Alooo!
Absen dulu broww
Mett baca all 💕
******
Suara alam dari cicit burung, suara daun-daun dari pepohonan yang menari, serta suara hembusan angin yang mengirinya. Dan wangi khas segar udara pagi hari itu. Seakan menyambut awal hari dengan begitu indahnya. Ditambah matahari yang sudah mengeluarkan sinarnya dengan terang yang sempurna. Seakan cuaca hari ini begitu mendukung manusia menikmati ketenangan di hari Minggunya untuk sejenak.
Denting suara sendok dan piring menggema ke seluruh ruang makan saat Dermaga memotong daging dan mengambil nasi dengan sendoknya untuk disuapkan ke mulutnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Nima menahan Dermaga yang sudah berdiri untuk membukakan pintu. "Ibu aja yang bukain pintu. Kamu lanjutkan makannya." Dermaga mengangguk dan kembali duduk.
Ketika Nima membuka pintu rumah, tiba tiba saja, "BAA!" Bahu Nima terjingkat saat Ale melompat ke hadapannya. Cowok berambut ikal tebal itu yang tadinya senang dan asik tertawa langsung berubah menjadi akward sekaligus malu saat sadar kalau dia sudah salah target.
"Eh maaf, Bu. Ale kira tadi Nara yang bukain pintu. Nggak taunya Ibu. Maaf, ya, Bu. Hehehe ..." Sungguh Ale sangat malu. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ale malah jadi salah tingkah sendiri.
Nima menggeleng-gelengkan kepalanya. "Astaga kamu itu, ya. Bikin Ibu kaget aja pagi-pagi," ujar Nima sembari mengusap-usap dada dengan satu tangan. Sedangkan Ale meraih tangan satunya, lalu ia cium punggung tangan Nima.
"Maaf, Bu," katanya lagi sambil kembali menunjukkan cengirannya.
"Yaudah. Masuk masuk!"
Saat dipersilahkan, Ale langsung melepas sepatunya dan menatanya di sudut dinding sebelah pintu. Setelah itu barulah ia masuk.
Pandangannya beredar ke seluruh ruangan yang ia lewati. Ruang tamu, ruang keluarga, bahkan saat sampai di dapur. Yang ia temukan hanya Nima dan Dermaga yang baru saja memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Tumben pagi-pagi lo udah ke sini? Jadwalnya jam 10, kan?" tanya Dermaga setelah menelan habis makanan yang telah dikunyahnya.
"Gue udah tau kali kalau jam 10. Lagian gue ke sini bukan buat itu. Gue—"
"Bang Ale ke sini buat gue," sela Anara yang baru saja menuruni anak tangga terakhir di lantai dasar.
Cewek berambut golden brown terurai yang dibalut dress putih dengan tambahan outer lengan panjang berwarna putih tulang itu tengah menutup resleting slingbagnya sambil berjalan ke arah mereka bertiga yang berada di dapur.
"Bang Ale ngajakin Na ... Ehem."
Astaga. Hampir saja Anara menyebutkan dirinya sebagai Nara.
"Bang Ale ngajakin Ara keliling buat refreshing setelah selama hampir dua minggu serius mikir ujian terus."
"Kalian sarapan dulu sebelum pergi," ucap Nima sembari berdiri untuk meraih piring dan sendok. "Nggak usah, Bu!" Nima menarik tangannya saat Anara menghentikan dirinya. Sementara Ale yang tadinya akan mengambil sepotong roti yang tersedia di piring di atas meja, ia juga terhenti untuk mengambilnya.
"Kenapa? Kalian, kan, mau pergi. Makan dulu biar perutnya keisi dan jadi tenaga. Nanti, kan, enak jalan-jalannya nggak bingung mikir makan karena kelaparan."
"Gini aja. Makanannya Ara taroh di kotak bekal. Jadi, Ara sama Bang Ale makannya di luar. Kan, enak tuh sambil liat pemandangan di luar. Sambil seneng-seneng di sana. Makannya jadi lebih enak, deh, Bu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMANTARA : Milik Kita
Genel Kurgu"Bisa nggak, ya? Semua momen-momen milik kita terlukis juga tersimpan pada hamparan langit di atas sana." Manusia selalu menuntut untuk sempurna. Tidak banyak dari mereka yang mau menerima kelemahan setiap yang dipunya. Hanya sebagian kecil di antar...
