Penyebab Keributan

112 120 6
                                        

Mereka semua yang berada di dalam kontrakan sedang menikmati cemilan bersama, termasuk Ziva. Ziva hanya menyantap satu es cream dan satu roti isi coklat, sedangkan ia meminum satu botol kopi rasa cappucino. "Nikmat banget menyantap cemilan bareng loe semua," ucap Ziva.

Irfan yang sedang menyantap makanan sekaligus mengatakan, "Nikmat banget bro ... Gue juga bahagia." Ziva hanya tersenyum kemudian melanjutkan kembali menyantap roti. Pada situasi di kala itu, handphone mereka tergeletak sembarangan begitu saja tanpa meletakkan di tempat yang aman.

Ketika yang lain sedang fokus menyantap cemilan dan mengobrol satu sama lain, Hendrik melihat dua handphone yang sedang tergeletak begitu saja. Ia menoleh ke arah kanan dan kiri, ketika di rasa sudah sangat aman situasinya. Dengan cepat, Hendrik mengambil dua handphone milik Ipul dan Ziva secara sembunyi-sembunyi. Kemudian Hendrik memasukkan handphone milik dua temannya ke dalam saku jaket yang ia pakai.

Hendrik berpamitan, "Gue pulang duluan ... Sorry banget bro sekarang gue ada sedikit urusan." Ziva menjawab, "Yasudah ... Hati-hati loe di jalan." Hendrik tertawa seraya berkata, "Santui." Satu persatu Hendrik berjabat tangan dengan teman-temannya. Tanpa berlama-lama, Hendrik langsung bergegas pergi mengendarai sepeda motor.

Di saat Ziva sedang mengobrol, tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu barang miliknya. Dia terdiam sejenak dan berpikir, seketika Ziva langsung teringat handphonenya. "Loe lihat handphone gue nggak?" tanya Ziva yang sedang mencari-cari handphonenya di sekitar. Seluruh teman-temannya memeriksa handphone masing-masing, kemudian membantu mencari handphone milik Ziva yang telah hilang.

Ipul juga tersadar jika handphone miliknya hilang. "Loh ... Handphone gue juga nggak ada," ujar Ipul yang merogoh ke dalam saku celana dan jaketnya. Irfan mencurigai Hendrik yang pulang terlebih dahulu. "Gue curiga dengan satu orang," celetuk Irfan. Ziva bertanya, "Siapa orang yang loe curigai?" Irfan menjawab, "Hendrik." Ziva berkata, "Gue dasarnya emang udah curiga sama tuh anak ... Nggak seperti biasanya dia pulang duluan kalau emang benar dia orangnya akan gue hajar sampai babak belur." Ipul memberikan saran, "Jangan bertindak gegabah lebih baik kita susul saja ke rumahnya dan tanyakan baik-baik." Ziva yang sudah sangat geram dia tidak memperdulikan saran dari Ipul.

Ziva mempertegaskan, "Ayo sekarang kita rame-rame pergi ke rumah Hendrik ... Orangtua dia lagi berlibur di luar negeri, kan?" tanya Ziva memastikan. Ikbal menjawab, "Iya ... Orangtua Hendrik sedang liburan di Swiss." Ziva berkata, "Yaudah ayo tunggu apalagi? Kita berangkat sekarang." Ziva dan seluruh teman tongkrongannya bergegas pergi ke rumah Hendrik dengan mengendarai sepeda motor masing-masing sekaligus berboncengan satu sama lain.

Ikbal mengarahkan jalan di setiap lokasi ke rumah Hendrik. Ziva mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang standar dan tidak seperti biasanya. Sekitar hampir satu jam, mereka semua sampai di depan halaman rumah Hendrik.

Hendrik yang sedang bersantai duduk di sofa ruang tamu, sontak saja Hendrik terkejut dan penasaran ketika mendengar suara sepeda motor yang terhenti di depan rumahnya. "Siapa yang datang ke sini? Sepertinya sangat rame," gumam Hendrik. Tetapi Hendrik menghiraukannya, ia kembali melihat-lihat handphone milik Ziva dan Ipul. Hendrik bergumam, "Nggak sia-sia gue ambil handphone milik Ziva dan Ipul."

Sedangkan Ziva yang sudah mulai geram, ia langsung turun dari sepeda motor. Tidak menunggu lama-lama, Ziva langsung bergegas masuk ke dalam rumah, tanpa sepengetahuan Hendrik. Ipul dan teman-temannya yang lain hanya bisa diam saja sekaligus kewalahan ketika melihat Ziva emosi.

Hendrik terkejut ketika melihat ke datangan Ziva. Tanpa basa basi, Ziva langsung memukuli Hendrik seraya menghardik, "Di mana handphone milik gue dan milik Ipul yang udah loe ambil." Kemudian Hendrik memberikan dua handphone yang ia pegang kepada Ziva. "Tapi gue mohon ... Tolong berhenti mukuli gue," pinta Hendrik. Ziva langsung berhenti menghajar Hendrik.

Suci Dalam Debu (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang