Rutinitas Keseharian

108 111 3
                                        

Irfan meletakkan gelas satu persatu dan menuangkan air putih ke dalam gelas masing-masing yang sudah tersedia di hadapannya. Kemudian Ziva mengambil satu gelas lalu langsung di minum dengan sekali tenggukan saja air putih segelas penuh dalam sekejap habis tak tersisa.

Irfan menawarkan, "Loe haus lagi nggak? Kalau haus gua tuangkan lagi air putih ke dalam gelas loe." Ziva menjawab, "Tuangkan saja biar penuh." Irfan menuangkan air putih kembali ke dalam gelas milik Ziva. Irfan langsung meletakkan botol aqua besar yang berisikan air putih penuh di hadapan teman-temannya. "Kalau loe haus lagi ... Silakan saja ambil dan tuangkan ke dalam gelas kalian masing-masing," saran Irfan.

Ziva menuangkan kembali air putih ke dalam gelas, kemudian meminumnya sampai habis tak tersisa. Ipul yang melihat Ziva sampai habis empat gelas hanya menggelengkan kepala saja. "Teman gue kesurupan apaan dia sampai habis empat gelas masih saja kehausan," gumam Ipul dalam batin.

Irfan penasaran dengan Ziva yang tak seperti biasanya. "Sebenarnya loe haus kenapa sih? Udah sampai enam gelas penuh loh diri loe minum air putih," ucap Irfan bertanya kepada Ziva.

"Gue juga nggak tahu tapi yang gue rasakan cuma haus aja."

Ziva merespon pertanyaan Irfan, mengenai dirinya yang tidak seperti biasanya.

Irfan kembali bertanya, "Sekarang loe sudah nggak haus lagi atau masih haus?" Ziva menjawab, "Sudah nggak." Di kala itu Ikbal melihat jam yang ia gunakan di tangan kanannya. "Sekarang sudah jam berapa, Bal?" tanya Ipul. Ikbal menjawab, "Sudah jam satu pagi." Sontak saja Ziva terkejut ketika mendengar jawaban dari Ikbal. "Loh, kok cepat banget waktunya. Padahal tadi masih jam sembilan malam nggak terasa banget sudah jam satu pagi aja," tukas Ziva.

Tiba-tiba saja Ziva merasakan kantuk di susul oleh Ipul kemudian Ikbal di lanjut oleh Putra dan seluruh temannya yang lain satu persatu. "Gue tidur duluan ... Penglihatan ke dua mata gue udah nggak kuat ingin tidur aja," keluh Ziva. Ikbal menjawab, "Tidur saja ... Gue juga siap-siap untuk tidur." Ziva bergegas masuk ke dalam kamar dan di susul oleh empat orang temannya. Sisa temannya yang lain tidur di ruang tamu beralas tikar, mereka semua tertidur pulas.

Sekitar jam sembilan pagi, Ziva terbangun dari tidurnya. Kemudian ia langsung bergegas ke kamar mandi, sedangkan teman-temannya yang lain masih tertidur nyenyak. Selesai ke kamar mandi, Ziva membangunkan teman-temannya satu persatu. "Bangun ... Udah siang," ucap Ziva membangunkan teman-temannya. Di antara sebagian dari mereka sudah terbangun dari tidur, yang lainnya masih tertidur pulas. "Ipul belum juga bangun," ujar Ikbal. Ziva menyahut, "Nanti juga dia bangun."

Ziva menyuruh Putra untuk membelikan sarapan nasi kuning. "Bro ... Loe beli sarapan nasi kuning yaa? Di mamang yang jualan di pinggir jalan," pinta Ziva sekaligus memberikan uang kepada Putra. Putra bertanya, "Berapa bungkus?" Ziva menjawab, "Tiga belas bungkus saja." Putra meminta untuk di antarkan oleh Zayn. "Anterin gue beli nasi kuning," pinta Putra. Zayn menjawab, "Gas aja." Zayn dan Putra bergegas keluar dari kontrakan dan berjalan kaki untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Sedangkan Ziva dan yang lain menunggu di dalam kontrakan.

Putra dan Zayn langsung memesan tiga belas bungkus nasi kuning.
"Mang, tiga belas bungkus, yak," pesan Zayn. Penjual nasi kuning menjawab, "Siap." Zayn dan Putra duduk di kursi yang sudah tersedia sekaligus menunggu.

Sekitar sepuluh menit menunggu, penjual nasi kuning memberikan tiga plastik besar yang berisi tiga belas bungkus nasi dalam tiga plastik. "Kembaliannya buat mamang aja," ujar Putra. Penjual menjawab, "Terimakasih banyak." Zayn dan Putra merespon dengan senyuman sekaligus menatap penjual nasi kuning.

Kemudian Zayn dan Putra bergegas menuju kontrakan. Sesampainya, Zayn dan Putra masuk ke dalam kontrakan lalu menghampiri Ziva dan teman-temannya yang sedang menunggu.

Suci Dalam Debu (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang