"Kita udah pulang, Kak." Sungjun, Junhyeok dan Hwi berdiri di depan pintu yang entah sejak kapan terbuka, Kyungjun tidak menyadarinya.
"Kaget gue. Ngapain berdiri di situ? Masuk," ucap Kyungjun.
Ketiganya masuk dan langsung meletakan tas dan tiga katung belanja yang berisikan barang milik Taehun, Kyungjun dan Hyunsoo. Ketiganya duduk dengan wajah lesu dan kecewa.
"Ribet amat, bawa apaan?" Kyungjun yang semula memainkan ponsel di kasurnya bangkit dan duduk di karpet bersama ketiganya. "Loh, ini kan barang-barang punya gue."
"Ya emang punya lo, Bang Taehun sama Bang Unco," jawab Hwi.
"Ngapain lo pada ambil? Ini juga belum waktu pulang, kalian bolos ya?"
Ketiganya sontak menggeleng. "Enak aja bolos. Nih ya, sekolah kita ada penyelidikan untuk kasus bang Taehun, jadinya kita di suruh pulang cepet sekaligus beresin semua barang milik kita di sekolah. Satu lagi, kita di liburin seminggu," jelas Junhyeok.
"Harusnya dari kemarin ada informasi kaya gini," sahut Hyunsoo yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bang Unco udah baikan?" tanya Sungjun.
"Udah. Kalian bersih-bersih gih, mau ikut gue gak jenguk Taehun?"
Ketiganya tidak menjawab, mereka langsung bangkit dan berlari menuju asrama mereka.
"Bocah-bocahnya Taehun emang."
🕸🕸🕸
"Lo lama, Jun. Tinggal ketuk aja," ucap Hyunsoo.
Mereka sudah berada di rumah sakit, tapi untuk hanya mengetuk pintu ruang rawat rasanya enggan.
Hyunsoo menggeser Kyungjun. Baru saja tangannya hendak mengetuk tapi sudah ada yang membukanya terlebih dahulu dari dalam.
"Bibi," sapa mereka.
Nara tersenyum simpul saat melihat teman dari anaknya datang untuk menjenguk.
"Kalian masuk aja, Taehun juga udah sadar. Bibi mau keluar sebentar, tolong jagain ya."
"Iya Bi, pasti," jawab Hyunsoo.
"Makasih ya, kalau gitu Bibi pamit dulu," ucap Nara sebelum melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Setelah Nara pergi dari sana barulah mereka masuk. Aroma yang mereka cium ketika masuk ke dalam ruangan Taehun bukanlah alkohol atau obat-obatan melainkan wangi aroma terapi, meskipun bau obat-obatan itu tidak sepenuhnya tertutupi.
"Yow, whatsapp bro!"
Taehun yang semula diam melamun dengan menatap langit-langit akhirnya menoleh. Perlahan bibir pucat itu tersenyum.
Keempatnya duduk di sofa yang sedikit berjarak dari brankar Taehun. Mereka berencana untuk duduk di dekat Taehun secara bergantian, dan dimulai dari yang tertua, Kyungjun.
"Gue kira, gue gak bakal selamat," ucap Taehun.
"Kenapa ngomong kaya gitu?"
"Lo tahu sendiri, dan itu masih jadi trauma buat gue. Makasih ya, makasih udah mau nyari dan nolongin gue." Taehun mencoba untuk duduk, dengan sigap Kyungjun membantunya. "Buat kalian juga," lanjutnya seraya menatap empat orang temannya yang lain.
Kyungjun menghela nafasnya. "Ini udah jadi tugas kita. Seperti apa yang pernah lo bilang, kita itu bukan lagi sekedar teman, tapi keluarga dan sebagai keluarga kita harus saling membantu juga menjaga satu sama lain."
"Lo masih inget kata-kata gue yang itu?"
"Inget lah, gue gak gampang lupa."
"Tapi lo sering lupa naro dasi di mana," sahut Hyunsoo.
"Diem lo Unco. Nyaut mulu." Setelah mengatakan itu Kyungjun mendekatkan dirinya pada Taehun, lalu berbisik, "Hun, abis ini lo marahin Unco ya. Keras kepala banget dia, semalem abis demam tapi maksain ke sini."
Taehun mengangguk sebagai jawaban.
"Satu lagi, cepet sembuh. Sekolah kita ngadain penyelidikan buat kasus lo selama seminggu, gak ada lo asrama jadi sepi. Gue mau numpang tidur ya, kaga tidur gue gara-gara ngurusin si Unco," ucap Kyungjun sedikit mengeras di akhir.
"Gue gak minta di urusin sama, lo!" ucap Hyunsoo.
"Kalau bukan gue siapa lagi?"
"Gak ikhlas amat, lo."
"Dih, ngambek," ledek Kyungjun.
"Udah deh, kalian berdua mau jenguk gue apa adu bacot sih?" tanya Taehun.
"Bang, bahasanya bukan lo banget." Sungjun yang awalnya hanya menyimak kini buka suara.
"Apa?" tanya Kyungjun pada Hwi yang baru ingin menanggapi ucapan Sungjun. "Mau bilang ajaran gue?"
"Kok tahu sih? Ngerasa ya?"
"Nggak. Awas minggir, gue mau tidur." Kyungjun mengeser-geser Hwi yang berada paling ujung.
"Ngerasa itu," ucap Junhyeok pela .
"Junhyeok, gue denger ya!" Kyungjun yang sudah memposisikan diri untuk tidur menyahut.
🕸🕸🕸
Lima orang kini tengah berkumpul. Empat orang diantaranya adalah seorang siswa dan satu orang pria setengah baya. Mereka tengah membicarakan kejadian yang menimpa Taehun kemarin.
"Penyelidikan itu bukan dari pihak sekolah tapi dari orang tua Taehun sendiri. Pihak sekolah bahkan keliatan gak peduli sama kasus ini."
"Seperti apa yang gue bilang sebelumnya, sekolah ini dari zamannya gue segede kalian gak begitu peduli sama hal kaya gini. Mereka selalu berpikir kalau yang berlalu ya udah, berlalu aja dan mereka itu gak pernah mau belajar dari pengalaman."
"Wah, parah."
"Padahal buat keselamatan siswanya. Tapi yang masih gak gue ngerti kenapa banyak banget orang yang minat sekolah di sini?"
"Lo lupa? Sekolah kita itu sekolah elit, bergengsi lah kalau kata orang mah."
"Gue baru tahu kalau sekolah kita punya sisi gelap kaya gitu."
"Itu belum seberapa, masih banyak hal yang masih kalian belum tahu, apalagi sebelum kembakaran waktu itu."
"Kalau gitu ceritain."
"Bukannya gue gak mau, tapi gue gak bisa. Taruhannya nyawa gue dan keluarga kecil gue."
Ada yang bisa nebak 5 orang itu siapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
