"Jangan paksa aku untuk menderita lebih dalam dari ini....." Alea akhirnya menyerah, tubuhnya merosot ke lantai. Tiba-tiba dadanya naik turun dan napasnya tersenggal.
"Alea!" Nivya sangat panik melihat putrinya yang susah bernafas.
Prince tersentak kaget, ia sangat panik mendengar istrinya yang kesulitan bernapas itu. Bersyukur Shivam masih bisa mengendalikan rasa paniknya, laki-laki itu segera menekan tombol yang ada dibagian dinding diatas kepala ranjang.
Hingga seorang Dokter dan beberapa perawat masuk kedalam dan langsung memeriksa Alea.
"Dokter, detak jantung pasien melemah" ucap salah satu perawat.
Dokter langsung memeriksa detak jantung Alea, sedangkan perawat meminta keluarga pasien untuk menunggu di luar.
Sudah hampir satu jam Alea ditangani oleh Dokter dak dipindahkan ke ruang ICU. Namun, belum juga ada kabar apa pun dari dalam sana. Reviano duduk di depan ruang ICU dengan Nivya yang juga duduk di sampingnya. Laki-laki paruh baya itu menggenggam tangan sang istri yang duduk disampingnya.
Sedangkan Prince sedari tadi terus mondar-mandir di depan ruangan itu. Setelah itu, dia bersandar di dinding dekat pintu dengan kepala menunduk dan mata yang tertutup. Perlahan air matanya keluar begitu saja.
"Jangan tinggalin aku.....kamu gak boleh pergi sebelum balas semua perbuatan aku" isak Prince dalam tangisannya.
Hingga pintu yang mereka tunggu terbuka, memperlihatkan dokter yang masih lengkap dengan pakaian medisnya. Sontak mereka berjalan mendekati sang Dokter.
Dokter membuka maskernya dan mulai berbicara "Kondisi pasien sangat kritis, kankernya sudah memasuki stadium akhir. Dan saat ini, pasien mengalami koma"
Deg
"Tolong! Tolong selamatkan putriku!" Mohon Reviano memegang lengan dokter.
"Kondisi pasien yang semula sudah membaik kembali memburuk, pasien saat ini membutuhkan pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya secepatnya. Kalau tidak, kita bisa kehilangannya"
Prince yang mendengar itu marah dan menarik kerah kemeja Dokter itu "jangan bicara sembarangan, saya membayarmu mahal-mahal untuk menyembuhkan istri saya!" teriaknya frustasi.
Dokter itu mencoba bersabar dan kembali berbicara menjelaskan keadaan Alea, bagi seorang penderita kanker kondisi seperti naik turun sering sekali terjadi, bukannya rumah sakit tidak memiliki pendonor, hanya saja belum ada yang cocok dengan Alea. Bahkan Nivya sendiri tidak cocok dengan Alea.
"Saya, tolong lakukan tes pada saya secepatnya. Alea tidak bisa menunggu lebih lama lagi" ucap seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati mereka.
Semua yang ada didepan ruangan itu mengalihkan pandangan mereka pada wanita paruh baya itu dan seorang pemuda disampingnya.
"Saya akan mendonorkan sumsum tulang belakang saya" ucap Zoya yang baru datang.
Dokter mengangguk "Saya akan segera mengatur tes untuk calon pendonor. Semoga cocok dengan pasien"
Zoya kemudia menatap mereka yang berdiri sisana. Zoya yakin kalau mereka adalah keluarga Alea.
"Alea tinggal dengan saya selama satu bulan ini" ucap Zoya karna paham kalau mereka mau bertanya.
Saat Nivya hendak berlutut dihadapan Zoya, wanita paruh baya itu langsung memeluk Nivya dan menangis.
"Terimakasih....terimakasih, apa yang harus saya lakukan untuk bisa menebus semua kebaikanmu" isak Nivya dalam tangisannya.
Zoya kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Nivya yang menangis "Tidak, saya sudah menganggap Alea putri saya. Saya juga sama sepertimu, saya juga tidak mau kehilangan"
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Untuk Alea
Teen FictionBagaimana jadinya ketika kamu harus menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya dan harus hidup menjadi bayang-bayang orang lain? Begitulah yang dihadapi ALEA ELFASYA. Seorang gadis yang selalu mendapatkan perlakuan tak menyenang...
