Kemudian Ziva mengantarkan Icha pulang ke kosannya, akan tetapi seperti biasa Ziva mengantarkan Icha hanya sampai depan gang saja. "Aku minta maaf ... Aku lagi ada urusan sekarang," ujar Ziva. Icha bertanya, "Urusan apa?" Ziva menghela nafas seraya menjawab, "Kamu nggak perlu tahu ini urusan pribadiku ... Aku pamit pulang sekarang." Icha mempersilakan Ziva pulang. Di saat itu, perasaan Icha sangat tidak tenang dan benar-benar tidak enak tentang Ziva.
Icha berjalan menuju kosannya. Sedangkan Ziva, ia tergesa-gesa menuju kontrakan yang ia tempati. Ziva meningkatkan kecepatan berkendara sepeda motornya, bahkan ia tidak perduli dengan kendaraan lain yang lalu lalang melintas di dekatnya. Dalam perjalanan Ziva bergumam, "Lihat saja akan terbalas dendam gue ini." Sekitar dua puluh menit, Ziva sampai di depan halaman kontrakan.
Ziva memarkirkan sepeda motornya di sana, kemudian Ziva menyembunyikan bungkus plastik di dalam tempat persembunyian yakni di area kamarnya. Kemudian Ziva memasang wajah manis di depan teman-temannya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. "Bro," sapa Ziva. Seluruh teman-temannya yang sedang berkumpul terheran-heran dengan sikap Ziva yang menyapa mereka. Ikbal berbisik kepada Ipul. "Nggak seperti biasanya dia menyapa kita," bisiknya perlahan. Ipul berbisik seraya menjawab, "Mungkin moodnya sudah stabil kembali."
Agung menyahut, "Kenapa, Bro? Nggak seperti biasanya loe begini. Tadi marah-marah gak jelas, hahaha." Ziva tertawa lalu memberikan jawaban, "Santai aja ... Udah baikan lagi gue." Ziva dan teman-temannya yang lain mengobrol kembali seperti biasanya. Di saat itu Putra bertanya, "Loe udah berdamai sama Ipul?" Ziva kembali menjawab, "Gampang kalau soal itu." Dengan aksi drama yang di lakukan oleh Ziva, ia menghampiri Ipul. "Diem aja loe ... Kenapa? Sini cerita sama gue," tawaran Ziva mengajak Ipul untuk bercerita.
Ipul memiliki firasat yang tidak enak. Kemudian Ipul menyahut, "Nggak ada masalah apa-apa, Bro." Ziva langsung merangkul Ipul dengan hati yang penuh dendam. Di kala itu Ziva menawarkan kopi kepada teman-temannya. "Loe semua mau kopi nggak?" tawarnya. Agung, Putra, dan Rafi langsung menghampiri Ziva. "Kita bertiga mau kopi," ujar Putra. Ziva berkata, "Sangat tumben loe mau minum kopi." Putra hanya tertawa saja tanpa menjawab perkataan Ziva.
Kemudian Ziva mengajak Ipul. "Pul, ayo kita buatkan minuman kopi untuk mereka bertiga," ajak Ziva. Ipul sempat menolak ajakan Ziva, akan tetapi Ziva meluluhkan pikiran Ipul. Sehingga Ipul menuruti ajakan Ziva. Ziva dan Ipul langsung bergegas ke dapur. "Pul, loe yang buatkan kopi untuk mereka. Loe tunggu sebentar di sini dan gue mau ke kamar," pinta Ziva. Ipul menjawab, "Yaudah tapi loe ke sininya jangan lama-lama." Ziva menyahut, "Udah sekarang loe tenang aja." Ziva bergegas ke dalam kamar. Ia mengambil racun yang telah di sembunyikan di dalam laci dan tersimpan rapih di bungkus plastik.
Ziva menyembunyikan racun yang berukuran kecil di dalam saku celananya, dia langsung bergegas ke dapur menghampiri Ipul kembali. Ketika kopi sudah di buatkan oleh Ipul, kemudian Ziva menyuruh Ipul untuk mengambil barang miliknya di dalam kamar. "Tolong ambilkan topi gue di kamar," pinta Ziva. Ipul langsung bergegas ke dalam kamar dan mencari topi milik Ziva. Di saat itulah, Ziva memainkan aksinya. Ia menuangkan racun serangga satu persatu ke dalam kopi yang sudah di buatkan oleh Ipul. Ziva bergumam, "Mampus loe ... Nanti loe yang akan di salahkan orang lain kalau loe yang udah bunuh mereka dengan cara meracuni." Ziva tertawa jahat dengan senyuman sinis. Dengan sigap, Ziva menyimpan botol racun di dalam sakunya kembali.
