Senyum Hwi mengembang kala kelima temannya masuk ke ruang inapnya. Jujur, ia merasa tidak nyaman terus berada di dekat kedua orang tuanya.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Hwi setelah orang tua dan beberapa bodyguard keluar.
"Lega banget kayanya?"
"Iyalah, mereka mendadak sok perhatian, jadinya aneh," jawab Hwi. "Mana tuh bodyguard kagak mau keluar anjir. Ngaku, siapa yang ngutus mereka buat jagain gue?"
Taehun mengangkat tangnnya. "gue. Lo sekarang lagi sendiri Hwi, bukannya gue gak percaya sama orang tua lo."
Hwi mengangguk mengerti. "Iya gue tahu. Makasih ya, tapi kayanya terlalu berlebihan gak sih?"
"Menurut gue sih nggak ya." Bukan Taehun yang menjawab melainkan Kyungjun.
"Bang Tae kayanya udah mulai manfaatin harta orang tuanya," ucap Sungjun.
"Enak aja, duit hasil warisan itu."
"Sama aja bambang, bonyok lo kan yang ngelola?" tanya Hyunsoo.
Taehun menggaruk tengkuknya tak gatal. "Iya sih."
"Tadi ada Pak Daeyoon ke sini, katanya sih mau jenguk gue," ujar Hwi.
"Sok baik banget. Eh tapi, niat dia kayanya bukan jenguk deh, tapi mantau doang," kata Junhyeok.
"Gue setuju apa kata lo, Jun. Secara nih ya, dia pengen kita mati untuk kedua kalinya, kan?" Sungjun ikut menimpali.
Semuanya mengangguk setuju, tidak akan ada lagi ucapan si pemilik sekolah itu yang bisa dipercaya.
"Kita do'a in aja pak Youngjae, semoga dia bisa bawa buktinya besok malem," ucap Kyungjun.
"Maksudnya gimana?" Hwi, laki-laki itu bertanya karena ia sama sekali tidak mengetahui apa yang telah teman-temannya alami hari ini.
Hyunsoo duduk di samping brankar Hwi. "Ada berita besar, lo tahu-"
"Ya mana dia tahu."
"Heh, diem dulu lo Kaje. Pas istirahat pertama kita kan kumpul nih, bareng Doyoung, Jeongwoo, Haruto sama Jia di lapangan karena tuh dua manusia abis di hukum," ucap Hyunsoo seraya menunjuk Taehun dan Kyungjun. "Nah di situ, kucuk-kucuk-kucuk pak Youngjae dateng. Lo tahu dia ngapain? Dia berlutut di hadapan kami sambil minta maaf, dia juga bilang kalau pak Daeyoon pelaku utamanya," lanjutnya.
"Terus di maafin?"
"Ya nggak lah! Gila, masa langsung di maafin gitu aja. Kita ngasih syarat, kalau dia bisa bawa bukti kalau pak Daeyoon dalangnya baru kita maafin." Kali ini Junhyeok yang menjawab.
"Kalau kaya gitu, kita gak perlu susah-susah cari bukti lagi dong?"
Taehun menggeleng. "Pak Youngjae itu gak beda jauh sama Yujin, jangan berharap banyak sama dia."
"Kotak apaan nih?" Semua atensi tiba-tiba beralih pada Sungjun yang tengah memegang sebuah kotak.
Junhyeok, laki-laki itu menepuk dahinya seketika. Ia benar-benar lupa akan kotak itu. Niat awalnya akan ditunjukan pada teman-temannya kemarin.
"Punya gue itu," ujar Junhyeok.
"Lah iya, gue baru inget. Kan kemarin lo bilang mau nunjukin isinya ke kita," ucap Kyungjun.
Junhyeok mengambil kotak itu dari tangan Sungjun lalu membukanya. "Gue juga lupa."
Di dalam kotak itu berisi sepuluh lembar kertas, sembilan diantaranya berisi kalimat yang sama sedangkan satu lagi berbeda.
Mereka langsung melihat isi dari tulisan itu kecuali Hwi yang masih belum diperbolehkan untuk banyak bergerak.
Satu per satu dari mereka menatap kertas-kertas itu tak percaya.
Pergi atau mati.
Sembilan kertas itu berisikan kalimat 'pergi atau mati' yang ditulis menggunakan tinta berwarna merah.
"Ini bukan darah," ujar Taehun.
Semuanya bernafas lega mendengar ucapan Taehun. Mereka benar-benar trauma dengan kalimat itu, terlebih kalimat itu pernah ditulis nenggunakan darah dari teman mereka sendiri.
"Gue juga pengen liat."
Hyunsoo mengambil selembar kertas lalu memberikannya pada Hwi.
"Loh, ini sama kaya yang di kaca waktu itu kan?" tanya Hwi memastikan.
Benar, mereka kembali teringat akan kejadian waktu itu. Di mana Sungjun menemukan kalimat menyeramkan itu di cermin kamar mandi asrama Taehun, Kyungjun dan Hyunsoo.
"Lo dapetin ini dari mana, Jun?" pertanyaan dari Sungjun sangat mewakili mereka yang ada di sana.
"Seinget gue, satu lembar di laci punya gue, dua lembar di pintu loker Hwi, satu lembar di depan pintu kamar Bang Tae, satu lembar di dalem buku sejarah punya gue, dua lembar di bawah sepatu gue, tiga lembar lagi gue dapetin di koridor," ungkap Junhyeok.
"Lo ngumpulin ini bertahap?" tanya Taehun.
Junhyeok mengangguk. "Iya, dan gue rasa nih ya, Bang. Ada petunjuk di kertas ini. Pojok kanan bagian bawah ada huruf yang ditulis pake pulpen yang tintanya udah abis, perhatiin baik-baik deh."
"Ada! Di kertas yang gue pegang ada huruf o." Hwi adalah orang pertama yang menemukannya.
"S."
"A."
"O."
"N."
"E."
"D."
"O."
"E."
"Y."
"Seo Daeyoon!" Dalam sekejap Hyunsoo menyusun huruf demi huruf.
"Masa sih?" Kyungjun yang kurang percaya melihat kembali huruf yang ada di kertas itu. "Anjir bener!"
Mereka cukup terkejut dengan hal itu. Ternyata selama ini mereka selalu mendapat teror kata yang sama dan pelakunya memberikan petunjuk orang yang mereka cari.
Sekarang mereka banyak menduga-duga di balik kertas itu. Untuk apa orang itu meneror mereka? Apalagi dengan mencantumkan petunjuk.
"Kenapa lo gak bilang dari awal kalau kita dapet kertas kaya gini?" tanya Hwi.
Junhyeok tersenyum tipis. "Gue gak mau bikin kalian kepikiran."
Semuanya mengerti apa yang Junhyeok maksud, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Junhyeok lakukan.
"Ini kan yang isinya sama cuma sembilan, yang satu lagi maksudnya apa?"
Lupa kalau belum update hehe...
Stan The New Six guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasíaTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
