Alloww!
Bacanya pelan pelan aja yaww
Santuyy 😁
Met baca all 💕
******
Pelukan itu tak berlangsung lama sampai Anara mendadak membuka matanya.
"Kenapa tiba-tiba nangis, sih? Kan, ke sini cuma mau tanya. Ngapain nangis?"
Anara tidak ingin dirinya terlihat lemah di hadapan Dermaga. Toh, niatnya hanya ingin mengetahui apakah Dermaga akan pergi lagi atau tidak. Hanya itu ... Kan?
Dengan tiba-tiba Anara menarik tubuhnya dari dekapan Dermaga. Tangannya mendorong Dermaga untuk menjauh. Spontan membuat kakak laki-lakinya itu terhentak mundur dua langkah.
Mata Dermaga membesar. Raut wajahnya tidak bisa mengelak bahwa ia sangat terkejut dengan yang baru saja Anara lakukan. Apa yang membuat sikap adiknya berubah dalam waktu satu detik?
"Ra ...," panggilnya hati-hati. Memastikan tidak membuat kesalahan-lagi-yang mungkin tidak ia sadari.
Sempat Anara memasang muka kesal dengan mengerutkan keningnya, mengirimkan tatapan penuh amarah ke arah Dermaga sebelum ia memutar balik badan untuk pergi meninggalkan cowok itu.
Langkahnya berhenti saat melihat beberapa langkah di depannya ada Nima, Lambang, dan Ale yang berdiri berjajar.
Anara berdecih pelan. "Udah kebiasaan mereka, ya? Nggak ngebiarin gue tau tentang apapun."
Cewek itu kembali melangkah. Namun, kembali terhenti saat sejajar dengan Ale.
"Mau kemana, Ra?" tanya Ale sambil memegang lengan Anara.
Tanpa menoleh dan pandangannya tetap lurus ke depan, Anara menjawab singkat dan tegas, "Pulang."
Ale melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Anara. Barulah setelah itu, Anara kembali melanjutkan langkahnya.
Tidak ada yang menghentikan. Tetapi, Lambang mengikuti dari belakang, lalu menyamakan posisinya dengan Anara.
Sebelum itu, Lambang mengirimkan kode melalui matanya kepada Dermaga untuk izin mengikuti dan mengantarkan Anara yang kemudian disetujui oleh Dermaga dengan anggukan kepala.
"Gue antar, Ra." Tidak ada jawaban iya dari Anara. Tetapi, tidak ada penolakan juga. Anara hanya memberi tatapan malas pada Lambang dan mengikuti cowok itu ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya.
Dermaga berjalan mendekat ke arah kedua orang yang masih setia menatap arah Anara dan Lambang yang semakin jauh.
Tangann Dermaga menepuk pundak Ale dari belakang. "Gue akan bicara lagi di rumah."
Mata Ale menatap Dermaga memberi isyarat apakah Dermaga yakin akan itu.
Seakan dapat membaca isyarat yang diberikan, Dermaga mengangguk mantap. "Sampai benar-benar selesai."
Tepukan Dermaga di pundak Ale seakan mengirimkan keyakinan penuh untuk tidak perlu begitu khawatir. Dermaga juga melemparkan tatapan teduh dan merangkul bahu Nima untuk menenangkan ibunya itu.
"Oke. Kalau gitu kita sekarang pulang. Pak Anan udah nungguin, tuh." Ale menunjuk ke arah seorang laki laki berkumis tidak terlalu tua yang sekarang berdiri di samping mobil dengan senyuman lebar seakan siap melaksanakan tugasnya sebagai supir pribadi keluarga Ale. Ralat. Lebih tepatnya supir pribadi keluarga kedua Ale.
******
"Kali ini kalau lo beneran mau balik, mending omongin langsung semua. Keinginan lo sama keinginan Nara, omongin mau lo berdua gimana? Terus selesaiin dah tuh," pesan Ale sebelum ia berpamitan untuk pulang setelah mengantar Dermaga dan Nima. Dan Lambang yang sudah ada di depan pagar bersama motornya melambaikan tangan ke arah Dermaga untuk berpamitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMANTARA : Milik Kita
General Fiction"Bisa nggak, ya? Semua momen-momen milik kita terlukis juga tersimpan pada hamparan langit di atas sana." Manusia selalu menuntut untuk sempurna. Tidak banyak dari mereka yang mau menerima kelemahan setiap yang dipunya. Hanya sebagian kecil di antar...
