Tiga jam, hanya itu waktu tidur yang cukup untuk Alea saat ini. Terjaga semalaman tanpa ketenangan dan otak yang terus berpikir.
Pukul 06.00 Alea terbangun dari tidurnya kemudian bangkit dari tempat tidur. Alea berjalan menuju meja rias, menatap wajahnya di cermin yang memperlihatkan wajah kusam, dan kantung mata yang hitam.
Alea tersenyum getir kemudian lekas beranjak dari sana dan berjalan menuju kamar mandi.
Selesai dengan ritual mandinya, Alea memakai seragam dan menyemprotkan parfum ke pergelangan tangan, leher dan sikunya.
Mata sembab dengan kantung mata yang menghitam tidak membuat hati Rivano tersentuh, Rivano acuh saja tak menghiraukan putrinya yang tengah menuruni tangga. Sedangkan Alea hanya menghela nafas, ia sudah biasa diperlakukan demikian.
"Alea berangkat duluan" ucap gadis itu seraya tersenyum lembut, namun manik coklatnya memancarkan kesenduan.
"Ini bekal buat kamu" Nivya memberikan bekal yang sudah ia siapkan untuk putrinya
Alea langsung menerimanya dan memasukkan bekal itu ke dalam tas, kemudian matanya coklatnya melirik sang papa yang tak ada balasan apapun dari laki-laki paruh baya itu.
Gadis itu kemudian berjalan menuju pintu utama dan mulai keluar dari pekarangan rumahnya. Sejak SMA kelas X, Alea sudah terbiasa jalan kaki untuk ke sekolahnya.
Beberapa menit berjalan kaki, Alea pun sampai di Inure High School. Sudah pasti penampilan Alea saat ini sudah seperti atlet lari, karna keringat sudah bercucuran di keningnya.
"Kamu jalan kaki?" Alea tersentak, ia mendongak pada laki-laki yang baru saja menghampirinya.
"Hm" jawab Alea seadanya kemudian berjalan menuju ke kelasnya
"Besok aku jemput kamu ya?" Tanya Marvel sambil tersenyum hangat
Alea menghentikan langkahnya kemudian menatap Marvel dan menggeleng kuat.
"Nggak usah" tolaknya
"Yaudah" meskipun ini sudah kesekian kalinya Marvel mendapat penolakan dari Alea, Marvel tetap berusaha, meskipun akhirnya ditolak juga sama Alea.
Meskipun Alea menolaknya berkali-kali, Alea pikir Marvel akan menjauhinya. Namun, Marvel tetap saja bersikap manis dan posesif pada Alea. Padahal Marvel sangat acuh dan dingin, namun saat bersama Alea ia jadi lebih banyak bicara.
♡♡♡♡♡♡♡
Brakkk
Setumpukan kertas sengaja dibanting ke atas meja, membuat beberapa lembar kertas berserakan, tidak berniat untuk merapihkannya, laki-laki itu justru meletakkan kepalanya di atas kertas-kertas yang berserakan itu.
Tok....
Tok...
"Masuk!"
Muncullah seorang laki-laki membawa sebuah map hitam "Maaf mengganggu pak, tapi ini ada beberapa berkas yang tadi pak Devano inginkan"
Prince kemudian mengambil map hitam itu, dan menyuruh laki-laki dengan setelan jas berwarna hitam itu keluar dari ruangannya.
Membaca halaman demi halaman berkas yang baru saja ia terima, Prince sudah dapat mengerti masalah apa yang perusahaan itu alami. Ini bukan pertama kalinya Prince mendapatkan masalah seperti ini, dan karena ini bukan pertama kalinya Prince sudah menjadi sangat paham apa saja yang harus ia lakukan nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Untuk Alea
Teen FictionBagaimana jadinya ketika kamu harus menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya dan harus hidup menjadi bayang-bayang orang lain? Begitulah yang dihadapi ALEA ELFASYA. Seorang gadis yang selalu mendapatkan perlakuan tak menyenang...
