Nara menatap nanar orang yanag tengah memeluk putra tunggalnya di depan gerbang.
Setelah memberi tahu Taehun, Nara juga ikut melihat siapa yang datang tapi hanya dari depan pintu, sedangkan Taehun menyambutnya di depan gerbang.
Deja vu, itu yang Nara rasakan saat ini. Tangannya bergetar, rasa malu dan bersalah bersatu menjadi satu.
"Jia..." gumamnya.
Nara menghapus air mata yang tanpa sadar sudah menetes membasahi pipinya.
"Mereka memang takdir, Nara! Sekarang dia anakmu, buat dia bahagia," batin Nara.
"Sayang, ajak masuk temennya!" panggil Nara sedikit berteriak. Setelah memastikan mereka mendengarnya, Nara masuk dan menyiapkan jamuan untuk tamu-nya itu.
Setelah selesai menyiapkan minum, Nara kembali ke ruang tamu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Jia. Matanya merah dan sembab, itu sudah menjelaskan bahwa teman dari anaknya itu sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Nara meletakan minuman yang ia bawa. Entah ada dorongan dari mana, Nara duduk di sebelah Jia lalu mengelus surai hitamnya.
"Anak cantik kenapa?" tanya Nara.
Jia tersenyum tipis. Canggung? Tentu saja. "Jia gak papa kok, Tan."
"Tae kenapa gak bilang sama Mama kalau punya temen se-cantik Jia?"
"Ma-"
Belum selesai Taehun berbicara, Nara sudah mendahuluinya. "Kamu ambil kue gih di dapur."
Taehun menghela nafasnya sebelum akhirnya menuruti perintah Nara.
"Jia sekelas ya, sama Tae?"
Jia menggeleng. "Jia adik kelasnya, Tan. Maaf ya Jia datang tiba-tiba, pasti ganggu Tante."
"Nggak kok. Tante malah seneng kalau ada temen Tae yang datang ke rumah. Ini kamu beneran gak papa? Mata kamu bengkak lho."
Melihat Jia yang kebingungan, Nara berinisiatif memeluknya. "Tante nggak akan maksa kamu buat cerita. Tapi kalau Jia mau, Tante siap dengerin."
Jia membalas pelukan Nara. Tidak bisa Jia pungkiri jika pelukan yang Nara berikan benar-benar nyaman.
Nara mencoba menahan air mata agar tidak menetes saat Jia membalas pelukannya.
"Maaf, sekali lagi aku bilang maaf ..."
🕸🕸🕸
Secepat itu Nara membuat Jia merasa nyaman berada di rumahnya. Sekarang Jia sedang berada di kamar Nara. Wanita itu mengajaknya untuk memilih baju ganti untuk Jia.
Ya, Jia datang dengan seragam sekolahnya, tak lupa ransel berwarna coklat yang terus ia bawa.
"Tadinya Jia mau sekolah Tan, makanya pake seragam. Tapi setelah ngaterin adik Jia, rasanya jadi gak sanggup."
Gadis bemarga Seo itu akhirnya menceritkan asal mula ia tak sekolah. Ada masalah di keluarganya dan ia memutuskan mencari tempat untuk menenangkan diri namun berakhir di rumah kakak kelasnya sendiri.
"Jia kan sekarang udah tahu rumah Tante, nanti sering-sering ya main ke sini. Kalau Tae di asrama, Tante sendirian. Rumah Tante akan terus terbuka untuk Jia."
Jia mengangguk dan tersenyum, ia patut berterima kasih pada keluarga kecil Choi ini, berkat mereka Jia merasa rasa sedihnya tadi pagi telah hilang setelah beberapa jam berada di kediaman Nara.
"Coba yang ini deh, ini gayanya anak muda banget."
Jia menerima baju yang Nara sodorkan, ia mencobanya dan pas. Dres lengan panjang di bawah lutut itu sangat cocok dengannya.
"Ini gimana tan?" tanya Jia yang sudah selesai.
"Cantik, cocok banget sama kamu. Sini rambutnya biar tante kepang, biar makin cantik."
Jia tersenyum malu lantas mendekat. "Makasih ya Tan, Jia jadi ngelupain rasa sedih Jia berkat Tante."
"Ini belum seberapa Ji, ini masih jauh dari sekedar cukup buat nebus kesalahan aku di masa lalu," batin Nara.
"Sama-sama. Abis ini Tae katanya mau pergi, Jia mau ikut gak? Takutnya suntuk di runah terus sama Tante."
"Gak tahu, Tan. Aku nurut apa kata kak Tae aja," balas Jia.
"Tae pasti ajak kamu-"
Tepat setelah Nara nengatakan itu ada yang mengetuk pintu kamarnya. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Taehun.
"Ma, ini Tae!"
"Tuh, apa yang Tante bilang. Ayo keluar."
Taehun memandangi jam tangannya yang menunjukan pukul 12 : 20, masih tersisa 40 menit sebelum jam 1.
Ceklek.
Pintu yang ia ketuk akhirnya terbuka, menampakan ibu dan temannya itu.
"Tae mau ajak Jia ke luar."
"Boleh, tapi Jia-nya mau nggak?" tanya Nara.
Jia mengangguk sebagai jawaban. Ia tahu ada sesuatu yang penting di balik Taehun mengajaknya pergi.
"Yaudah hati-hati. Tae jagain Jia ya?"
"Iya Ma, pasti. Ayo Ji."
Nara memandang kepergian dua remaja itu, ia tersenyum miris. Harusnya ia tidak berada di posisi ini, jika saja waktu bisa diputar Nara ingin merubah nasib dua orang itu.
"Hanya nasib yang bisa dirubah, sedangkan takdir tidak."
🕸🕸🕸
"Maaf ya Ji, kayanya mama terlalu seneng ada cewek yang datang," ucap Taehun.
"Kenapa minta maaf, Kak? Justru aku yang harus berterima kasih. Oh iya Kak, kita mau ke mana?"
"Ketemu sama orang yang tahu kejadian 33 tahun lalu."
Jia menyerit bingung. "Siapa?"
"Namanya Jang Hyuna," jawab Taehun. "Kita berhenti di cafe depan ya pak." lanjutnya.
Jika kemarin Taehun memilih menggunakan bus untuk pergi, maka kali ini ia nemilih menggunakan taxi karena bersama Jia. Bukan karena tidak bisa membawa kendaraan sendiri, Taehun takut tidak fokus karena akhir-akhir ini beban pikirannya sangat banyak.
Setelah membayar ongkos taxi yang mereka naiki keduanya turun dan langaung mencari tempat yang kosong.
"Di sana aja, Kak," ucap Jia seraya menunjuk tempat yang kosong.
Taehun mengangguk. "Ayo."
"Taehun!"
Langkah Taehun dan juga Jia terhenti, keduanya melihat ke belakang.
"J-Jia?"
Dua wanita setengah baya berlari lantas memeluk Jia. Taehun tahu wanita yang satunya, tapi yang satu lagi Taehun tidak mengetahuinya, kemungkinan besarnya dia adalah Jang Hyuna orang yang selama ini ia cari.
Jina datang tidak hanya membawa Hyuna, tapi juga membawa seorang laki-laki yang juga pernah satu angkatan saat masa sekolah.
Besok senin, ayo semangat!
Stan The New Six guys🏁
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasíaTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
