Hari begitu cepat berlalu. Matahari sudah tak bersinar lagi, diganti dengan indahnya bintang dimalam hari. Dan malam ini Alea, Fani dan Shivam masih berada dirumah sakit menemani Prince.
Hari ini tepat dua minggu sudah Prince tidak sadarkan diri. Belum ada perkembangan yang signifikan. Semua masih sama.
Selama satu minggu pula Alea, Fani, dan Shivam yang selalu bergantian untuk menjaga Prince. Semakin hari keadaan
Prince semakin memprihatinkan.
Saat ini Alea tengah mengganti baju Prince, gadis itu kembali menangis saat melihat tubuh suaminya yang dihiasi kabel-kabel yang mungkin menyiksanya.
"Alea kangen sama kak Prince. Disini pasti gak enak. Ayo bangun dan tidur di kasur kakak yang empuk" bisik Alea seraya mengancing baju Prince.
"Kak Prince gak capek apa dari kemarin tidur mulu? Mimpi kakak indah banget ya, sampe gamau bangun?"
Alea lemah, ia kembali menangis "Aku gak sanggup lagi, hiks.....hiks...."
Bersamaan dengan itu, bunyi yang sangat nyaring pun terdengar di ruang ICU itu. Mesin detak jantung Prince berbunyi dengan sangat nyaring.
Titt titt tiiitt......
"Dokter!!!" panik Alea memanggil Dokter.
Cklek!
Shivam dan Fani serta seorang Dokter masuk bersama dua orang perawat yang menemaninya.
"Siapkan defiblirator!" Ujar sang Dokter sedangkan Alea sudah histeris.
Para perawat itupun menyiapkan defiblirator yang diminta dokter. Dokter mengambil alih alat itu lalu meletakkannya diatas dada Prince dan membuat dada laki-laki itu terangkat.
Sementara Fani memeluk Alea untuk menyalurkan kekuatan "Bertahanlah, Prince" gumam Fani.
Percobaan pertama gagal, namun tidak membuat Dokter menyerah dan terus mencoba dan menggunakan alat itu.
"Kamu pasti bisa, Prince!" Ucap Shivam dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter mulai keringat dingin hingga mesin detak jantung Prince menunjukkan garis lurus.
"Gak, Prince jangan!"
Dokter masih terus menggunakan alat itu ketubuh Prince, hingga perawat menahannya.
"Sudah, Dok" ujar salah satu perawat dan mengambil defiblirator itu dari tangan sang Dokter.
Dokter kemudian berlutut di hadapan Alea, Fani dan Shivam "maaf kami____"
"Jangan! Jangan bilang apa-apa" teriak Alea, menolak kenyataan itu.
Sesak, sakit, hancur itulah yang dirasakan Alea saat ini. Bahkan Alea tiba-tiba mematung, kemudian langsung memeluk tubuh Prince.
"Kak Prince bangun! Jangan tinggalin Alea" tangis Alea semakin histeris dan semakin sakit. Alea menangis terisak, rasa sakit begitu menghantam perasaannya, apakah mereka tidak di izinkan untuk lebih lama bersama?
"Sebaiknya pihak keluarga segera mengurus pemakamannya. Saya permisi dan turut berduka cita" pamit sang Dokter dan meninggalkan mereka untuk menangani pasien yang lain.
"Ayo cepetan bangun! Kalau kak Prince gak bangun, Alea bakalan pacaran sama Marvel" Alea berharap Prince bangun ketika mendengar ancamannya. Karena Alea tau, Prince tidak suka ia dekat dengan Marvel.
"Mana Prince yang selalu bentak Alea? Mana Prince yang selalu ngancem Alea? Sekarang Alea yang ngancem kak Prince. Ayo bangun!! " Alea masih terus berusaha mengguncangkan tubuh Prince, tapi Prince masih saja bergeming.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Untuk Alea
Ficção AdolescenteBagaimana jadinya ketika kamu harus menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya dan harus hidup menjadi bayang-bayang orang lain? Begitulah yang dihadapi ALEA ELFASYA. Seorang gadis yang selalu mendapatkan perlakuan tak menyenang...
