EMPAT BELAS

47 12 3
                                        

"SIALAN, KELUARIN GUE DARI SINI!"

🕸🕸🕸

"JANG HYUNSOO!"

Seketika Hyunsoo bangun dari tidurnya. Nafasnya tersenggal, takut dan terkejut bercampur jadi satu.

"Sumpah, lo ngagetin gue," ucap Hyunsoo.

Bukannya menjawab, Kyungjun malah menatap Hyunsoo.

"Lo ngapain? Serem bego!" Hyunsoo memukul wajah Kyungjun menggunakan bantal.

"Anjir," umpat Kyungjun. "Gak tahu terima kasih lo! Udah gue temenin juga."

"Lah, ngapain nemenin gue?" tanya Hyunsoo. "Ini jam berapa dah?" Hyunsoo melihat letak jam dinding berada. "Anjir jam 10? Lo kenapa gak bangunin gue?!"

Kyungjun mendorong kembali Hyunsoo ke kasurnya ketika ia hendak bangun. "Lo mau kemana, Unco? Gak sadar apa ada yang nemplok di jidat lo?"

Mendengar itu, Hyunsoo meraba-raba dahinya dan ada sebuah sapu tangan lembab di sana. "Lah anjir, kenapa gue di kompres?"

"Bisa-bisanya kaga sadar, gue gak tidur semaleman gara-gara lo tahu gak?"

"Kok gara-gara gue? Terpana ya lo liat cara gue tidur-"

Jari telunjuk Kyungjun sukses mendorong dahi Hyunsoo. "Lo sakit, bego. Mana menggigil, udah kaya butuh pelukan tante-tante girang di perempatan rumah gue."

"Emang di perempatan rumah lo banyak tante-tante girang?"

"Apa? Lo mau sama tante-tante girang?"

"Ya kaga lah, anjir!"

"Lo lagi sakit ngeselinnya lebih-lebih. Udah deh, tuh mending makan, udah gue bawain dari bawah. Awas kalau gak lo makan!"

"Tumben lo baik?"

"Kalau Taehun ada, ogah gue. Takut di cincang juga gue kalau ketahuan gak ngurusin lo yang lagi sakit," ucap Kyungjun sambil berjalan menuju kasur miliknya.

"Eh iya, gimana? Dia udah sadar?"

Kyungjun menggeleng. "Nggak tahu, bibi gak ada telepon."

"Abis ini ke rumah sakit yuk."

"Gak ada! Lo sakit, jadi di asrama aja," tilah Kyungjun mentah-mentah.

"Iya deh. Gue tahu, lo sebenernya takut dimarahin, kan? Udah apal gue."

"Itu lo tahu. Taehun marahnya serem, lo juga kaga berani kan pasti?"

"Kata siapa? Nih gue ya-uhuk uhuk." Hyunsoo terbatuk akibat berbicara sambil makan.

Kyungjun tertawa. "Makanya, kalau makan jangan sambil ngomong, mana mau songong."

"Si anjir- uhuk ambilin gue minum-"

"Ambil sendiri! Jangan mentang-mentang lagi sakit ngebabuin gue, lo!"

🕸🕸🕸

Sejak mereka menginjakan kaki di sekolah hari ini, beribu-ribu pertanyaan sudah mereka dengar.

Kabar Taehun yang ditemukan di bilik kamar mandi tak terpakai dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat serta dahi yang berdarah sudah menyebar luas.

"Gimana sekarang keadaan Kak Taehun?" tanya Jia.

Sekarang mereka tengah berkumpul, bukan hanya Junhyeok, Hwi, Sungjun dan Jia saja tapi juga ada Haruto dan Doyoung.

Hwi mengangkat bahunya. "Bibi gak ada ngasih kabar, jadi gak tahu."

"Taehun beneran diiket tangan sama kakinya?" Kali ini Doyoung yang bertanya dibalas anggukan oleh Sungjun.

"Kok bisa ya, di sekolah yang keamanannya super ketat ini bisa kejadian yang kaya gitu? "

"Gak ada yang gak mungkin, To. Kejadiannya di dua jam pelajaran terakhir yang emang para siswa lagi belajar dan para penjaga juga di jam segitu istirahat," ujar Doyoung.

"Tapi kenapa harus bang Tae? Apa tujuan orang itu ngelakuin hal kaya gini?" ucap Sungjun seraya memijat kepalanya.

"Menurut gue ini udah termasuk percobaan pembunuhan. Kalian bayangin, kaki sama tangan diiket kuat, kepala bang Tae yang kayanya di benturin dinding kamar mandi sampe berdarah dan dikurung di sana. Kalau saat itu gak ada yang nemuin kemungkinan terbesarnya ya... Itu, gue gak mau sebutin, kalian pasti paham apa yang gue maksud," ucap Junhyeok panjang lebar.

"Iyalah, Jun. Kasus ini berat, tapi anehnya sekolah ini kaya biasa aja ngadepin kasus ini," ujar Haruto.

"Ji, lo nggak dapet kabar gitu dari bokap lo mengenai ini?"

"Nggak, kalian tahu sendiri kan bokap gue kaya gimana? Gue bahkan gak begitu deket sama dia," jawab Jia.

Di tengah-tengah percakapan itu tiba-tiba para siswa yang seharusnya sedang beristirahat berhambur masuk ke dalam kelas dan membereskan semua barang mereka.

Hal itu membuat keenamnya terkejut melihat itu, ditambah hampir semua siswa terburu-buru.

"Apa apa? Kalian kenapa?" Pertanyaan dari Hwi sama sekali tidak ada yang menjawab.

Sungjun akhirnya menghentikan seorang siswa yang tengah terburu-buru itu. "Kenapa? Kenapa semuanya beresin barang?"

"Kita di kasih waktu 15 buat beresin semua barang milik kita di kelas ini. Aparat kepolisian minta kita buat kosongin sekolah ini dalam waktu segitu," jelas siswa itu.

"Makasih," ucap Sungjun sebelum berjalan kembali pada teman-temannya.

"Bang Doyoung, lo cepet cepet ke kelas lo deh, beresin semua barang lo yang ada di sana, terus abis ini kita pulang." Setelah mengatakan itu Sungjun mulai membereskan barang miliknya. Karena setelah ini ia harus mengecek barang milik ketiga kakak kelasnya.

Kelimanya segera menuruti apa yang Sungjun katakan, terlebih laki-laki bermarga Kim yang kelasnya cukup berjarak dari sana.

🕸🕸🕸

"Udah ada kabar dari bibi, Jun?" tanya Hyunsoo yang masih setia berbaring sejak selesai sarapan.

"Belum."

Hyunsoo menghembuskan nafasnya gelisah. "Gue beneran khawatir sama Taehun. Apa kita ke sana aja?"

"Gue juga mau kesana, tapi kita harus nunggu bocah-bocah pulang dulu."

"Mereka pulang sore, Jun. Perasaan gue gak enak banget, ayo kita aja dulu yang ke sana." Setelah mengatakan itu Hyunsoo bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

"Kalau mau sekarang, lo aja. Gue nunggu mereka pulang-"

"Kita udah pulang, Kak."









Maaf banget 2 hari gak up🙏

Big Secret (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang