Ziva sangat senang ketika memboncengi Icha dengan sepeda motornya yang ia bawa. Ziva bergumam, "Sekarang loe sudah jadi milik gue dan nggak ada satupun laki-laki yang rebut loe dari gue." Icha memeluk Ziva.
Ziva merasakan kasih sayang seorang wanita, terlebih lagi wanita yang ia cintai. Di sepanjang jalan, Icha memberitahu arah jalan menuju tempat tinggalnya. Sekitar satu jam perjalanan, Icha menyarankan agar Ziva berhenti di depan gang. Icha berkata, "Sudah sampai sini saja." Ziva bertanya, "Kenapa tidak sekalian saja aku mengantarkan kamu sampai depan halaman kosan?" Icha menjawab, "Tidak tepat ... Di sini banyak tetangga yang usil dan suka mengghibahi orang lain." Ziva menuruti perkataan Icha.
Ziva berpamitan, "Yaudah aku pulang dulu." Icha memberikan nasihat, "Hati-hati di jalan." Ziva hanya tersenyum menatap Icha. Kemudian Ziva mengendarai sepeda motor dan bergegas pulang ke kontrakan yang ia tempati. Di dalam perjalanan, Ziva meningkatkan kecepatan dalam berkendara. Hampir saja, dirinya kecelakaan dan menabrak orang lain yang sedang lewat dari arah samping.
Dengan sigapnya, Ziva bisa mengendalikan arah dalam berkendara sehingga tidak ada satupun orang lain yang di rugikan oleh dirinya. Sekitar tiga puluh menit, Ziva sampai di halaman area depan kontrakan. Seperti biasa, ia memarkirkan sepeda motornya di depan halaman kontrakan. Kemudian Ziva masuk ke dalam, menghampiri teman-temannya yang masih berkumpul. Ikbal bertanya, "Gimana? Lancar nggak mengantarkan ayang beb pulang?" Ziva menghela nafas seraya menjawab, "Lancar tapi cuma berhenti di depan gang aja sesuai permintaan dia." Ipul penasaran tentang Icha.
Ipul memberanikan diri untuk bertanya tentang Icha kepada Ziva. Ipul bertanya, "Bro, loe pacarnya Icha, kan?" Ziva menjawab, "Iya." Ipul kembali bertanya, "Rumahnya Icha di daerah mana sih?" Ziva tidak menjawab pertanyaan Ipul. Ia hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata.
Ziva mencurigai Ipul yang tidak biasanya menanyakan tentang Icha yang sudah menjadi kekasihnya. Ziva bergumam di dalam batin, "Ada apa dengan perasaan, Ipul? Nggak seperti biasanya dia bertanya-tanya tentang cewek gue." Ikbal bertanya kepada Ipul. "Loe punya rasa kagum sama Icha?" tanyanya. Ipul berdalih, "Apaan sih loe ... Icha sudah punya Ziva dan mana mungkin gue ada rasa kagum sama cewek yang udah milik orang lain."
Di saat itu, Ziva menghubungi Icha melalui telepon. Ziva menunggu Icha agar menjawab telepon darinya. Sekian lama menunggu, Icha menjawab dan mengangkat telepon dari Ziva. Mereka berdua saling bercakap-cakap melalui telepon.
"Halo, dengan siapa?" tanya Icha.
"Sayang ... Ini aku pacarmu," jawab Ziva.
"Oh ternyata kamu aku kira siapa," ucap Icha.
"Yasudah sekarang simpan nomorku di kontak handphonemu ... Agar aku mudah menghubungimu," saran Ziva.
"Sayang...," panggil Icha.
"Kenapa sayang?" tanya Ziva.
"Aku masih rindu banget sama kamu," ungkapan Icha kepada Ziva.
"Nanti malam kamu bisa keluar nggak?" tanya Ziva.
"Sepertinya nggak deh ... Soalnya aku ingin istirahat saja di kosan," ucap manja Icha.
"Yaudah nggak apa-apa ... Sekarang kamu istirahat saja dan jangan bergadang jaga pola makannya yang teratur dan jangan mabuk dulu untuk sekarang," saran Ziva.
Icha menuruti saran-saran dari Ziva. Mereka berdua berbincang-bincang sejenak, kemudian Icha berpamitan kepada Ziva untuk beristirahat. Ziva mempersilakan Icha, dan telepon langsung di matikan oleh Icha. Ziva terlihat sangat bahagia ketika dirinya mengobrol kembali dengan wanita yang ia cintai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
General FictionBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
