Sedangkan Ziva di antarkan ke kampung halamannya bersama anggota Polisi yang mendampinginya. "Kampung halamanmu terletak di daerah apa?" tanya Polisi memastikan, agar tidak tersesat di jalan. Ziva memberitahukan alamat lengkap kampung halamannya kepada Polisi. "Di daerah Jawa Barat Desa Sukarsari," ucap Ziva.
Polisi itu membuka maps yang ada di handphonenya. Ia mencari alamat tujuan yang diberikan oleh Ziva. "Oke. Sudah ketemu," ujar Polisi. Handphone yang di pegang kemudian di letakkan di tempat khusus penyimpanan handphone untuk membantu arah jalan yang ingin di tuju. Sangat banyak beban pikiran yang Ziva pikirkan, terutama keluarga besarnya. Ia takut dibenci oleh keluarganya sendiri, jika mereka mengetahui semua tentang dirinya. Ziva seringkali melamun dengan tatapan kosong di dalam mobil.
"Heeii...," teriak Polisi dengan sengaja. Sehingga membuat Ziva terkejut. "Kenapa melamun saja?" tanyanya. Ziva menyahut, "Nggak apa-apa." Polisi yang berada disamping menatap Ziva dengan tatapan kasihan. "Saya tahu jika kamu sedang bersedih dan banyak pikiran yang terpikirkan," ucap Polisi itu. Ziva menahan rasa sesak dadanya. Ia tak mampu menjawab ucapan Polisi yang telah terlontarkan kepada dirinya.
Ziva sangat terpuruk, air matanya sudah hampir saja jatuh dan menetes. Namun, ia menahan segala kesedihannya sendiri agar tidak menangis di hadapan Polisi. "Nggak apa-apa ... Tumpahkan saja air matamu itu," ujar Polisi kepada dirinya. Ziva tak kuasa menahan kesedihannya. Ia menitihkan air mata tanpa bersuara, dada Ziva terasa sangat sesak. "Saya khawatir dengan keluarga di kampung," ucap Ziva. Polisi yang berada disamping Ziva langsung menenangkannya. "Tarik nafas dulu lalu keluarkan kembali. Tenangkanlah pikiranmu itu dan jangan takut yang penting kamu sudah berani bertanggungjawab pastinya mereka akan bangga punya anak sepertimu yang berani tanggungjawab atas perbuatanmu itu," usulan Polisi menenangkan Ziva. Hati dan pikiran Ziva sedikit tenang dengan hal itu, akan tetapi rasa ketakutan dan kekhawatirannya belum hilang.
Ziva masih memikirkan tentang perbuatan dan kesalahan yang ia lakukan sampai membuat tiga nyawa temannya melayang. Hampir dua jam perjalanan, mereka sampai di daerah Jawa barat. Lalu melanjutkan perjalan ke desa sukarsari, Ziva melihat pemandangan di daerah tersebut dari dalam mobil. "Baru sekarang aku kembali lagi ke sini," gumam Ziva dalam batin.
Sesampainya di desa sukarsari, Ziva menunjukkan arah jalan rumah orangtuanya. Jalanan yang rusak dan rumah warga yang sangat sederhana, akan tetapi lingkungannya begitu sangat asri dan alami. Ketika sudah sampai di tempat tujuan, Ziva melihat banyak tetangga yang sedang berkumpul di teras halaman depan rumah orangtuanya.
Ziva keluar dari dalam mobil, di dampingi oleh beberapa Polisi. Ziva melihat Ibunya sedang mengobrol bersama para tetangganya. Ziva bersalaman kepada tetangganya, kemudian memeluk Ibunya. Ke datangan Ziva disambut dengan baik oleh mereka. Ibu terlihat khawatir ketika menatap wajah Ziva. "Wajahmu kenapa? Sampai diperban gitu?" tanya sang Ibu dengan perasaan khawatir. Ziva tersenyum menatap Ibu seraya menjawab, "Nggak apa-apa, udah sekarang Ibu tenang saja." Ibu keheranan ketika melihat Ziva di dampingi oleh beberapa orang.
Polisi yang berpakaian layaknya warga, menyapa para tetangga yang berkumpul di depan teras rumah. "Lagi pada kumpul nih," sapanya. Salah satu di antara mereka menjawab, "Iya, Mas." Kemudian Polisi menyusuli Ziva yang sedang bersama Ibunya.
Ibu menatap ke arah Polisi. "Mereka siapa?" tanyanya kembali. Ziva menyarankan kepada sang Ibu agar mengobrol lebih lanjut di dalam rumah. "Nanti kita bicarakan di dalam saja, Buk. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan," pinta Ziva. Ibu menyetujui permintaan Ziva dan mempersilakan orang-orang yang mendampingi Ziva masuk ke dalam rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
General FictionBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
