Kemudian Ziva kembali bertanya, "Di sini siapa yang ingin mengantarkan gue beli cemilan?" Ikbal menyahut, "Ayo sama gue aja." Ziva berkata, "Yaudah ayo berangkat." Ikbal dan Ziva bergegas keluar mengendarai sepeda motor berdua. Di perjalanan Ikbal bertanya, "Ini kita beli cemilan di mana bro?" Ziva menghela nafas dan menjawab, "Udah loe diam saja ... Nanti juga kita sampai di minimarket."
Seperti biasa, Ziva meningkatkan kecepatan dalam berkendara sepeda motor yang ia bawa. Ikbal merasa santai dan tenang saja tanpa berteriak. Ziva merasa aneh dengan Ikbal yang tidak takut jika di bonceng oleh dirinya. "Loe nggak takut kalau gue bawa motor secepat ini?" tanya Ziva. Ikbal tertawa seraya berkata, "Kenapa mesti takut? Loe bawa motor belum ada apa-apanya di banding gue yang bawa ... Gue sudah terbiasa seperti ini." Ziva langsung terkejut dengan perkataan Ikbal.
Ketika hampir sampai di tujuan, Ziva memarkirkan sepeda motornya di parkiran. "Loe mau ikut masuk bareng gue atau tunggu di sini saja?" tanya Ziva memberikan pilihan. Ikbal menjawab, "Gue ikut masuk bareng loe ... Sekalian nanti gue bantu pilih cemilan." Ziva mengizinkan Ikbal. Mereka berdua langsung bergegas masuk ke dalam minimarket. Ketika Ziva hendak membuka pintu, penglihatan Ziva tertuju kepada pengemis kakek yang sudah tua renta dengan pakaian yang kotor dan lusuh sedang meminta-minta di dekat pintu minimarket.
Ziva merasa kasihan dan tidak tega dengan kondisi pengemis tersebut. Tanpa berpikir lama, Ziva langsung memberikan uang sepuluh ribu kepada pengemis yang ada di hadapannya tanpa meminta kembalian. Ziva bergumam, "Di mana anak-anak dan sanak keluarga kakek itu? Kenapa di biarkan menjadi seorang pengemis? Gue jadi teringat dengan kakek gue yang ada di kampung." Ziva terlihat sedih namun ia berusaha tegar di depan salah satu temannya.
Ikbal memerhatikan Ziva. "Sepertinya Ziva menahan tangis ... Padahal gue ingin bertanya sesuatu khawatir dia tersinggung lebih baik diam saja dan menunggu situasi," gumam Ikbal dalam batin. Ziva memilih beberapa cemilan roti, nugget, es cream. Sedangkan Ikbal memilih beberapa minuman kopi, air putih aqua, teh manis, dan beberapa makanan ringan yang lainnya.
Dua keranjang yang ia bawa sudah sangat penuh dengan makanan dan minuman, Ziva langsung bergegas ke kasir untuk membayar seluruh belanjaan yang di bantu oleh Ikbal membawa satu keranjang yang ia bawa. "Total semuanya jadi dua ratus lima puluh ribu," ucap kasir yang sudah menghitung seluruh belanjaan pembeli. Ziva mengeluarkan uang lalu menghitungnya. "Uangnya ada seratus empat puluh ribu ... Kurang seratus sepuluh ribu lagi," celetuk Ziva. Dirinya tampak kebingungan untuk membayar seluruh belanjaan.
Ikbal memerhatikan uang Ziva yang kurang. Dengan sigap Ikbal mengeluarkan dompet dari dalam sakunya, kemudian mengeluarkan uang dan membayar total seluruh belanjaan. "Kalau miskin jangan beli di sini deh ... Untung saja ada yang bayar," ucap kasir minimarket. Ziva sangat geram dengan ucapan kasir. "Jaga mulut loe ... Untung loe perempuan kalau laki-laki udah gue hajar loe," geram Ziva. Ikbal berkata, "Sudah bro ... Jangan di tanggapi." Ziva menjawab, "Sorry banget bro gue kurang dana dan terimakasih udah mau talangin kekurangan totalnya."
Ikbal kembali tertawa dan mengatakan, "Santai saja, Ziv. Loe teman gue dan wajar aja jika gue talangi kekurangan dana yang loe butuhkan." Ziva merangkul Ikbal dan berjalan keluar menuju parkiran. Ziva membawa dua plastik besar yang berisi cemilan kemudian di bantu oleh Ikbal yang membawa salah satu plastik besar. "Bal, loe pegang saja plastik ini sampai kita ada di kontrakan dan satu plastik lagi gue simpan di cantolan motor depan," pinta Ziva.
Ikbal menuruti permintaan Ziva, sehingga Ikbal membawa satu plastik besar kemudian Ziva mengendarai sepeda motor sekaligus memboncengi Ikbal yang sedang membawa cemilan di dalam kantong plastik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suci Dalam Debu (TAMAT)
Ficción GeneralBerawal dari kehidupan seorang pria yang hidupnya di penuhi oleh pergaulan bebas dan kejahatan yang dia lakukan kepada temannya sendiri, bahkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh pria tersebut. Di sebabkan karena rasa dendam kepada salah satu...
