Ikbal menyetujui usulan Zayn. Kemudian Zayn bergegas keluar untuk membelikan obat pereda memar di sebuah apotek, Ikbal meminta tolong kepada Reyhan agar menjaga Ziva di dalam kamar. "Loe jaga dia di sini dulu, yak. Gue mau masak air hangat buat kompresi luka memarnya Ziva. Nggak lama-lama cuma sebentar saja," pinta Ikbal. Reyhan menjawab, "Yasudah gue yang akan jaga Ziva di sini."
Ikbal bergegas ke dapur untuk memasak air, sedangkan Reyhan menjaga Ziva di dalam kamar seorang diri. Setelah lima menit menunggu, Ikbal datang ke kamar dan menghampiri Ziva serta Reyhan dengan membawa baskom yang berisi air hangat sekaligus selembar kain berukuran kecil. "Udah sadar belum?" tanya Ikbal memastikan. Reyhan menjawab, "Belum."
Ikbal mengompresi luka memar di bagian wajah Ziva. "Loe ada-ada saja, Ziv. Sebenarnya apa yang terjadi sampai loe seperti ini," celetuk Ikbal. Tak lama kemudian, Zayn datang menghampiri mereka bertiga dengan membawa plastik yang berisikan obat serta beberapa makanan yang ia beli. "Ini makanan buat nanti kita makan bersama ... Sekalian tadi gue beli pas pulang dari apotek," ujar Zayn.
Zayn memberikan saran, "Ini obatnya. Nanti kalau Ziva sudah sadar langsung beri minum obat ini." Zayn memberikan obat kepada Ikbal agar di berikannya untuk Ziva. Setelah hampir lima jam, Ziva langsung tersadar kembali dari pingsannya. "Kepala gue pusing banget," rintihan Ziva menahan sakit. Zayn menyahut, "Sekarang loe istirahat dulu jangan banyak gerak sampai loe benar-benar sembuh."
Ikbal bergegas pergi ke dapur. "Loe mau ke mana?" tanya Zayn. Ikbal menjawab, "Gue mau ke dapur ambil air putih buat Ziva minum obat." Zayn mempersilakan Ikbal. "Gue mau nanya ke loe," ucap Zayn. Ziva memegang kepalanya seraya bertanya, "Tanya aja gue persilakan." Zayn menghela nafas panjang lalu balik bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa?" Ziva langsung menangis sejadi-jadinya. "Loe kenapa nangis?" tanya Zayn keheranan.
Ziva hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa berbicara. "Gue nggak tahan di teror terus menerus seperti ini," keluh Ziva. Ikbal penasaran dengan perkataan Ziva. "Maksud loe?" tanyanya. Ziva menarik nafas panjang kemudian menjawab, "Sebenarnya ada yang ingin gue sampaikan semuanya ke loe tapi gue gak berani."
Zayn, Ikbal, dan Reyhan sangat penasaran dengan Ziva yang telah menyembunyikan sesuatu darinya. "Kenapa? Coba loe ceritakan saja," pinta Ikbal. Ziva berani mengakui kesalahannya di hadapan teman-temannya yang lain. Ziva menjelaskan, "Sebenarnya kematian tiga teman kita itu bukan salah Ipul tetapi salah gue yang mencampurkan racun ke dalam kopi ... Gue dendam dengan Ipul hanya gara-gara judi dan gue sakit hati." Zayn memotong penjelasan Ziva. "Oh, jadi loe ulah dari semuanya?!" murka Zayn hampir meledak.
"Udah loe tenang dulu dan biarkan Ziva melanjutkan penjelasannya ... Sekarang loe lanjutkan," ujar Reyhan mempersilakan Ziva. Ziva kembali menjelaskan, "Gue yang mencampurkan racun ke dalam setiap kopi yang sudah di sediakan ... Gue yang suruh Ipul untuk mengantarkan kopi itu kepada mereka bertiga." Zayn sangat kecewa kepada Ziva dan ia tidak menyangka jika Ziva tega berbuat demikian sehingga merenggut nyawa tiga temannya sendiri.
"Gue nggak nyangka, sumpah. Loe jahat banget, Ziv. Tega loe membunuh teman loe sendiri hanya karena nafsu dendam loe kepada Ipul, bahkan Ipul juga kehilangan nyawanya asal loe tahu itu!" geram Zayn. Ziva menitihkan air mata seraya menjawab, "Gue tahu ini semua salah gue dan asal loe tahu, gue udah nggak kuat di teror oleh arwahnya Ipul yang seringkali mengganggu gue. Gue akan bertanggungjawab dengan semua ini, gue akan menyerahkan diri ke kantor Polisi dan mengakui kesalahan gue di hadapan semua orang termasuk keluarga gue dan keluarga korban yang sudah gue bunuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
General FictionBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
