan bahwa bukan itu yang dia maksud. Lalu dia menepuk mesin utama ATV beberapa kali, kemudian menunjuk ke rak suku cadang di belakang si Montir. "Ada yang seperti ini?" bisiknya serak.
Montir itu mengedarkan pandangan ke barang-barang di rak sembari mengusap-usap dagu. Tak lama dia menggeleng perlahan.
"Sori, Brrro. Aku nggak punya mesin yang cocok dengan ATV-mu. Terlalu kecil, percuma ... belum setengah perjalanan dia pasti keburu meledak duluan. Terlalu besar, kowe cuma bakal buang-buang bahan bakar sia-sia. Belum lagi kemungkinan rusaknya komponen lain karena tenaga sing terlalu gedhe sementara daya tahan yang lain nggak dirancang untuk mampu mengatasi itu."
Ducky tertunduk lesu. Satu-satunya montir yang berhasil dia temukan tak bisa lagi membantu. Pergi ke tempat lain juga percuma. Tak ada toko yang menjual suku cadang lebih lengkap dari tempat montir itu.
Tempat itu bukan koloni, terlalu kecil dan kurang terstruktur untuk menjadi sebuah koloni. Hanya sebuah tempat persinggahan yang terbuat dari beberapa bangunan sisa peradaban sebelumnya. Satu-satunya mata air yang tersedia di situ tak cukup untuk menghidupi lebih dari 20 orang. Dengan hukum setengah rimba (apapun itu artinya), yang lemah akan terusir dari tempat itu atau yang memiliki dana akan segera melanjutkan perjalanan menuju koloni yang lebih layak.
Bangunan lain terbentuk dari sisa-sisa shuttle atau kendaraan besar lain yang sebisa mungkin ditata mengelilingi bangunan terbesar di situ. Terpal yang tak kalah kumalnya dengan penampilan Ducky saat itu menjadi tirai atau tenda tambahan yang melindungi dari teriknya matahari dan dinginnya angin gurun pada setiap bangunan semi permanen yang ada.
Penghuni di situ mendapatkan penghasilan dengan menjual apa saja yang bisa ditawarkan pada pengembara yang butuh tempat istirahat sementara. Mereka juga membeli apa saja yang mampu mereka beli atau tukar dari para pengembara yang tak memiliki cukup uang.
Ducky termasuk yang cukup beruntung karena memiliki dana, tetapi tidak cukup beruntung karena apa yang dibutuhkan tidak tersedia.
"Gini, Brrro," Montir itu kembali berkata setelah menghela napas panjang. "Kowe ke penginapan dulu. Makan, mandi, istirahat ... Besok ke sini lagi. Kita bicara lagi, mungkin kalau wis seger, bakal ada ide buat ngakali ATV bobrokmu. Piye?"
"Piye?" ulang Ducky. Bingung.
"Gimana?" Montir itu mengulang kata terakhirnya.
"Gimana?" Ducky kembali bertanya, makin terdengar bingung.
"Uwis ... Uwis! Kamu tidur dulu sana!!! Mulai nggak nyambung kene ngomong karo kowe."
Si Montir menggiring Ducky menuju ke arah bangunan terbesar di situ.
"Hei?" bisik Ducky makin kebingungan. "Kita mau ke mana? Bagaimana dengan ATV-ku?" bisiknya berusaha kembali ke kios si Montir. Namun lelaki berlogat medok itu terlalu sibuk mendorong-dorong Ducky, tak mendengar kata-katanya.
Kelelahan, tak memahami perkataan lawan bicara, dan kejengkelan karena tidak bisa menggunakan kata-kata untuk mendapatkan yang diinginkan, membuat Ducky menerima perlakuan si Montir dengan sangat tidak baik. Hanya dua kali gerakan. Lalu tubuh si Montir yang sebetulnya tak berbeda postur dengan Ducky, melayang sesaat di udara sebelum terbanting di tanah gurun.
Keributan yang ditimbulkan setelah itu mengundang para penjaga dari gerbang dan dalam bangunan besar. Butuh waktu tetapi pada akhirnya Ducky berhasil dibuat tak berdaya dan dijebloskan dalam sebuah kamar tahanan.
Sebuah ruang sangat sederhana yang sepertinya dibagi menjadi dua untuk memisahkan tahanan satu dengan yang lain. Tak ada ranjang, hanya sebuah papan tipis dan selimut usang digeletakkan di sudut. Setidaknya gumpalan kain kumal yang dijadikan alas kepala masih dibungkus dengan sarung bantal.
Ducky baru melihat itu semua keesokan paginya. Bukan hanya karena dia baru terbangun dari tidur yang sepertinya memang sangat dia butuhkan, tetapi juga karena tahanan tidak diberikan penerangan. Kerubuk dan keruyuk dari perutnya karena sudah lebih dari 24 jam belum diisi, membuat Ducky memakan dengan lahap bubur singkong hambar yang diberikan tak lama kemudian.
"Jadi, apakah kau sudah bisa diajak bicara dengan normal, sekarang?" tegur seseorang yang terlihat penting.
Ducky mengangguk. "Boleh minta minum?" tanyanya masih parau, tetapi lebih bisa didengar daripada kemarin.
Lawan bicaranya menyerahkan segelas air.
"Trims!" jawab Ducky sembari mengulurkan tangan. Saat itu dia baru menyadari bahwa kedua pergelangan tangannya terikat borgol tebal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Catatan Penulis
Halo, semuanya! >w<)/
Langsung saja saya tunjukkan tema yang diberikan oleh Admin kepada para peserta:
Buat tulisan yang mengandung 3 kata ini: sarung bantal, planet Saturnus, sepeda ontel. Kata-kata harus persis. Planet Saturnus tidak boleh ditulis Saturnus saja, sepeda ontel tidak boleh ditulis sepeda saja.
Untungnya kata-kata itu bisa kita letakkan bebas di paragraf manapun dan tidak harus berurutan. Tergantung kreativitas dan kewarasan peserta, kalau meminjam kata-kata Admin di pengumuman.