38. The Three

1.9K 251 95
                                        

Alooo!

Ramein komen dan kasih bintangnya 🙌

Mett bacaa 💕

******

"Kenapa, Ra?" tanya Ale melihat Anara yang masih dalam posisi membungkuk menatap ponselnya.

Buliran keringat mulai mengalir membasahi pelipisnya. Detak jantung Ale memacu begitu cepatnya. Apakah Anara menemukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui olehnya?

Ale meneguk ludah yang rasanya membuat tenggorokannya tercekat. Pasalnya beberapa menit yang lalu ia sempat saling mengirim pesan dengan Dermaga. Ia juga tidak sempat keluar dari room chat mereka. Anara tidak boleh membacanya. Tidak. Anara tidak boleh sampai tahu.

Saat Ale mencondongkan tubuhnya ke bawah ingin segera mengambil ponsel itu, dalam waktu yang sama Anara menekan tombol power agar layar itu mati lalu ia menegakkan tubuhnya. Dan Ale kembali membuat tubuhnya tegap.

"Nih, Bang." Anara meraih tangan Ale lalu meletakkan ponsel itu di atasnya. Ale merasa bingung tapi sekaligus lega karena tidak terlihat ekspresi yang mengkhawatirkan ataupun kecurigaan. Justru Anara menampilkan senyuman lebarnya saat ia sadar Ale menatapnya intens. Mungkin dia tidak membaca pesan-pesan itu?

"Abang kenapa ngeliatin kayak gitu?" tanyanya. Membuat Ale dengan cepat menggelengkan kepala.

"Lah emang gue nggak boleh ngeliat lo?! Orang gue punya mata," sungutnya, pura-pura. Agar tidak ada kecanggungan yang bisa saja menciptakan kecurigaan Anara kepadanya.

Ale membungkam mulut dengan kedua tangannya saat ia menyadari ada masih ada Nima di sana. Ia terkekeh canggung begitu melihat Nima yang memberikan tatapan datar kepadanya.

"Hehe ... Maaf, Bu. Emang nih mulut kadang susah dinasehati." Ale menepuk mulutnya pelan seperti menyesali ucapan tak terkontrol yang keluar dari mulutnya itu.

Buru-buru Ale memasukkan ponselnya ke kantong jaket hitam miliknya. "Ale pamit pulang, ya, Bu!" Ale mencium punggung tangan Nima, sedangkan tangan satunya masih dengan erat memegang map coklat.

Sebelum ke luar, Ale memberikan sebuah isyarat kepada Nima lewat mata dan beberapa gerakan kecil. Sadar Anara yang memperhatikannya, Ale segera menyudahi itu semua.

"Dah, Ra!" pamitnya.

"Ara anterin ke depan," ucap Anara yang mengikuti langkah Ale ke luar.

Ale memakai helm lalu naik ke atas motor merahnya. Ia panaskan mesinnya sebentar.

"Gue pulang, ya, Ra!" pamit Ale, lagi.

"Hati-hati! Jangan suka panik. Biar perjalanan sampai rumahnya selamat." Anara menekan kata panik dan rumah pada kalimatnya.

"Kok tiba-tiba bilang gitu?" tanyanya. Ale kembali diliputi rasa takut jika ternyata ada kecurigaan Anara.

"Emangnya kenapa? Ada larangan? Bener, kan? Kalau rasa panik tuh kadang bikin kita lupa hati-hati. Takutnya ada kejadian yang nggak diinginkan dan kenapa kenapa, gimana?" jelasnya untuk kalimat yang sebelumnya ia ucapkan.

"I-iya iya. Lo bener, kok. Tapi tumben aja lo ngomong gitu. Biasanya juga cuma ngomong hati-hati atau nggak ngomong sama sekali."

"Yeeee tumban-tumben," ledek Anara.

"Yaudah gue pulang!" pamitnya untuk yang terakhir. Ale sudah benar-benar akan pergi.

Anara membukakan pagar rumahnya. Lalu motor itu melesat begitu cepatnya saat baru saja Ale menancapkan gas. Bahkan, rambut Anara bisa sampai terbang karena terkena udara yang keluar dari knalpotnya.

BUMANTARA : Milik KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang