Alooooooo 👐🏻
Jangan lupa vote dan komen 💗🫰🏻
Met baca all 💕
******
Tangan kecil Anara terus menggenggam erat tangan Dermaga. Tangan besar yang biasanya selalu menuntun dengan kuat langkah adik kecilnya. Tangan besar yang selalu menggenggam hangat tangan kecil Anara.
"Bertahan, Bang..." Pelan dan penuh sesak. Suaranya gemetar.
Tangan Nima melingkar di bahu putrinya itu. Sedang menguatkan. Namun, mereka berdua sama-sama lemah kali ini. Air mata tak berhenti mengalir, membasahi pipi mereka. Bagaimana mereka bisa kuat? Disaat orang yang selama ini selalu menguatkan mereka terbaring tak berdaya di depan mata mereka.
Bertahanlah. Hanya kata itu yang bisa mereka ucapkan dan harapkan.
Batuk kasarnya tak berhenti, mereda pun tidak. Napasnya semakin sempit sampai harus melalui mulut. Matanya seperti tak kuat untuk terbuka. Tapi, Anara terus menepuk kecil pipi Dermaga yang terasa kering karena tubuhnya yang mengurus. Agar Dermaga tak sampai menutup matanya.
Tangisan, tangisan, dan bertahan. Memenuhi ruangan di mobil ambulans yang diusahakan segera sampai pada rumah sakit yang dituju.
Sementara di belakangnya, ada Ale yang mengikuti.
******
Nima dan Anara menunggu di luar. Tubuh Dermaga yang berbaring di ranjang pasien itu di bawa masuk ke dalam ruangan yang sangat dihati-hati oleh semua orang, yang selalu disemogakan ketika sakit agar tidak sampai masuk ke dalam ruangan ini.
Ruang ICU. Dimana orang-orang yang menunggu di sana berada pada titik memanjatkan doa di setiap detiknya adalah usaha yang menjadi satu-satunya.
Nima menepuk-nepuk kecil pundak Anara dengan tangan satunya, sementara Anara memegang erat tangan Nima yang bebas. Mereka berdua sama-sama ingin menguatkan, pada dimana mereka sama-sama lemah. Tak terasa, sudah berapa kali air mata bercucuran mengalir dari pelupuk matanya. Bahkan, sekali mengalir mungkin bisa dua sampai tiga tetes yang keluar. Napas mereka pun dapat terdengar saat berusaha menahan suara yang sakit akan keluar dari mulut mereka.
Ale muncul dari pintu masuk. Ia sedikit tertinggal tadi karena terpisah oleh lampu merah lalu lintas.
Laki-laki itu mendekat ke arah Anara dan Nima sambil menatap resah pada tembok yang dibaliknya ada orang yang saat ini mendapat penanganan. Dan ia harap hasil keluar dengan kabar baik nantinya.
Ale menekuk lututnya. Menyetarakan tinggi dengan Anara yang duduk meringkuk. Tangannya membelai lembut kepala cewek itu.
Kepala Anara terangkat. Mata almondnya yang membengkak dan merah itu, ditambah wajahnya terlihat begitu lembab karena air mata yang menggelinang begitu banyak di sana, membuat Ale menatap dengan iba.
"Bang Ale..." Suaranya tipis serak hampir tak terdengar.
Isakan yang tadinya mulai mereda kembali terdengar dengan jelas perlahan-lahan. "Bang Ale ... Abang ..."
Di manik mata coklat tua milik cewek itu tersirat ketakutan dan keputus-asaan. Bukan. Bukan bermaksud tidak ingin adanya hal baik terjadi pada Dermaga. Hanya saja .... Keadaan yang membuatnya seakan harus benar-benar pasrah. Kondisi tubuh Dermaga yang belakangan ini terlihat sangatlah lesu, badan yang semakin kurus seakan diserap oleh rasa sakit dalam tubuhnya. Bahkan mata yang begitu teduh saat memandang, kini menjadi mata lelah yang saat dilihat rasanya begitu berat untuk menahan mata itu tetap terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMANTARA : Milik Kita
General Fiction"Bisa nggak, ya? Semua momen-momen milik kita terlukis juga tersimpan pada hamparan langit di atas sana." Manusia selalu menuntut untuk sempurna. Tidak banyak dari mereka yang mau menerima kelemahan setiap yang dipunya. Hanya sebagian kecil di antar...
