Rencana Pembunuhan

101 95 7
                                        

Ziva mengepal tangan kanannya di sertai muka yang sangat bengis dan sinis menatap Ipul, ia tak kuasa menahan rasa geramnya kepada Ipul. "Coba loe ucap sekali lagi ... Gue mau dengar dari ucapan loe itu," ujar Ziva. Ipul hanya diam saja dan tak menggubris ucapan Ziva yang memancing dirinya untuk murka.

Agung, Zayn, Putra, dan Rafi memisahkan Ziva dari Ipul. Agung berkata, "Udah woi ... Kita semua udah dewasa dan bukan anak kecil lagi." Ziva menyahut, "Loe nggak usah ikut campur." Agung menggelengkan kepalanya kemudian menjawab, "Dewasa sedikit, Ziv. Kelakuan loe seperti anak kecil tahu gak?" Ziva sudah sangat emosi kepada teman-temannya. "Loe semua bajingan, Asu!" bentak Ziva.

Ipul dan Putra hanya bisa mengelus dada melihat tingkah laku Ziva yang tak bisa mengontrol emosi. Ziva langsung bergegas ke dalam kamar dengan membawa uang hasil taruhan judi, ia ketika di dalam kamar meluapkan rasa emosinya. Ziva berteriak, "Anjing! Semuanya nggak ada guna sama sekali, Jancok!" Suara teriakan Ziva terdengar oleh teman-temannya sampai ke area ruang tamu. Ipul berdiri untuk menghampiri Ziva, dengan sigap Agung mencegah Ipul agar tetap bersamanya. "Loe nggak usah cari masalah lagi ... Biarkan saja Ziva sendiri di dalam kamar dia lagi meluapkan rasa emosinya," pinta Agung.

Ipul menuruti permintaan Agung, dan ia tidak jadi menghampiri Ziva. Tiba-tiba saja semua teman-temannya, di kejutkan oleh barang pecah di dalam kamar. Agung berkata, "Barang apalagi yang Ziva pecahkan kalau lagi ngamuk? Harus kita tenangkan aja dulu Zivanya." Mereka semua sepakat, dan bergegas masuk ke dalam kamar. Agung melihat Ziva yang sedang terduduk dengan tatapan dendam sekaligus mengepal tangannya. "Ngapain loe semua ke sini? Belum puas buat gue seperti ini?" sesal Ziva. Agung menjawab, "Loe tenang dulu jangan negatif thinking ... Kita semua ke sini ingin menenangkan hati dan pikiran loe." Ziva dengan nada tinggi membentak, "Nggak usah! Lebih baik loe semua keluar! Dan tinggalkan gue sendiri di sini."

Agung dan Ipul beserta teman-temannya yang lain saling bertatapan wajah satu sama lain, mereka langsung keluar dari kamar dan bergegas kembali ke ruang tamu. Kemudian Zayn terbangun dari tidurnya dan langsung terduduk, Zayn melamun beberapa menit. Ia terlihat kebingungan ketika menatap wajah teman-temannya yang terlihat sangat panik. "Loe semua pada kenapa? Gue lihat-lihat muka loe panik begitu memangnya ada apa sih?" tanya Zayn memastikan.

Agung menjelaskan, "Biasa Ziva ngamuk lagi ... Semua barang dia hancurkan." Zayn kembali bertanya, "Astagfirullahalazim ... Dia ngamuk kenapa lagi? Udah di tenangkan?" Putra menyahut, "Udah kami tenangkan tapi dianya membentak dan menyuruh kita semua pergi." Zayn terdiam dan menggelengkan kepalanya sekaligus mengelus dada.

Sedangkan Ziva yang berada di dalam kamar seorang diri, ia merencanakan untuk membunuh Ipul secara diam-diam. Ziva memutar otaknya kembali, untuk melakukan aksinya agar tidak di ketahui teman-temannya yang lain. "Gue harus merencanakan untuk menyingkirkan Ipul dengan cara membunuh ... Tetapi bagaimana caranya agar yang lain tidak mengetahui jika gue yang membunuh Ipul," gumam Ziva dalam batin sekaligus memikirkan rencana yang akan ia lakukan.

Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Ziva membunuh tanpa menyentuh dengan menggunakan racun. "Udah paling benar membunuh tanpa ketahuan menggunakan racun secara diam-diam dan sembunyi tanpa ketahuan mereka," gumamnya kembali. Ziva tersenyum sinis dengan segala rencana yang sudah ia dapatkan.

Suci Dalam Debu (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang