EMPAT PULUH SATU

32 8 11
                                        

"Bukan buat Bang Unco, tapi biat kita berdua. Dia yang bikin gue kaya gini, dan kemarin gue sempet ngelawan sampe tanpa sadar dia ngakuin kelakuannya sendiri. Dia ngaku kalau yang nyekap lo waktu itu emang dia, Bang."

Taehun mengepalkan tangannya. Apa yang Jungwoo katakan ternyata benar Taehun sempat mengira jika pelakunya adalah Youngjae, paman dari Jungwoo.

"Gue bakal laporin dia ke polisi," ucap Taehun.

Hwi sadar jika Taehun tengah menahan amarahnya, dari nadanya saja sudah tidak biasa. Sama halnya dengan Taehun, Hwi juga memendam emosinya setelah ia sadar. Hwi ingin Yujin merasakan apa yang ia dan Taehun rasakan sekaligus. Tusukan, sayatan, pukulan, dan kurungan, harus Yujin rasakan di waktu yang bersamaan, Hwi menginginkan hal itu terjadi.

"Gue juga maunya gitu, tapi masalahnya kita gak punya bukti apa-apa, Bang."

"Besok kita cari bukti," sahut Kyungjun yang sejak tadi mendengarkan percakapan keduanya.

Taehun mengangguk setuju. "Gue udah bisa masuk, Nyokap Hwi juga udah mau sampe jadi ada yang jaga."

Hwi menatap sendu keadaannya saat ini. Ia merasa sangat lemah sekarang. Hwi sangat ingin membantu mengumpulkan bukti, tapi kondisinya sangat tidak memungkinkan. Luka-luka yang ia dapatkan terkadang terasa sangat sakit.

"Gue-"

Taehun benar-benar tak ingin mendengar kata maaf dari Hwi, maka dengan itu ia segera menyela ucapannya. "Gak ada kata maaf cuma karena gak ikut bantu. Kalau bukan karena lo, kita gak tahu siapa pelakunya. Walaupun Jungwoo udah bilang kalau pelakunya Yujin, tapi sama aja bohong, gak ada bukti mana bisa kita percaya. Mana dia dapetin informasi itu dari Youngjae, yang nyatanya sebelas dua belas sama Yujin."

Baru saja Taehun menyelesaikan ucapannya, suara ketukan pintu terdengar dan mengalihkan atensi mereka.

"Biar gue yang buka," ucap Junhyeok. Laki-laki itu langsung melakukan apa yang ia ucapkan.

"Lo kenapa, Ji?" Pertanyaan itu terlontar saat Junhyeok baru saja membuka pintu.

Benar, orang yang datang itu Jia. Dia datang dengan keadaan yang aneh menurut Junhyeok, mata sembap dan memerah, wajahnya menunjuka bahwa ia sedang cemas.

"Jun, izinin gue masuk," ucap Jia.

Seakan baru tersadar, Junhyeok sedikit bergeser dari depan pintu, mempersilakan taman sekelasnya itu masuk.

Taehun yang melihat keadaan Jia langsung mendekat, hanya laki-laki itu yang tahu tentang masalah Jia dan keluarganya.

Baru saja Taehun ingin mengajak Jia untuk duduk, tapi Jia malah melakukan hal yang membuat orang di sana membulatkan matanya.

Bruk.

Jia menjatuhkan kakinya ke lantai, ia bersimpuh di hadapan Taehun dan yang lainnya sambil menangis.

"Lo kenapa?" Taehun yang terkejut sontak ikut duduk di lantai. Tangannya menangkup wajah Jia yang terus menunduk.

Melihat mata yang memerah itu entah kenapa membuat Taehun ikut merasakan kesedihan. Tapi kali ini Taehun tidak bisa membaca apa yang sedang Jia alami.

"Maaf ...." ujar Jia di sela tangisannya.

"Buat apa? Kenapa lo kaya gini? Orang tua lo berantem lagi? Jawab gue, Ji!"

Melihat Jia yang semakin dalam menangis membuat Taehun seketika menariknya, membawanya pada sebuah pelukan hangat.

Kelimannya menatap Taehun dan Jia, mereka masih terkejut, bingung dan ingin tahu apa yang terjadi.

"Akhirnya lo dapetin apa yang lo mau, Ji. Kalian itu emang takdir. Gue jadi lega lepasin lo, karena orang itu temen yang udah gue anggap sebagai kakak gue sendiri," batin Hwi.

Di pelukan yang nyaman itu Jia malah semakin terisak. Rasa bersalah adalah penyebab utamannya.

Mendengar isakan Jia membuat Taehun mengeratkan pelukannya, tangannya mengusap kelapa Jia lembut dan mencoba menyalurkan ketenangan padanya.

"Jangan kaya gini, Ji. Ayo cerita kaya waktu itu, gue gak akan tahu apa yang lagi lo hadapin kalau lo diem aja."

"Hati gue ikut sakit liat lo nangis, Ji."

Jia melepaskan pelukannya, ia memandang satu persatu orang yang ada di sana.

"Gue udah tahu dalang di balik semuanya ini," ujar Jia yang kembali menunduk.

"Siapa Ji?"

Jia mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Taehun. "Jia bakal jawab tapi dengan satu syarat. Kak Tae sama yang lainnya harus janji gak akan benci sama Jia, setelah tahu kebenarannya."

Tanpa ragu Taehun mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jia. "Janji."

Dalam satu tarikan nafas Jia menjawabnya. "Dalang dari semua ini ... Ayah Jia sendiri. Seo Daeyoon."

Pernyataan Jia benar-benar membuat mereka terkejut. Seo Daeyoon, pemilik sekolah yang terkenal akan keramahannya ternyata dalang di balik kejadian 33 tahun yang lalu.

"Dia juga yang udah bikin kalian celaka. Kak Tae, Junhyeok, Hwi, kejadian yang nimpa kalian atas perintah Seo Daeyoon.

"Ji, dia bokap lo sendiri. Lo gak asal tuduh kan?" tanya Sungjun yang masih belum begitu percaya karena terkejut. Ia masih ingat di mana ia tak sengaja menabrak Daeyoon karena mengantuk, laki-laki itu sempat tersenyum tulus. Itu yang membuat Sungjun sedikit ragu.

"Gue denger sendiri semua pengakuan dia."

Jia tersenyum sambil menatap kopi buatannya. Ia membuatkan ayahnya secangkir kopi karena akhir-akhir ini laki-laki itu terlihat sangat sibuk.

Langkahnya terhenti kala melihat pintu ruang kerja sang ayah sedikit terbuka. Dalam sekilas ia melihat ada orang lain di dalamnya.

"Kenapa tidak sekalian bunuh dia? Membuatnya terluka seperti itu malah membuat mereka semakin gencar mencari kita."

"Bukankah kau sendiri yang bilang, kau tidak mau ada lagi korban setelah ratusan orang itu?"

"Bukankah sama saja? Tetap ada darah yang tumpah, Park Yujin!"








Aku sengaja gak up kemarin, lagi cosplay jadi orang sibuk wkwk. Gimana sama part ini? Mungkin emang kedengeran rada aneh, Daeyoon yang jarang banget aku munculin tiba-tiba jadi dalangnya. Itu sebabnya setiap kasus yang ada gak pernah ke usut sampe tuntas.

Besok The New Six fanmeet guys, sedih gak bisa ikut :(

Big Secret (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang