Zayn menatap tajam ke arah Ziva. "Loe harus bertanggungjawab atas semua ini!" geram Zayn. Ziva menangis sejadi-jadinya, Ikbal yang tak tega melihat Ziva dengan sigap ia menenangkan Ziva. "Loe jangan nangis ... Semuanya sudah menjadi takdir jalan hidup loe dan gue harap loe bisa bertanggungjawab atas perbuatan loe sendiri," ucap pelan Ikbal sekaligus mengusap pundak Ziva.
Zayn memukul tembok sekaligus nangis, bahkan ketika ia hendak keluar dari kamar di kala itu Zayn menutup pintu dengan sangat kuat. "Antarkan gue ke kantor polisi, Bal," pinta Ziva kepada Ikbal.
Ikbal menjawab, "Mari, gue antarkan." Reyhan celetuk, "Gue ikut." Ikbal memperbolehkan Reyhan ikut bersamanya. Mereka bertiga bergegas keluar, Ziva di topang oleh Ikbal untuk berjalan. Ketika hendak keluar, Ikbal melihat Zayn yang sedang duduk merenung. Raut wajah Zayn begitu tampak kesal, meskipun tidak menatap ke arah Ziva dan Ikbal.
Ikbal membiarkan Zayn menenangkan diri. Reyhan teriak, "Lama banget loe, Bal. Cepat, gue tunggu di luar ini dari tadi." Ikbal menyahut, "Sabar, ini juga mau keluar gue sama Ziva." Mereka mengendarai sepeda motor masing-masing, kecuali Ziva yang di boncengi oleh Ikbal. Sedangkan Reyhan mengendarai sepeda motornya sendiri.
Sekitar hampir setengah jam, mereka sampai di kantor polisi. Ikbal dan Reyhan memarkirkan sepeda motornya di parkiran yang sudah tersedia di sana. Ziva berjalan di topang kembali oleh Ikbal, mereka bertiga berjalan masuk ke dalam kantor polisi pada pukul jam lima pagi. Untung saja, ada beberapa pihak kepolisian yang berada di sana. Ziva menyerahkan dirinya kepada polisi dan menjelaskan semua perbuatan yang ia lakukan terhadap teman-temannya.
Tiba-tiba saja handphone Ikbal berbunyi. "Ck, siapa sih yang telepon," decak Ikbal. Ketika ia lihat, ternyata Zayn menghubunginya. Langsung saja Ikbal menjawab panggilan telepon Zayn.
"Halo, Bal."
"Kenapa? Gue lagi di kantor polisi."
"Ada keperluan apa loe ke sana?"
"Bukan gue sih, gue cuma mengantarkan Ziva ke sini."
"Dia menyerahkan diri ke polisi?"
"Iya, Ziva lagi menyerahkan dirinya ke polisi."
"Bagus deh."
"Lo kapan nyusul ke sini?"
"Ini gue mau nyusul, tapi kantor polisi yang dekat dari gedung itu, kan?"
"Iya, di situ. Udah loe sini aja cepetan."
"Gue otw."
Panggilan telepon langsung di tutup oleh Ikbal, kemudian Ikbal duduk di samping Reyhan. "Loe lagi teleponan sama siapa?" tanya Reyhan. Ikbal menjawab, "Biasa, Ziva. Dia nanyain gue terus gue kasih tahu semua. Oh, iyaa. Zayn mau nyusul kita ke sini dan sekarang dia lagi otw." Reyhan hanya diam saja tanpa berkata-kata.
Sedangkan Ziva berbicara dengan Polisi untuk mengakui kesalahannya. Ziva berkata, "Permisi, Pak. Saya datang ke sini untuk menyerahkan diri saya sendiri karena sudah melakukan pembunuhan terhadap orang lain." Polisi bertanya, "Jelaskan kronologis yang kamu lakukan terhadap korban?" Ziva terdiam sejenak lalu lanjut menjelaskan, "Saya sudah meracuni tiga teman saya sendiri melalui kopi yang sudah saya buatkan hanya karena dendam saya terbalaskan kepada satu orang teman saya, bernama Ipul. Sekaligus saya menuduh Ipul pelakunya, padahal saya yang melakukannya. Tetapi Ipul sudah wafat karena kecelakaan tunggal sehari yang lalu."
Polisi mencatat kejadian pembunuhan yang di lakukan oleh Ziva, setelah di catat hasilnya akan di rekap. "Kamu tidak boleh pulang hari ini sampai kamu mendapatkan hukuman sesuai peraturan negara," usul Polisi. Ziva dengan pasrahnya menjawab, "Baik, Pak." Ziva langsung menghampiri Ikbal yang sedang bersama Reyhan, kemudian Ziva duduk di samping Ikbal. "Gue di tahan oleh polisi dan gak di perbolehkan pulang," ucap Ziva. Ikbal menjawab, "Nggak apa-apa. Gue salut sama loe, sekarang loe mengakui kesalahan dari perbuatan loe sendiri. Sehingga bertanggungjawab sampai loe berani menyerahkan diri loe ke polisi."
Ziva tersenyum menatap Ikbal dan Reyhan sekaligus menitihkan air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
General FictionBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