Tiba-tiba saja Ipul datang membawa topi, kemudian Ipul memberikannya kepada Ziva. "Nih ... Topi milik loe," ucap Ipul. Ziva berkata, "Loe berikan aja kopi ini satu persatu untuk Agung, Putra, dan Rafi." Ipul memiliki feeling tak enak. Kemudian Ipul bertanya, "Gue sendiri yang berikan kopi ke mereka satu persatu?" Ziva menjawab, "Iyalah, loe yang bikin kopinya. Gue tunggu di ruang tamu sama mereka." Ziva langsung bergegas menghampiri teman-temannya. Di susul oleh Ipul dengan membawa dua cangkir yang berisi kopi, ia memberikannya kepada Agung dan Putra.
Kemudian Ipul berjalan ke arah dapur dan membawa satu cangkir yang tertinggal. Ipul membawa satu cangkir lalu di berikannya kepada Rafi, kemudian Ipul duduk dan mengobrol bersama teman-temannya. Agung, Putra, dan Rafi langsung menengguk kopi yang telah di buatkan oleh Ipul. Tiba-tiba saja mereka bertiga mengeluh sakit kepala dan perut, di sertai mual-mual. Teman-temannya yang lain ketika melihat kejadian itu, langsung menghampiri Putra, Agung, dan Rafi.
Setelah dua puluh menit dari kejadian itu, mereka bertiga langsung mengalami kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Sontak saja teman-temannya yang lain melihat kejadian itu merasa khawatir, panik, dan ketakutan. "Loe kenapa? Jangan bercanda bro," ujar Ziva dengan segala aksinya. Ikbal berkata, "Jangan-Jangan karena kopi ini." Ikbal langsung mengambil cangkir sekaligus mencium aroma kopi. "Baunya agak aneh dan benar-benar nggak enak," ucap Ikbal. Ziva menyahut, "Coba gue cium aroma baunya seperti apa." Ziva mengendus-endus nafasnya, kemudian ia mual-mual.
Zayn bertanya, "Di sini siapa yang bikin kopi ini?" Ipul terlihat panik lalu mengangkat tangannya. "Loe, Pul?" tanya Zayn. Ipul menganggukan kepalanya saja. Ipul merasa bersalah dengan semua teman-temannya. "Wah, parah loe sama teman sendiri benar-benar tega banget," celetuk Ziva.
Zayn berkata, "Loe harus tanggung jawab dengan semuanya kalau mereka bertiga kenapa-napa." Ipul terdiam seribu bahasa dan dirinya tidak menyangka jika kopi yang telah ia buatkan, membuat tiga temannya celaka.
Zayn memberikan saran kepada teman-temannya yang lain agar bergegas ke rumah sakit dan meminta pertolongan ambulance untuk mengantarkan teman-temannya yang sedang dalam kondisi terparah. "Gue yang akan ke rumah sakit," ucap Ikbal. Zayn berkata, "Cepat! Sekarang. Mereka kejang-kejang mulu dari tadi, gue khawatir kenapa-napa aja." Ikbal tergesa-gesa pergi ke rumah sakit terdekat seorang diri dengan mengendarai sepeda motor.
Tak sampai tiga puluh menit perjalanan, Ikbal sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan sepeda motornya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Di saja Ikbal meminta bantuan kepada khusus tim medis untuk membawa ambulance. "Permisi, saya minta tolong bawakan ambulance untuk tiga teman saya yang hampir sekarat. Kami butuh pertolongan tim medis sekarang dan ini menyangkut tiga nyawa manusia," pinta Ikbal.
Para suster langsung memberikan laporan kepada tim medis. "Sekarang alamatnya di mana?" tanya Suster. Ikbal menjawab, "Saya yang akan memberikan arahan alamatnya." Setelah menunggu, tim medis datang menghampiri Ikbal dan mereka bersama-sama bergegas ke arah tujuan. Ikbal menaiki mobil ambulance bersama tim medis, sepeda motornya ia tinggal di parkiran rumah sakit.
Ikbal memberikan arahan jalan ke alamat tujuan. Sesampainya di kontrakan, tim medis masuk ke dalam dan membawa tiga teman-temannya Ikbal yang masih mengalami kejang-kejang dengan mulut yang sudah banyak berbusa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
Ficción GeneralBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
