Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Halo ... Halo?"
Terdengar panggilan dari seberang sana. Suaranya agak terhalang suara gemerisik statis tetapi itu adalah suara bocah, walau tak terlalu jelas lelaki atau perempuan. Gambarnya hanya sesekali timbul, seperti ada sesuatu yang menghalangi sinyal.
"Apa ... suaraku bisa terdengar?" panggil suara bocah itu lagi. Terdengar agak malu-malu, tetapi juga tidak bisa menyembunyikan kegirangannya.
"Aneh, apakah kita salah memasukkan kode?" Alfred bergumam, sambil mencoba mengatur dial. "Seharusnya kita tidak tersambung pada orang lain."
"Suaramu sudah masuk, Peru ... Langsung bicara, saja!"
Ducky yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan apa yang berusaha dilakukan oleh Alfred membeku mendengar suara kedua yang terdengar agak jauh dari mikrofon itu.
"Sepertinya kita salah tersambung," keluh Alfred. "Maaf. Akan kucoba untuk kalibrasi ulang."
"Tunggu!"
Ducky menahan tangan Alfred yang bermaksud memutar dial pengatur sinyal. Bukan hanya Alfred yang terkejut dengan tindakannya itu. Ducky sendiri tak mengerti.
Akal sehatnya mengatakan itu tak mungkin terjadi tetapi suara kedua yang masuk itu tak bisa tidak menyeret ingatan Ducky jauh ke masa-masa sebelum dia mendaftarkan diri ke Akademi Militer.
"Halooo? Ka-kalau suaraku kedengaran, katakan sesuatu, dong!" panggil bocah itu. Ada nada kecewa di suaranya.
"Peru, sepertinya lawan bicaramu tidak bisa bersuara. Kita coba sinyal lain, ya?"
"Halo ...?" Ducky yang berbicara setelah merebut mikrofon dari tangan Alfred.
Alfred memandanginya, heran tetapi memutuskan untuk membiarkan.
"Oh, tersambung!" seru bocah di seberang sana. Sangat girang.
"Halooo ... Aku Peru. Umur tu- ... Ibu, aku masih tujuh tahun?"
"... Kau seharusnya sudah berusia delapan tahun sekarang," Ducky menjawab lebih dulu.
"OH ... BENAR! Dari mana kau tahu?"
"Hanya yang sudah berulangtahun ke-8 yang diizinkan menggunakan video panggil—dengan pengawasan orang tua," Ducky kembali menjawab.
"Iyaaai. Ini video panggilku yang pertama. Seharusnya Ibu memanggil Ayah, tetapi kerjanya sibuk. Jadi ... Umm ... Apa itu namanya?"
"Kau mencoba dial video panggilan umum?"
"BENAR! Paman, kau tahu banyak, ya? Apa semua orang dewasa begitu?"
"Itu kewajiban kami. Orang dewasa bertanggung jawab untuk membimbing dan mendidik generasi muda."
Suara Ducky ketika menjawab terdengar tenang, tetapi Alfred langsung khawatir karena melihat bagaimana ekspresinya mengernyit. Seperti menahan pahit ketika harus mengulum obat atau merasakan pedih ketika luka luar harus menyentuh salep antiseptik.
Bocah lawan bicaranya tergelak. "Persis kata-kata Ibu dan Ayah!"
Selanjutnya Alfred menonton pembicaraan antara bocah tak dikenal itu dengan Ducky. Kebanyakan hanya berupa pertanyaan trivia tentang hal-hal yang umum dari si Bocah. Dijawab dengan kata-kata yang mudah dicerna oleh Ducky.
Entah bagaimana ekspresi Ducky saat itu karena Alfred tidak lagi terlihat khawatir.
"Waktunya sudah hampir habis, Peru." Suara sang Ibu terdengar. "Ucapkan terimakasih dan selamat berpisah pada orang baik hati yang menerima panggilanmu!"
Setelah sempat mengeluh dan merengek ingin melakukan panggilan lebih lama, akhirnya bocah itu setuju untuk mengakhiri panggilannya.
"Se-sepertinya kita harus me ... nga ... khi ... ri panggilan," ujar bocah itu.
Alfred mengulum senyum karena bisa mendengar bahwa lawan bicara Ducky melirik contekan untuk ucapan salam dan kesulitan membaca satu kata yang agak susah baginya.
"Terimakasih banyak, Uhh ... Anu ... Nama Paman siapa?"
Alfred melirik pada Ducky yang terlihat ragu untuk menjawab.
"Namaku Peregrine Dra- ...."
Sambungan terputus. Hanya ada layar statis dan suara desis panjang.
"Sayang sekali," gumam Alfred. "Mungkin di sisi anak itu sedang ada badai atau apa gitu yang membuat sambungan tak stabil."
"Tidak. Ibu anak itu yang memutuskan panggilan."
Alfred pasti masih melongo mendengar jawaban Ducky yang terdengar seperti sangat memahami apa yang baru saja terjadi. Karena Ducky perlu menunjuk pada deretan angka menit dan detik yang terus berkurang di atas monitor supaya lelaki itu bergegas sekali lagi mencoba dial untuk mengontak video panggil ayahnya.
Ducky sudah kembali ke tempatnya bersandar sebelum ikut bicara di panggilan video tadi. Jemarinya yang tersembunyi dalam sedekap lengan, diam-diam menyentuh gagang revolver yang terkunci dan diselipkan pada holder di balik jaketnya. Seperti mencari sesuatu untuk dipegang dari kenyataannya saat ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Catatan Penulis
Halo, semuanya! >w<)/
Kembali bersama saya di keluh-kesah penulis terhadap admin pecut NPC. Tema hari ini sebetulnya menarik tetapi ... AMAT SANGAT MEMBINGUNGKAN. Ducky yang sedang dalam kondisi luntang-lantung, bertahan hidup dengan hanya berbekal kebucinan pada Suscan dan insting survival hasil latihan dan sifat bawaannya, sangat butuh bicara dengan orang yang paham kondisinya.
Tema hari ke 23 ini adalah:
Tokoh cerita kalian hendak mengakses link video conference. Namun, karena salah mengklik link, ia malah terhubung dengan dunia paralel.
Sempat terpikir untuk mempertemukan dia dengan OC saya yang lain. Yang kira-kira satu frekuensi atau sedang dalam kondisi yang serupa, mengejar dan dikejar sesuatu. Namun sepertinya cerita bisa meleber ke mana-mana.
Terpikir juga untuk mempertemukan dia dengan saya atau kenalan saya IRL (in real life, di kehidupan nyata). Ngobrol-ngobrol random saja. Siapa tahu bisa sekalian curhat? Tetapi untuk sampai sejauh itu tidak mungkin bisa diselesaikan dengan singkat.
Saya juga kurang suka dengan gamblang membuka luka batin karakter. Kalau bisa dikeluarkan sedikit-sedikit, supaya sempat pulih sebelum menjadi borok.
Bagaimana kalau lukanya sudah terlanjur parah?
Yah ... Saya perlu cari bantuan profesional untuk menangani luka yang saya sendiri tidak tahu cara penyembuhannya 0v0;;;
ENIWEI! Demikian curhat pen- maksud saya, Catatan Penulis untuk hari ini. Semoga karya kali ini bisa dinikmati.