Fani berlarian di lorong rumah sakit. Tidak peduli lagi dengan apapun yang menghalangi langkahnya. Pikirannya kalang kabut. Saat mendengar kabar kalau Prince kecelakaan, Fani langsung menunggu di depan ruang UGD.
Selang beberapa menit, Shivam pun sampai di rumah sakit dan langsung menuju resepsionis untuk menanyakan pasien bernama Devano Prince Laurent. Resepsionis memberitahu kalau Prince masih ditangani di UGD, mendengar itu Shivam langsung berlari menuju UDG.
Dapat Shivam lihat dengan jelas kalau Fani tengah menangis terisak didepan pintu UGD. Reviano dan Nivya juga sudah tau, mereka lebih memilih untuk menunggu di depan UGD daripada melihat kondisi Alea.
Dengan napas tersenggal dan tangan yang masih berlumuran darah, Shivam menghampiri mereka. Beberapa menit kemudian hening yang datang. Hanya saja suara tangis Fani masih bisa terdengar pelan. Hingga akhirnya pintu UGD terbuka, memperlihatkan Dokter bersama beberapa perawat yang mendampinginya.
"Permisi, dengan keluarga pasien?" Tanya Dokter.
"Saya, Dok!" Shivam menjawab cepat, dan berdiri di hadapan sang Dokter.
"Akibat mengalami benturan yang sangat keras, pasien mengalami gegar otak dan terjadi kelumpuhan sementara di bagian kakinya. Pecahan kaca yang mengenai tubuhnya, juga menyebabkan tangannya terdapat luka. Sekarang dengan berat hati, pasien kami nyatakan koma."
Bersamaan dengan selesainya ucapan sang Dokter, Fani berdiri mematung. Matanya langsung berlinang, bersamaan dengan hilangnya kesadaran wanita paruh baya itu.
"Fani!" Shivam dan yang lain langsung berlari menghampiri Fani. Shivam langsung membopong tubuh Fani untuk membawanya ke ruangan sebelah.
♡♡♡♡♡♡♡
Sudah dua hari telah berlalu sejak Prince kecelakaan dan mengalami koma. Selama dua hari itu juga, Alea masih di rawat di rumah sakit dan tidak ada yang memberitahunya kalau Prince kecelakaan. Saat ini, Shivam dan Fani memasuki ruangan rawat Alea, yang telah dipindahkan ke ruang VVIP di rumah sakit ini.
Fani kemudian meletakkan paper bag diatas nakas yang berisi keperluan Alea. Seraya mengeluarkan buah-buahan, Shivam mulai membuka suara.
"Fani, mengapa kita belum juga memberitahu kondisi Prince pada Alea? Alea juga berhak mengetahuinya" ucap laki-laki paruh baya itu.
Namun, Fani hanya menggeleng dengan tegas. "Jangan sekarang. Kalau Alea tau, itu akan membuat kondisinya semakin memburuk" jawabnya sambil menatap sendu wajah pucat Alea.
"Gimana nanti reaksi Alea saat tau kalau Prince sangat mengkhawatirkannya malam itu?" gumamnya.
Namun, Fani cepat menegur. "Lebih baik kau diam saja, nanti Alea mendengarnya" ujarnya dengan suara yang memperingatkan.
Shivam menghela nafas dengan kasar, mengisyaratkan kekecewaannya. "Semoga Alea tidak mendengar apa yang kita bicarakan"
"Jangan sampai Alea tau kalau Prince kecelakaan karna mau menyusulnya ke rumah sakit" ucap Shivam dan diangguki Fani.
Namun, tanpa disadari oleh kedua manusia itu, Alea telah mendengarkan percakapan mereka sejak awal. Meskipun terbaring tak berdaya di tempat tidurnya, suara mereka menyusup ke telinganya. Dadanya mulai bergemuruh.
"Apa yang mereka maksud ada apa dengannya? Apa yang aku lewatkan selama di sini?" Gumam Alea dalam hati.
Air mata Alea membasahi pipinya saat mengigat pertemuan terakhirnya dengan Prince. Jika kalian bertanya apa yang membuat gadis itu menangis, maka hanya ada satu alasan, ia mengingat bangaimana Prince dengan tidak berperasaan menyiksanya bahkan memintanya untuk mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Untuk Alea
Genç KurguBagaimana jadinya ketika kamu harus menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya dan harus hidup menjadi bayang-bayang orang lain? Begitulah yang dihadapi ALEA ELFASYA. Seorang gadis yang selalu mendapatkan perlakuan tak menyenang...
