Junhyeok bergidik ngeri ketika melihat keaadan Sungjun pagi ini, kantung mata itu terlihat jelas sekarang.
"Lo beneran gak tidur, Jun?" tanya Hwi.
Sungjun yang duduk di pojokan kasurnya mengangguk seraya menguap. Malam ini lebih parah dari malam sebelumnya, ia sama sekali tidak tidur. "Yang sekolah kalian aja deh, gue mau tidur aja."
"Ya lo ngapain gak tidur?"
"Gue maunya tadi malem tidur, tapi gimana gue bisa tidur kalau baru aja merem udah mimpi," jawab Sungjun.
"Emang mimpi apaan sih, Jun? Sampe segitunya."
"Pokoknya serem, gue gak berani cerita. Udah deh, sana kalian berangkat."
Hwi dan Junhyeok saling pandang, mereka penasaran tapi mereka tidak mau memaksa Sungjun.
"Yaudah, kita berangkat ya?"
"Iya udah sana, hus hus."
"Udah kaya apa aja pake di hus-hus. Ayo Jun, ntar kalau telat bisa berabe," ucap Hwi lalu berjalan keluar mendahului Junhyeok.
"Hati-hati lo di asrama sendiri, pintunya kunci aja dari dalem, kalau ada apa-apa langsung telepon gue."
"Iya, Iya. Udah sana."
Junhyeok sempat menggeleng sebelum ikut pergi meninggalkan Sungjun dan menyusul Hwi yang sudah menunggunya di luar.
"Jun, ini kita beneran mau ninggalin si bocah sendirian?" tanya Hwi.
Kini mereka tengah berjalan menuju kamar milik ketiga kakak kelasnya.
Junhyeok mengangguk. "Ya, iyalah. Tapi gue sebenarnya kurang yakin ngebiarin dia sendiri. Lo masih inget kan amanat dari bang Tae?"
"Masih. Apa gue temenin Sungjun aja ya?"
Junhyeok mendorong pelan kepala Hwi. "itu mah maunya, lo!"
Hwi tersenyum tanpa dosa. Siapa juga yang ingin menyia-nyiakan kesempatan itu? Jam pertama adalah pelajaran sejarah, jika bisa Hwi akan menghindar dari pelajaran itu.
"Oh... Gue inget, jam pertama bagian pak junwook kan ya?"
"Itu lo inget. Males gue bagian dia, udah galak terus kayanya kalau liat gue bawaannya pengen ngehukum mulu," ucap Hwi dengan nada kesal.
"Siapa yang ngehukum lo?" tanya Kyungjun yang baru saja bergabung.
"Anjir, kaget gue, Kak!"
"Keasikan nge-gibah sih lo, kita nunggu depan pintu aja kaga keliatan," ujar Hyunsoo. "Eh, si pinyik mana?"
"Nama orang udah bagus dikasih sama emak-bapaknya, malah lo bilang pinyik. Baru tidur dia, katanya semalem gak tidur sama sekali," jawab Junhyeok.
"Lah, anjir. Udah kaya kelelawar aja, malem bagun - siang tidur," ucap Hyunsoo.
"Terus kita tinggal gitu aja, nih?" tanya Kyungjun yang tak yakin.
Hyunsoo mengangguk. "Iyalah, mau ikut bolos juga lo?"
"Ya nggak lah! Gue cuma khawatir, gimana kalau-"
"Gak usah berpikiran macem-macem deh lo, Justin. Gue jamin Sungjun bakal baik-baik aja."
"Yakin banget lo, Bang?"
Hyunsoo mengangguk. "Yakin lah. Oh iya, pelaku yang nyuruh bonyok nya Taehun udah keungkap."
"Siapa?"
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Bangke lo Hyunsoo! Gue kira bener," umpat Kyungjun.
"Ya emang bener anjir, makanya gue nanya kalian mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Gak salah sih, Bang. Tapi pertanyaan lo kaya orang lagi becanda," ujar Junhyeok.
"Kasih tahu aja lah, Bang. Biar cepet." Hwi sudah sangat penasaran.
"Kalian pasti bakal gak percaya kalau yang nyuruh itu pak Youngjae," ucap Hyunsoo.
"Hah? Gue gak salah denger nih?" tanya Kyungjun. "Pak Youngjae? Staf keamanan di sekolah kita?"
"Anjirr, kok bisa, Bang?" tanya Hwi yang masih kaget.
"Ya bisa lah, dia juga manusia." Junhyeok menjeda ucapannya. "Kalau yang nyuruh itu pak- nggak, udah gak cocok dia dipanggil pak. Lee Youngjae maksudnya, berarti kemungkinan besar yang nyekap bang Taehun waktu itu dia juga."
Hyunsoo mengangguk menyetujui. "Gue juga ada mikir begitu."
"Tapi Co. Lo tahu dari mana kalau pelakunya dia?" tanya Kyungjun.
"Dari korbannya langsung." Hyunsoo mempeeluhatkan room chat nya bersama Taehun.
🕸🕸🕸
Hari sudah semakin siang, tapi Taehun masih berbaring di kasurnya. Nara, ibunya itu sudah memanggilnya untuk sarapan. Tapi rasa lamas tengah menyelimutinya saat ini.
Taehun memandang jam dinding yang berada di kamarnya, baru pukul 7 : 15 sedangkan waktu pertemuannya bersama si penulis artikel pukul 1 siang.
"Masih lama, gue ngapain dulu ya?"
Akhirnya Taehun bangkit, ia memilih untuk membersihkan badannya dulu.
Setelah selesai, Taehun mengecek ponselnya. Pas dengan itu ada satu pesan masuk dari salah satu adik kelasnya.
Seo Jia
Kak
Kenapa Ji?
Bukannya ini udah jam
belajar ya?
Jia gak sekolah
Kakak masih di rumah?
Loh, kenapa?
Masih
Jia ke rumah Kakak
boleh gak? Jia takut Kak
Lo di mana? Biar
Kakak aja yang ke sana
Nggak Kak. Biar jia aja
Yaudah boleh
Location📍
Hati-hati ya
Setelah membalas pesan dari Jia, Taehun terdiam.
"Gak sekolah? Takut? Mau ke sini? Jia kenapa ya?"
Tak bisa dipungkiri jika ia merasa khawatir pada Jia. Memilih untuk tidak berpikiran negatif, Taehun melanjutkan aktivitasnya membersihkan kamar yang akan kembali ia tinggalkan besok.
Berselang 20 menit terdengar suara ketukan pintu dari luar. Taehun yang saat itu tengah membereskan buku miliknya hanya menyahut dari dalam.
"Masuk aja, Ma."
Nara membuka pintunya. "Sayang, katanya di depan ada yang nyariin kamu."
Seketika Taehun langsung bangkit setelah melakukan pekerjaannya. "Di bawah, Ma?"
"Masih di depan, Mama gak berani ngijinin sembarang orang masuk," jawab Nara.
"Mama tenang aja, temen Tae emang ada yang mau ke sini kok."
"Kamu punya temen di luar sekolah?"
Taehun menggeleng. "Nggak, dia satu sekolah kok sama Tae. Tapi gak masuk, gak tahu deh kenapa."
Kira-kira Jia kenapa ya.
Stan The New Six🏁
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
