Nima pergi terlebih dahulu ke rumah ditemani Ale untuk mengucapkan terima kasih kepada semua yang datang membantu.
Sepuluh menit Anara memandang papan kayu bertuliskan "Dermaga Abiru" itu, sejak orang-orang lain yang membantu proses pemakaman satu per-satu pergi. Anara meilirik ke nisan di sebelah Dermaga. Makam milik Papanya. Anara melihat kedua makam dari laki-laki yang menuntunnya dalam perjalanan hidup. Dua laki-laki yang selalu menyiramkan banyak cinta ke dalam hidupnya.
Tangan Anara meremat lalu menyebarkan tanah yang bercampur taburan bunga mawar dan melati segar, ia lakukan berkali-kali.
Anara tidak mengeluarkan suara tangisan yang keras. Tangisannya pun tak tersedu-sedu. Tetapi, tetesan air terus menerus meluncur dari matanya. Anara hanya diam tak bersuara.
Kosong.
Hari ini, pernah singgah di pikiran Anara. Pikiran yang membuat Anara merasa sangat takut. Takut akan kehilangan. Berkali-kali rasa takut itu menginap dalam perasaannya, sampai keajaiban Dermaga sehat kembali, membuat rasa takut Anara memudar. Membuat rasa takut akan kehilangan itu menghilang.
Nyatanya, hari yang membuat rasa takut itu ada tetap datang. Nyatanya, kesempatan itu hanya diberikan sebagai kesempatan terakhir melihatnya. Kesempatan terakhir untuk bersamanya.
Saat benar-benar kehilangan, rasa takut itu tidak muncul dalam diri Anara. Justru, perasaan hampa yang memenuhi ruang rasanya.
Memang, peluang akan kehilangan itu Anara sudah pernah terpikirkan.
Tapi, siapa yang mau kehilangan?
Angin kencang menyapu dingin kulit Lambang. Suara jangkrik juga semakin ramai. Lambang yang sedari berdiri beberapa jarak di belakang Anara, kini mendekat ke arah gadis itu.
Tangannya menepuk kecil bahu gadis itu sehingga bahu Anara melompat membuat sadar dari lamunannya. Mata Anara bergerak dari tangan Lambang yang ada di bahunya, lalu ke wajah Lambang.
"Ayo, pulang. Udah malam, Ra. Ibu sama Bang Ale juga pasti udah nungguin lo balik."
Anara mengangguk. Pandangannya kembali menoleh ke arah papan kayu itu sebelum berdiri dan beranjak pergi.
Pergi meninggalkan Dermaga di rumah barunya.
******
Sudah dua hari sejak Dermaga dikebumikan. Hidup memang terus berjalan, tetapi kekosongan itu masih mendekam.
Meskipun begitu, hari ini hari kelulusan Anara. Jika ditanya masih sedih atau tidak? Tentu saja, perasaan kehilangan itu tidak pergi. Tapi, di hari kelulusan ini, Anara sudah menyembunyikannya dari beberapa hari yang lalu. Ia ingin memberi kejutan yang sebenarnya Anara tujukan untuk Nima dan Dermaga. Tapi, apa daya... Ternyata takdir membawa jalan yang berbeda. Dermaga diambil terlebih dulu, sebelum sempat Anara menunjukkannya.
Setidaknya, di tengah kesedihan ini, masih ada kebahagiaan kecil yang terselip untuk menghiasi hari dengan senyum, meskipun mungkin hanya mengalihkan rasa hampa itu sebentar.
"Udah siap, Bu?" tanya Anara yang menengok Nima di dalam kamarnya di depan kaca sedang merapi-rapikan atasan brokat putih yang dipadukan dengan rok lilit polos hitam. Rambutnya yang mulai memutih itu disanggul kecil agar terlihat rapi.
"Siap." Nima berjalan keluar menghampiri Anara.
Mata Nima menelusuri Anara dari atas sampai bawah. Gadis itu mengenakan atasan kebaya lengan pendek berwarna pink blush dan rok lilit dengan dasar coklat tua yang dihiasi dengan motif batik bunga berwarna coklat yang lebih muda. Rambutnya disanggul, menyisakan rambut di samping kanan kiri wajahnya yang dicurly. Sanggulnya terlihat lebih cantik dengan tambahan bunga hias baby breath warna merah muda.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMANTARA : Milik Kita
Ficción General"Bisa nggak, ya? Semua momen-momen milik kita terlukis juga tersimpan pada hamparan langit di atas sana." Manusia selalu menuntut untuk sempurna. Tidak banyak dari mereka yang mau menerima kelemahan setiap yang dipunya. Hanya sebagian kecil di antar...
