39. Kejutan

1.6K 197 51
                                        

Alooo, apa kabar nih?

Absen dulu

Ramein ya gais biar aku tangames
*balik aja itu hurufnya* 😁💪🏻

Met baca all 😻🙌

******

Ale dan Lambang sontak bangkit dari duduknya. Ketiga cowok yang ada di ruang tengah atau yang biasa digunakan untuk ruang keluarga itu kompak terpusat pandangannya pada Anara. Cewek itu sudah dekat dengan mereka.

Tubuh ketiga cowok itu mendadak beku. Sedangkan, Anara sangat kontras dengan mereka. Ia terlihat begitu santai saat memandang satu persatu mereka yang ada di depannya secara bergantian.

Anara memanggutkan kepalanya satu kali. Lalu mengangkat alisnya. "Kalian kenapa? Kok tiba-tiba jadi patung," katanya. Langkahnya berhenti tepat di depan Dermaga. Hanya menyisakan dua langkah untuk jarak di antaranya.

"Ka-kamu ...?" ucapnya terbata-bata. Melihat seseorang yang baru saja namanya tersebut di mulutnya.

Anara memperhatikan wajah menegang yang kini memenuhi pandangannya. Mulutnya menganga terbata-bata tanpa mengeluarkan kata ataupun suara, mengikuti gerakan mulut Dermaga. Seolah ia sedang meledek Dermaga yang salah tingkah.

Menyadari telah diikuti, Dermaga langsung membungkam mulutnya rapat.

"Kenapa? Mau bilang apa? Kok pakai 'kamu'? Sebelumnya bukannya pakai kata 'lo'? Tiba-tiba aja." Tatapan Anara mengintimidasi setiap titik wajah Dermaga. Rentetan katanya tepat sasaran. Menyentil telinga Dermaga sampai rasanya seakan berdenging di dalam.

Dermaga menelan tonjolan yang ada di tenggorokannya. Dalam diamnya, ia sedang mencari kata-kata untuk dikeluarkan.

Sementara dua cowok yang berada di balik badan Dermaga terlihat menahan napas dalam ruangan yang mulai terasa panas itu.

Sempat Dermaga meremat tangannya kuat. Tonjolan yang ada di tenggorokannya kembali terlihat naik turun, sebelum kemudian membuka suara.

"Bukannya lo pergi keluar kata ibu?" Suaranya dibuat setenang mungkin dengan ekspresi wajah yang ia buat dingin.

Ale dan Lambang saling melempar pandangan dari ekor mata, sebelum keduanya tertangkap oleh mata Anara dan membuat mereka memandang sekeliling dengan salah tingkah.

Pandangan Anara kembali ke Dermaga. Tiba-tiba Anara menarik sudut bibirnya ke atas. Senyuman yang cewek itu buat seperti bukan memancarkan senang dari hati. Senyumannya berarti hal lain yang tidak tau jelas maksudnya.

Tubuh Anara berbalik, melangkah menjauh dari Dermaga kemudian duduk di busa lembut sofa hanya membutuhkan lima langkah di belakangnya. Anara duduk di tepi dengan satu tangan bertengger pada bagian tangan sofa.

Setelah menemukan kenyamanan pada posisi duduknya, Anara menatap satu persatu ketiga cowok yang berdiri itu secara bergantian. Sudut bibirnya semakin terangkat membentuk senyuman lebar.

Anara memang terlihat seakan sangat senang. Tapi, suhu di sekeliling seperti tidak setuju dengan kesenangannya. Semakin Anara terlihat santai dan tersenyum lebar. Udara ruang tengah justru terasa semakin panas dan mencekat.

"Emang bener kok kata ibu."

"Kalau emang lo pergi, kenapa tiba-tiba lo di sini?" Kebingungan jelas tergambar pada wajah Dermaga. Pasalnya, seharian cowok itu di rumah, ia tidak menemukan tanda-tanda Anara pulang. Dia yakin seharian tadi ia hanya melihat Nima di rumah. Bahkan saat Nima akan pergi keluar, ibunya itu mengatakan kalau Anara pergi sudah beberapa jam sangat lama sebelum dia.

BUMANTARA : Milik KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang