"Selamat tidur cantiknya Mama" -Nivya
"Papa gak bisa nepatin janji, sayang. Hari ini Papa nangis lagi, tangis Papa paling keras saat kamu pergi putri cantik nya Papa" -Reviano
"Siapa yang akan bersamaku, Alea? Siapa yang akan jadi alasan aku untuk bertahan hidup setiap harinya? Kamu tau sendiri betapa kacaunya hidup aku, kenapa masih begitu tega ninggalin aku?" -Prince
•●•Happy Reading•●•
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Alea. Prince juga ikut ke Yunani namun berbeda pesawat karna ia tahu Alea tidak suka kalau ia ikut.
Cologne Airport begitu ramai dipadati oleh penumpang pesawat. Mereka berbondong-bondong menarik koper menuju pemeriksaan barang sebelum mereka melakukan check-in.
Penumpang pesawat harus melewati beberapa pemeriksaan bandara sebelum diizinkan terbang. Hal ini merupakan standar keamanan penerbangan bertaraf internasional yang harus memenuhi izin serta prosedur yang tengah dijalankan. Dan sebagai penumpang pesawat yang baik, mereka juga harus menjalankan rangkaian pemeriksaan dari alat pemindai dan metal detector untuk memeriksa barang bawaan penumpang.
Perempuan cantik itu tampak sibuk mengecek barang bawaan serta menyimpan tiket itu agar mudah dijangkau olehnya sebelum melakukan check-in untuk mendapatkan boarding pass. Nomor kursi dan gate keberangkatan pesawat.
"Sudah lengkap semua?" tanya Nivya.
Alea mengangguk. "Udah, Mah"
Tak hanya mereka, disana juga ada Dokter Arash yang menunggu keberangkatan mereka. Lelaki keturunan Jerman-Indonesia itu menoleh. Melihat wajah tenang disampingnya, membuat lelaki itu menghembuskan napasnya pelan.
"Ini kesempatan terakhir bisa berbica sama Alea" gumam Dokter Arash dalam hati.
"Saya duluan, Alea. Jaga kesehatan kamu baik-baik. Jangan lelah berlebihan" Dokter Arash menepuk bahu perempuan itu. Arash takut kehilangan Alea.
Hiruk-pikuk di sekitar tidak dapat menghalau suasana tegang ini. Tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan sesuatu apalagi sampai melirik untuk melihat keadaan. Begitu juga Alea.
"Kalau gitu aku pergi. Makasih untuk semuanya, Dok" Alea melambaikan tangannya pada lelaki itu dan benar-benar pergi dari sana.
Menatap punggung perempuan cantik yang mulai menjauh dari pandangannya adalah sesuatu yang paling Dokter Arash benci. Tetapi dia bisa apa? Selama ini yang dia lakukan hanyalah memendam perasaan itu dan membiarkan semuanya terhembus angin tanpa arah.
"Ich liebe dich, Alea" bisik Dokter Arash, namun perempuan itu sudah tidak terlihat lagi.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Malam harinya, Alea sudah sampai di Santorini-Yunani. Terletak di Laut Aegea, pulau ini merupakan destinasi wisata populer karena panorama yang menakjubkan, terutama pemandangan matahari terbenamnya yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Santorini memiliki ciri khas bangunan bercat putih dengan atap biru yang terletak di tebing-tebing curam, memberikan kontras yang dramatis dengan warna laut biru jernih di bawahnya. Desa-desa seperti Oia dan Fira adalah tempat terbaik untuk menikmati pemandangan ini, dengan jalan-jalan sempit berliku yang dipenuhi kafe, butik, dan restoran.
Alea menikmati sejuknya angin malam ditemani oleh Mama dan Papa nya. Mereka langsung menuju hotel karna ingin cepat beristirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince Untuk Alea
Teen FictionBagaimana jadinya ketika kamu harus menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya dan harus hidup menjadi bayang-bayang orang lain? Begitulah yang dihadapi ALEA ELFASYA. Seorang gadis yang selalu mendapatkan perlakuan tak menyenang...
