"Mah.....Alea capek, Alea udah nggak kuat lagi. Semua ini terlalu berat buat Alea. Rasanya percuma berjuang kalau akhirnya Alea tetap kalah"-Alea
•Happy reading•
Kondisi Alea berubah total dari tadi sore hingga malam tiba. Sejak hari mulai gelap, perempuan cantik itu tidak berhenti muntah-muntah.
Alea mengepalkan tangannya, memukul-mukul tepian wastafel tak akan pernah menerima semua kenyataan ini.
Ukhuk!
Ukhuk!
Ukhuk!
Alea terbatuk hingga muntah lagi, bedanya sekarang dia muntah darah. Disampingnya, sang Mama menemani seraya menyalakan kran air, meleburkan darah putrinya yang keluar begitu saja.
Pendengaran Alea berdengung seiring rasa pening ia rasakan, kedua tangannya lantas terangkat dan menjambak rambutnya berusaha bertahan. Napasnya memburu, Alea mundur beberapa langkah hingga ia berakhir di tembok. Tubuhnya merosot, ia terduduk dengan lemas di sana.
"Reviano! Prince!" Teriak Nivya meminta pertolongan.
Batuk Alea juga semakin terdengar menyakitkan. Keringat dingin mulai membasahi pelipis, kuku jari Alea sampai memutih karena mencengkeram rambutnya.
Alea tidak menyangka mual pasca kemoterapi 10 kali lipat lebih menyiksa dari mual biasa yang pernah ia alami. Meski isi perutnya sudah dikeluarkan, perutnya masih saja terasa mual.
"G-gak usah kasihan...." ujar Alea lemas. Ia tidak suka tatapan khawatir Nivya, Reviano dan Prince.
Prince dengan sigap langsung membopong tubuh Alea ala brydal style. Sedangkan Reviano pergi memanggil Dokter, pikirannya kalut hingga tak ingat kalau disamping brankar Alea tombol untuk memanggil Dokter.
"Sssh......aku bener-bener sekarat" lirih Alea mulai memejamkan matanya.
Bibir ranum Alea sudah pucat, tak ada rona sedikitpun disana. Nivya menggapai tangan putrinya, kemudian mencium tangan dingin itu berkali-kali.
Alea memejamkan mata, menahan mual yang terus mengamuk di dalam perutnya. Alea membuka mata, memberikan senyuman terbaiknya untuk sekedar mengatakan kalau ia baik-baik saja.
"Jangan sayang, Mama makin sakit....." tangis Nivya melihat senyuman lemah putrinya.
Hingga tidak menunggu lama, akhirnya Dokter Arash sampai di ruang rawat Alea dan meminta mereka untuk menunggu di luar.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Sudah hampir 30 menit Alea ditangani oleh Dokter Arash. Namun, belum juga ada kabar apa pun dari dalam sana. Reviano duduk di depan ruangan Alea dengan Nivya yang juga duduk di sampingnya. Laki-laki paruh baya itu menggenggam tangan sang istri yang duduk disampingnya.
Sedangkan Prince, dia bersandar di dinding dekat pintu dengan kepala menunduk dan mata yang tertutup. Ketiga manusia itu sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Mata tajam Prince meredup diwarnai warna merah dibawah matanya, tubuhnya tegang dengan mata yang sesekali melirik pintu ruangan sang istri.
Nivya terduduk kaku di kursi tunggu, matanya menatap kosong kearah depan dengan tangan terkepal erat diatas pangkuannya, pipinya sudah basah oleh air mata yang bahkan tak pernah ia sadari akan keluar.
"Ini salah aku.....aku yang memintanya untuk kemoterapi" getirnya dengan bibir bawah yang digigit keras menahan isak tangis yang akan keluar.
"Anak aku......" tubuhnya mulai bergetar membuat Reviano langsung memeluknya dengan erat, untuk menenagkan istrinya yang kini terisak keras di bahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Untuk Alea
Ficção AdolescenteBagaimana jadinya ketika kamu harus menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya dan harus hidup menjadi bayang-bayang orang lain? Begitulah yang dihadapi ALEA ELFASYA. Seorang gadis yang selalu mendapatkan perlakuan tak menyenang...
