29. Sebesar Rasa

1.6K 241 19
                                        

Alooo alooo

Komen sama bintangnya yak!!

Dibaca sungguh-sungguh manteman 😂🙏🏻

******

Dermaga menghentikan langkahnya begitu pandangannya menangkap Anara yang berada di lantai dengan kepala yang menindih pada tangannya yang terlipat di atas meja ruang tamu. Cewek itu sepertinya tidak sengaja tertidur dari sana.

Pergerakan tangan dan tubuh yang menggeliat, membuat Dermaga tidak jadi melangkah mendekat. Anara mendongakkan kepalanya lemah, lalu menggosok-gosok matanya.

Setelah itu, Anara menatap ke arah Dermaga yang berada beberapa langkah di depannya. Cewek itu tersentak dan langsung berdiri. Membuatnya kepalanya sedikit berputar karena respon mendadak setelah bangun dari tidurnya yang masih belum sepenuhnya bisa Anara terima.

Tatapan intimidasi Dermaga seakan menanyakan apa yang sedang Anara lakukan? Dermaga masih tetap diam, membiarkan cewek itu mengumpulkan jiwanya terlebih dahulu.

Setelah beberapa menit. Mata Anara kini sudah terbuka lebar, begitupun dengan pikirannya. Ia sudah ingat apa yang ingin dirinya lakukan.

"Jadi ... Sibuk, ya?" tanya Anara tiba-tiba, tetapi lebih terdengar seperti menyindir.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dermaga. Tetapi, diamnya cowok itu berarti membenarkan pertanyaan Anara.

"Urusan yang sangat sangat penting sampai harus bohong sama adik sendiri?"

Dermaga menatap bingung pada Anara. Apa yang coba cewek itu katakan? Ia sungguh tidak mengerti.

Seakan paham dengan kebingungan Dermaga, Anara kembali melanjutkan kalimatnya. "Katanya nggak bisa jemput Nara. Itu karena Abang pengin punya waktu jalan sama cewek, kan?"

"Itu, kan? Yang dimaksud Abang punya urusan lebih penting." Mata Dermaga langsung membulat sempurna. Mulutnya terbuka menganga, tapi hanya sebentar. Setelah itu, Dermaga mengalihkan pandangannya. Ia seperti menghindari tatapan Anara yang sekarang bergantian mengintimidasi dirinya.

Dermaga menyibukkan dirinya dengan melepas sepatu. Beberapa kali tangannya terpeleset tak bisa melepasnya. Ia benar-benar terlihat gerogi.

Segera setelah itu, Dermaga melangkah melewati Anara dengan kesan terburu-buru. Anara bisa membacanya. Karena itu, ia kembali membuat langkah Dermaga berhenti saat mencapai ruang keluarga.

"Sama cewek yang bisa ngebuat Abang ketawa selepas-lepasnya sampai dunia mungkin nggak bisa melihat bagaimana sisi lain dari seorang Dermaga Abiru ke adik perempuannya sendiri."

Nada Anara mulai meninggi.

"Dermaga Abiru yang berubah menjadi seorang penjahat di dalam dunia adik kecilnya dan menjadi seorang pahlawan di dunia perempuan lain," ungkap Anara dengan hatinya seakan-akan mulai tersayat.

"Urusan yang lebih penting, ya? Hahaha ...," tawanya hambar.

"Kenapa harus bohong?" Mendadak suara Anara menjadi sangat lirih.

Meskipun, hanya punggung tegak yang dilihat mata Anara. Tapi, ia bisa merasakan amarah yang menjalar di sekujur tubuh cowok itu. Tangannya yang meremat kuat sampai urat-urat di tangannya menjadi transparan di kulitnya.

"Gue nggak bohong," balas Dermaga dengan nada rendahnya yang terdengar tegas.

Anara hanya bisa menggeleng tak percaya mendengar perkataan Dermaga. "Seandainya Abang bilang, Nara nggak ada masalah, Bang."

BUMANTARA : Milik KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang