Menahan Kesal

144 133 11
                                        

Ziva menyuruh Irfan untuk mengeluarkan uang hasil dari kerja kerasnya. "Keluarkan uangnya, Fan," saran Ziva. Irfan mengeluarkan seluruh uang yang ia simpan di dalam plastik. Ziva berkata, "Uang recehan tukar saja di warung." Irfan mengambil beberapa uang recehan kemudian bergegas ke warung seorang diri.

Sedangkan Ziva menghitung uang yang terdapat di dalam plastik. "Boleh nggak gue bantu hitung uang loe? Gue juga nggak maksa sih," tawar Rafi. Ziva menjawab, "Nggak usah ... Biar gue saja sendiri yang menghitung." Ziva fokus menghitung seraya celetuk, "Ini uang sudah ada enam ratus dua puluh ribu ... Sisanya ada di Irfan dia tukarkan uang recehan di warung." Ipul berkata, "Wuihh ... Mantap nih kita party sabi kali." Ziva menyahut, "Sabi bro ... Tenang saja."

Irfan kembali datang menghampiri Ziva dengan membawa uang yang sudah ia tukarkan. "Sudah di tukarkan semua?" tanya Ziva memastikan. Irfan menjawab, "Sudah ... Total uangnya ada tiga puluh ribu." Irfan memberikan uang tersebut kepada Ziva. "Sekarang uangnya tersisa enam ratus lima puluh ribu ... Jam delapan malam nanti gue sama Ipul beli minuman dan kalian semua harus stay di kontrakan jangan ada yang pergi dari sini sebelum gue sama Ipul datang," saran Ziva.

Semua serentak menjawab, "Siap, bos." Ziva meletakkan seluruh uang yang dia pegang di dalam plastik, kemudian dia ikat dengan kuat. "Sekarang sudah pukul berapa?" tanya Ziva. Rafi yang memakai jam tangan memberikan jawaban, "Sudah pukul tujuh malam."  Ziva memberikan saran kepada seluruh teman-temannya untuk pulang terlebih dahulu dan bersiap-siap melaksanakan party. "Loe semua yang sudah mandi tunggu saja di sini ... Jika di antara kalian yang belum mandi silakan pulang ke rumah masing-masing dan jangan lupa siap-siap balik lagi ke sini untuk mengadakan party bersama," saran Ziva.

Samsul, Irfan, Agung, Zayn, Hendrik, dan Deni serentak menjawab, "Siap." Mereka satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing. Ziva mempertegaskan berkali-kali kepada teman-temannya yang bersiap-siap pulang ke rumahnya. "Jangan lupa loe semua datang lagi ke sini," pintanya. Irfan dan Zayn serentak menjawab, "Tenang saja." Ziva mandi di kontrakan seorang diri, sedangkan teman-temannya yang lain menunggu Ziva di ruang tamu dengan bersantai.

Sekitar sepuluh menit, Ziva selesai mandi. Kemudian dia bergegas ke dalam kamar dan memakai baju yang telah tersedia di dalam lemari. Ziva memakai kaos lengan pendek berwarna hitam yang memiliki desain teks, serta memakai celana panjang berwarna hitam polos. Di saat sudah rapih, Ziva mengambil plastik yang telah ia simpan di dalam laci dekat ruang tamu. Kemudian Ziva menghampiri teman-temannya yang sedang bersantai posisi berada di ruang tamu.

Dani menatap Ziva seraya berkata, "Cepat amat loe mandi." Ziva tertawa kemudian menjawab, "Haha ... Jelas dong." Tiba-tiba saja Agung datang ke kontrakan dan masuk ke dalam menghampiri Ziva. "Baru loe saja yang datang ... Yang lain pada ke mana?" tanya Ziva. Agung berkata, "Lah gue nggak tahu ... Paling nanti mereka datang."

Ziva menghela nafas cukup panjang dan berucap, "Paling malas menunggu orang ngaret ... Mengulur waktu saja." Kemudian di susul oleh ke datangan Irfan, Zayn, dan Samsul. Mereka bertiga menghampiri Ziva bersama yang lain. "Sorry bro ... Kami bertiga telat datang," ucap Samsul meminta maaf. Ziva hanya diam saja dan mulai merasa bete dengan teman-temannya.

Ziva menahan kesal dan amarah karena ulah teman-temannya yang datang tidak tepat waktu.

Suci Dalam Debu (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang