Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cerita dimulai dari keramaian di ruang komunal barak prajurit.
"Apabila aku selamat hingga perang usai, akan kulamar gadis manis yang menjadi tambatan hatiku," ucap seorang prajurit. Wajah mudanya riang, penuh harap. Merapikan mantel merah seragamnya, lalu membungkuk khidmat pada rekan-rekan yang bertepuk tangan dengan riuh.
Barak prajurit sedang ramai, tak lama lagi mereka yang sedang berkumpul di situ akan dikirim menyeberangi lautan Atlantis, untuk berperang.
"Dia sungguh-sungguh mengatakannya!" seru seseorang sembari bersuit dan melambaikan topi hitam berujung tiga.
Seorang prajurit duduk di sudut, menonton keriangan itu. Dia dijanjikan akan mendapat sponsor untuk memperoleh posisi perwira bila berangkat ke Dunia Baru. Apa yang mereka lakukan di sana, dia tak terlalu peduli. Dia hanya tahu bahwa ada perang besar sedang berlangsung dan itu merupakan cara cepat bagi prajurit yang tak punya dukungan keluarga seperti dirinya untuk naik pangkat.
"Hei, di sana nanti apakah kita akan berhadapan dengan orang kanibal?" bisik salah seorang dari yang ikut merayakan.
"Heh!" dengkus rekannya dengan nada mencela. "Mereka cuma orang-orang gua. Kalau kubeginikan dengan Brown Bess sebelum pisau batunya sempat terayun, langsung tamat!" Dia memperagakan dengan gerakan tangan seperti membidik senapan musket. Disambut oleh tawa riuh yang lain.
"Long Land Pattern flintlock Musket," gumam prajurit yang duduk di pojok, mengoreksi sebutan yang tepat untuk senjata mereka. Pelan, hanya untuk dirinya sendiri.
Dia juga tidak terlalu setuju lawan mereka akan semudah itu dikalahkan. Namun posisinya terlalu lemah untuk menyanggah. Lebih baik tutup mulut dan biarkan semua mengalir dengan sendirinya, daripada nekad menentang arus lalu malah berakhir mengalami hukuman disiplin karena berkelahi dengan sesama prajurit.
Tujuan mereka yang jauh di benua lain membuatnya cemas. Perang memang tak pernah menyenangkan. Perang di tempat yang sama sekali tak dikenal membuat segala hal buruk muncul dalam pikiran.
Rekan-rekan yang lain berusaha menaikkan semangat dengan bicara soal apa yang akan mereka lakukan setelah perang. Dirinya hanya ingin bisa sampai tujuan dengan selamat lebih dulu.
Sudah beberapa kali dia menumpangi kapal layar. Bukan sebagai kru, karena dia tidak tergabung dalam angkatan laut. Semua jarak tak terlalu jauh. Semua pelayaran itu membuatnya cemas. Ukuran kapal yang seharusnya cukup besar seketika terlihat ciut oleh tingginya gelombang.
Lalu bagaimana bila layar-layar lebar yang menjadi salah satu sumber tenaga penggerak kapal sobek akibat angin badai, atau lebih parah ... terbakar di tengah pertempuran. Memikirkan bubuk mesiu yang mereka bawa terendam oleh air saja sudah membuat perutnya mulas. Seorang perwira menertawakan kekhawatirannya dengan menjelaskan bahwa matahari di tengah laut lebih bagus daripada di tanah air mereka yang mendung dan sering hujan.
Perwira itu tidak menjelaskan soal kemungkinan badai di tengah samudera. Ke mana mereka akan berenang atau mendayung sekoci untuk menyelamatkan diri di tengah air yang lebih luas dari seluruh kepulauan negara mereka digabungkan?