Ziva sangat terpuruk dengan keadaan yang ia alami. Akan tetapi Ziva diberikan kesempatan untuk bebas oleh kuasa hukum selama lima hari, sebelum di hukum mati. Setelah mendapatkan hukuman, Ziva meminta kepada pihak Polisi untuk mengantarkan dirinya kepada keluarga besarnya yang berada di kampung halaman. "Permisi, Pak. Bolehkah saya izin pulang ke kampung halaman? Saya ingin bertemu dengan keluarga besar saya sebelum ajal saya tiba," pinta Ziva. Salah satu dari anggota kepolisian menjawab, "Baiklah, akan tetapi kamu masih berada dalam pengawasan hukum dan beberapa dari kami akan mengantarkanmu sekaligus mendampingimu untuk bertemu dengan keluargamu."
Ziva langsung keluar dari ruang sidang, ia di dampingi oleh beberapa Polisi dan di susul oleh tiga temannya. Ziva terkejut ketika ia melihat sudah banyak orang yang sedang menunggu di sana. Tiba-tiba saja dua di antara mereka laki-laki paruhbaya datang menghampiri Ziva, tanpa berlama-lama mereka langsung memukuli Ziva di saat itu juga. "Anak sialan! Pembunuh!" murkanya.
Dengan sigap, Polisi yang sedang mendampingi Ziva ikut turun tangan untuk memisahkan kericuhan yang terjadi. "Sudah! Jangan main hakim sendiri! Selesaikan secara baik-baik dan sebenernya kalian siapa? Kenapa kalian main hakim sendiri?"
Dua laki-laki paruh baya itu berhenti memukuli Ziva. "Dia yang membunuh anak kami ... Seharusnya dia yang mati bukan anak kami," geram di antara laki-laki tersebut. Polisi menjawab, "Sudah! Hentikan." Ziva langsung di angkat lalu ditopang oleh Polisi yang membantunya berjalan. "Jangan main hakim sendiri! Udah, kalian tenang dulu. Ziva sudah diberi vonis hukuman mati," ujar salah satu Polisi.
Mereka semua terdiam. Salah satu di antara keluarga korban berceletuk, "Puji Allah yang maha kuasa." Suasana di kala itu berubah menjadi bahagia. "Syukurlah, jika ada keadilan hukum di Indonesia. Nyawa harus di bayar dengan nyawa juga," ujarnya.
Keluarga Rafi, Putra, Agung, dan Ipul langsung bergegas menghampiri Ikbal. "Terimakasih, Mas Ikbal. Sudah memberitahu kepada kami tentang hal ini," ucapnya. Ikbal tersenyum menatap mereka seraya menjawab, "Nggak apa-apa. Saya sangat senang memberitahu informasi mengenai hal ini kepada kalian." Keluarga Rafi memberikan hadiah berupa uang kepada Ikbal, akan tetapi Ikbal menolak. "Tidak usah, Pak. Saya ikhlas membantu kalian," tutur Ikbal. "Kamu memang orang baik."
Ikbal berpamitan, "Permisi, Pak, Buk. Saya harus menyusuli teman-teman saya." Mereka mempersilakan Ikbal.
Ikbal berlari kecil menghampiri teman-temannya yang hampir jauh dari pandangan. "Loe dari mana aja, Bal?" tanya Zayn. Ikbal menjawab, "Gue tadi di datangi keluarga almarhum ... Gue di kasih uang sama mereka tapi gua tolak." Zayn menepuk jidat seraya berkata, "Kenapa nggak loe ambil aja? Lumayan buat jajan." Ikbal kembali memberikan jawaban, "Gue ikhlas membantu orang tanpa harus menerima hadiah dan berharap imbalan dari mereka." Zayn dan Reyhan sangat salut dengan kebaikan Ikbal.
"Loe benar-benar teman gue yang paling the best," puji Zayn. Ikbal menjawab dengan ketus, "Apaan sih loe. Gue nggak suka di puji begitu." Zayn menepuk pundak Ikbal sekaligus tersenyum kagum menatapnya.
Sedangkan Ziva dilarikan ke puskesmas untuk diobati wajahnya yang memar. "Cepat jalannya ... Kita harus ikuti Ziva kasihan juga dia kalau tidak ada yang menemani," usul Ikbal. Mereka bertiga berjalan ke puskesmas. Di sana Ziva diobati oleh perawat dan diberikan salep pereda luka memar. Ziva meringis menahan sakit, bahkan wajah Ziva yang diperban hanya dibagian luka yang ada darahnya saja.
Selesai diobati, Zayn dan Reyhan serta Ikbal menghampiri Ziva. Mereka bertiga duduk di samping Ziva yang sedang terbaring di kasur khusus pasien. "Gimana? Masih sakit nggak?" tanya Zayn memastikan. Ziva menjawab, "Cuma perihnya aja masih terasa." Zayn menyarankan agar Ziva beristirahat terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
Ficción GeneralBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
