54. Sembuh

70 14 2
                                        

Alooo Alooo 🙌🏻
Apa kabar?

Karena kalian udah menunggu lama untuk ending BUMANTARA ini, jadi langsung aja, ya!

Selamat membaca 🦋

******

Suapan terakhir nasi goreng melayang ke mulut Dermaga. Kemarin malam ia meminta dibuatkan nasi goreng oleh Nima untuk sarapan pagi. Porsi yang masuk ke perut Dermaga dua kali lipat dari porsi makan sehari-harinya. Mulutnya sibuk cepat-cepat mengunyah.

"Maga mau makan roti setelah ini," ucapnya dengan mulut yang masih terus mengunyah.

"Iya. Itu dihabiskan dulu di mulut."

Nima beranjak dari ranjang Dermaga untuk menutup dan merapikan kotak wadah nasi goreng yang sudah habis itu, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, ia pergi ke kamar mandi.

Anara berjalan ke nakas yang ada di samping ranjang, mengambil bungkus plastik berisi lembaran roti tawar dan kemasan susu kental manis rasa coklat. Ia mengeluarkan se-lembar roti, Anara letakkan di piring. Tangannya membuka tutup susu kental manis rasa coklat, lalu menuangkannya di atas lembar roti. Setelah itu, Anara melipat lembar roti tersebut dari satu sisi ke sisi lain.

Sembari meneguk air putih di gelas, bola mata Dermaga melirik ke tangan Anara yang mengulurkan roti itu. Tangan kirinya mengusap sisa air di tepi bibirnya, tangan kanannya menggapai roti dari tangan Anara setelah meletakkan gelas kosong di atas nakas.

"Terima kasih, adik Abang." Anara membalas dengan senyuman, mengambil duduk di sisi ranjang Dermaga.

Anara menyaksikan kakak laki-lakinya yang dari kemarin itu energinya seperti tak ada habisnya. Banyak sekali yang ingin Dermaga makan, ingin melakukan ini, melakukan itu. Bahkan, ia juga mengeluarkan ocehan-ocehan tentang masa-masa kecilnya. Laki-laki itu bercerita tentang banyak hal, terutama tentang Papa mereka. Anara sampai sedikit merasa iri, karena Dermaga masih memiliki waktu yang lebih lama bersama dengan Papa-nya.

"Kenapa lihat Abang kayak gitu?" tanya Dermaga, membuat Anara keluar dari pikiran di kepalanya.

"Abang beneran udah enakan? Nggak ada bagian yang masih sakit?"

Jujur saja, melihat wajah Dermaga yang sudah bersinar dan segar, tidak lagi pucat pasi dan kering, Anara merasa sangat senang dengan perubahan itu. Bahkan, seperti tidak ada yang terjadi dari beberapa hari yang lalu.

Dia seperti tak pernah melewati masa susahnya menghirup udara melalui hidungnya sampai harus membuka mulutnya. Dada yang terasa sempit sampai napasnya pendek. Tubuh yang seakan tidak bertulang. Perubahan drastis jika dibandingkan dengan kondisi tubuh ditambah perilaku Dermaga saat ini.

Anara sangat senang, sungguh. Sembuh adalah hal yang berkali-kali Anara minta di setiap mengangkat tangannya mendoakan Dermaga. Tapi, perubahan seperti ini menimbulkan pertanyaan di benak Anara.

Apakah Dermaga benar-benar sembuh atau Dermaga hanya pura-pura terlihat sembuh?

Bukan hanya Anara, tetapi Nima, Ale, dan Lambang juga mempertanyakan hal yang sama. Dari apa yang selama ini mereka lihat dan tahu mengenai seorang Dermaga, kata 'Pura-pura' pasti akan muncul dalam benak mereka. Takutnya, Dermaga tidak ingin merepotkan orang lain, sehingga mengorbankan dirinya, lagi dan lagi. Mereka tidak mau itu.

Mulut Dermaga berhenti mengunyah. Pandangannya mengarah ke Anara yang menatapnya dengan binar mata khawatir, takut yang Dermaga dapat rasakan saat secara bergantian mata Anara bergerak ke kanan dan ke kiri menunggu jawaban.

BUMANTARA : Milik KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang