Merasa Bersalah

89 90 30
                                        

Ziva merasa bersalah dengan kematian Ipul. "Gue benar-benar sangat menyesal dengan perbuatan gue selama ini," batin Ziva. Di kala itu, Zayn benar-benar merasa terpukul ketika mengetahui satu orang temannya tewas karena kecelakaan tunggal. "Kita sudah kehilangan empat teman dalam waktu yang bersamaan," celetuk Zayn.

Mereka semua yang berada di sana benar-benar merasa sangat kehilangan, bahkan lemas tak berdaya setelah mengetahui kabar kematian Ipul dan tiga orang temannya yang mengalami keracunan. "Sudahlah, kawan. Kita pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan," ujar Ikbal menenangkan teman-temannya yang lain.

Tatapan Ziva berubah menjadi kosong sekaligus mengalir air matanya pada ke dua pipinya. Ziva merenung dan melamun memikirkan kesalahannya yang sangat fatal, ia benar-benar merasa bersalah dengan kejadian yang pernah ia lakukan. "Gue sudah membunuh empat nyawa ... Di setiap nyawa merupakan teman dekat gue sendiri," batin Ziva berkata-kata.

Ziva tak kuat menahan rasa kesal dan menyesal yang ia alami menjadi satu. "Ini semua salah gue!" teriakan Ipul membuat orang-orang terkejut dan bikin geger. Zayn dan Ikbal langsung menghampiri Ziva sekaligus menenangkannya. "Tenang, Bro. Ini semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa dan ini semua bukan salah loe," ucap Ikbal menenangkan Ziva.

"Coba loe tarik nafas lalu keluarkan," saran Zayn. Ziva langsung mengikuti saran dari Zayn, selama beberapa kali Ziva menarik nafas. "Sekarang gimana? Sudah lega?" tanya Zayn memastikan. Ziva hanya memberikan isyarat bahasa tubuh hanya dengan menganggukan kepalanya saja. Ikbal dan temannya yang lain merangkul Ziva agar pikirannya tenang.

Ikbal mengajak temannya yang lain. "Siapa yang mau ikut ke tempat kejadian Ipul kecelakaan? Kalau ada yang mau ikut katakan saja dari sekarang," ajaknya. Ziva dan temannya yang lain serentak menjawab, "Kita semua ikut." Ikbal tersenyum kemudian bersiap-siap pamit kepada pihak keluarga Rafi, Agung, dan Putra.

"Kami semua izin keluar ... Ada urusan sebentar," pamit Ikbal. Dari pihak keluarga Rafi, Putra, dan Agung mengizinkan Ikbal beserta teman-temannya pergi.

"Yasudah, hati-hati di jalan, Ikbal."

"Baik, Om. Terimakasih."

Ikbal bersama yang lain bergegas keluar dari rumah sakit, lalu menuju parkiran. Kemudian mereka mengendarai sepeda motor masing-masing dengan berboncengan pada satu kendaraan di setiap masing-masingnya.

Ketika di dalam perjalanan, Ziva hanya merenung dengan tatapan kosong. Banyak pikiran yang ia pikirkan, Ziva merasa bersalah dan menyesal dengan perbuatannya yang ia lakukan kepada Ipul hanya karena dendam semata. Ziva di boncengi oleh Zayn.

Zayn tersadar jika Ziva dari tadi hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata dengan dirinya. Zayn bertanya, "Loe kenapa merenung terus? Gue lihat-lihat sepertinya loe sedang banyak pikiran, yak?" Sontak saja Ziva tersadar dari lamunannya. "Tadi loe bilang apa, Zay? Gue lagi gak fokus, Sorry banget nih," ujar Ziva.

Zayn hanya menggelengkan kepalanya saja. "Ulangi lagi tadi loe bilang apa ke gue?" tanya Ziva penasaran. Zayn kembali bertanya, "Tadi gue bilang ke loe, Bro. Sepertinya loe sedang banyak pikiran sampai gue lihat-lihat melamun terus." Ziva memberikan alasan dengan berdalih, "Hmm anu, gue hanya kepikiran aja dengan kabar kematian Ipul. Gue ngerasa sedih aja sih coba loe bayangkan kita baru saja kehilangan tiga teman dan dalam waktu bersamaan satu teman kita tewas." Zayn hanya terdiam dan tidak merespon jawaban Ziva.

Ziva benar-benar di hantui oleh rasa bersalah di dalam hati dan pikirannya. Ia merasa tidak tenang dengan semua yang terjadi.

Suci Dalam Debu (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang