Dua minggu lebih sejak Dermaga pergi.
Anara menjadi begitu aneh dalam dua hari terakhir. Entah kenapa ia menjadi sangat sensitif. Gadis itu menjadi pendiam, saat mulai berbicara, nada suaranya meninggi. Bahkan, dirinya sendiri menyadari dan terkejut saat menggunakan nada tinggi, berakhir dengan permintaan maaf. Tidak setiap berbicara, hanya di beberapa waktu. Aneh saja.
Setiap menyendiri, ia selau bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Kenapa? Perasaannya begitu membingungkan. Kenapa sekarang ia emosinya menjadi mudah sekali naik tiba-tiba? Seakan ia tidak bisa mengontrol penuh emosi yang dimiliki.
Nima, Ale, dan Lambang yang pernah kena semprot oleh Anara, menduga ada yang tidak baik-baik saja. Mereka menduga, mungkin perubahan Anara karena perasaannya saat-saat masih baru kehilangan Dermaga itu terpendam. Saat itu, dia benar-benar menjalani hidupnya seperti biasa. Mungkin karena itu, dia menjadi seperti orang bingung saat ini.
******
Angin malam masuk melalui jendela Anara yang masih terbuka. Gadis di tempat yang di samping persis jendela kamarnya, duduk menyandarkan kepalanya ke jendela. Matanya melihat ke arah kumpulan kapas di langit malam yang bergerak dua arah. Malam itu, hanya ada satu bintang yang memancarkan sinar terang di langit malam. Sedari tadi, Anara memandangi bintang itu sambil memeluk kedua kakinya.
Air mata menetes bergantian, kanan dan kiri dari ujung matanya. Ia biarkan meluncur bebas, membasahi pipinya. Suara jangkrik dari luar dan suara detik jam dari dalam saling sahut-menyahut. Tapi, hanya ada kesunyian dalam pikiran Anara.
Gadis itu menyeka air mata menggunakan jari-jari kecilnya. Kakinya turun ke lantai, lalu berjalan menuju keluar kamarnya.
Langkahnya menuju ke ruangan di sebelah kamarnya. Tangannya membuka gagang pintu dari kamar yang sudah tidak ada pemiliknya itu.
Anara melangkah masuk ke kamar Dermaga. Kamar dengan lampu yang terang-benderang. Namun, kosong. Hal pertama yang ia temukan, saat menoleh ke arah meja yang ada di pojok ruangan. Langkahnya mendekat. Pandangannya tertuju pada buku bersampul coklat di atas meja itu.
Ombak Tinta Dermaga
Buku milik Dermaga. Tangan Anara meraih buku itu. Kemudian, ia duduk di tepi tempat tidur Dermaga.
Jemarinya langsung membuka ke halaman terakhir. Ia membalikkan ke beberapa halaman sebelumnya. Tiga lembar kertas tulisan terakhir milik Dermaga karena tersisa beberapa lembar kosong selanjutnya. Tiga lembar terakhir sebelum Dermaga pergi.
Bisa nggak, ya?
Bertahan sampai hari kelulusannya Nara.
|
|
Kayaknya...
Gue udah nggak kuat, hehe.
|
|
Dermaga sampai disini.
Pecah.
Anara tak dapat membendung lagi tangisannya. Ia letakkan buku itu di atas laci di samping kasur Dermaga. Punggungnya bersandar ke kepala ranjang itu. Perlahan-lahan tangisnya keluar bersama dengan suaranya. Anara tidak dapat menahan rasa sakitnya. Tenggorokannya tercekat. Tangannya mengambil bantal, lalu memeluknya. Ia gunakan bantal itu untuk menutup mulut agar suaranya terpendam tak terdengar keluar.
Sesak memenuhi dadanya. Rasa hancur akan kehilangan kini singgah di ruangnya. Sudah dari dua minggu yang lalu, Anara tak merasakan perasaan ini. Bahkan, ia merasa seakan baik saja. Tapi, nyatanya, setelah dua minggu Dermaga pergi, rasa itu gelisah, pilu, gundah, semua perasaan bercampur aduk dalam diri Anara. Penuh sekali sampai Anara merasakan sakitnya sudah tidak hanya berhenti di dada, tapi menjalar kemana-mana. Gadis itu merasa pusing hebat di kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMANTARA : Milik Kita
Fiksi Umum"Bisa nggak, ya? Semua momen-momen milik kita terlukis juga tersimpan pada hamparan langit di atas sana." Manusia selalu menuntut untuk sempurna. Tidak banyak dari mereka yang mau menerima kelemahan setiap yang dipunya. Hanya sebagian kecil di antar...
