Hari sudah semakin malam, tapi Taehun belum merasakan kantuk sama sekali. Ia hanya berdua dengan Sungjun saat ini, yang lainnya sudah kembali ke asrama atas permintaannya. Taehun tidak mau ada lagi temannya yang sakit karena kekelahan, apalagi seragam Kyungjun yang masih belum diganti. Sedangkan Sungjun, laki-laki itu bersikeras untuk menemani Taehun.
Tatapan miris dari Taehun untuk Hwi yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.
"Tidak ada luka yang dalam, jadi jangan terlalu khawatir."
Ucapan dokter membuatnya sedikit bernafas lega. Meskipun begitu, Taehun masih sangat khawatir. Kaki serta lengan Hwi penuh dengan perban, si pelaku melukai banyak tubuh Hwi hingga laki-laki itu kehilangan banyak darah.
"Hwi mana?" tanya Kyungjun.
"Gue juga gak tahu dia ke mana, tadi pamitnya ke kantin karena jamkos. Tapi gue udah cek kantin gak ada Hwi, gue juga udah telponin dia berkali-kali tapi gak di angkat," jawab Junhyeok panik setengah mati.
"Lo gak bareng dia?" tanya Hyunsoo yang mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Gue abis dari ruangn pak Junwook, Bang."
Hyunsoo benar-benar fokus pada ponselnya, bahkan ia tidak mendengarkan jawaban dari Junhyeok.
"Co, Hwi lagi ngilang loh! Lo malah main hp."
Tepukan di bahu membuat Kyungjun menatap aneh Hyunsoo, laki-laki bermarga Jang itu menunjukan lokasi di layar ponselnya.
"Gue aktifin gps di ponsel Hwi, ayo!"
Mereka mulai mengikuti arah dari ponsel Hyunsoo. Kyungjun sempat tak percaya karena arahnya menuju belang sekolah. Namun saat sampai di sana kakinya melemas, keadaan Hwi membuatnya tak bisa berkata-kata.
Dengan cepat ketiganya menghampiri Hwi dengan mata yang memerah menahan tangis juga amarah.
"Hwi bangun, Hwi!"
Kyungjun dan Hyunsoo yang teramat terkejut itu langsung menggapai Hwi dan membawanya dari sana. Sedangkan Junhyeok, laki-laki itu masih diam menatap darah temannya yang tertinggal di tanah.
Junhyeok berjongkok, mengambil kertas yang di lipat dekat dengan tempat Hwi tak sadarkan tadi. Kakinya tidak bisa menompang setelah membaca tulisan di kertas itu. Ia hampir saja jatuh terduduk jika saja tidak ada Doyoung yang menahannya.
Taehun tidak bisa membayangkan jika ia melihat Hwi dalam kondisi yang Kyungjun ceritakan. Surat itu, masih ada di dalam sakunya. Jika saja Junhyeok tidak memegangnya, mungkin barang itu akan menjadi bukti untuk mengusut kejadian ini. Meskipun Taehun akan tetap menyerahkan ini sebagai bukti.
"Bang."
Lamunan Taehun buyar saat Sungjun terbangun dan memanggil namanya.
"Hwi belum sadar juga?" tanya Sungjun yang berusaha untuk duduk.
"Belum."
"Kenapa Bang Tae gak tidur?"
Taehun menggeleng lemah. "Masih belum ngantuk," jawabnya.
Sungjun mendekat, ia duduk di samping Taehun lalu menyandarkan bahunya di pundak laki-laki yang sudah ia anggap kakaknya sendiri.
"Gue bisa tidur tenang baru hari ini lagi setelah dua hari gue mimpi buruk berakhir gak bisa tidur."
"Yaudah sekarang tidur."
Sungjun menggeleng dengan memejamkan matanya. "Lo gak mau nanya mimpi buruknya kaya gimana?"
"Enggak, gue udah tahu."
"Gimana?"
"Kejadian ini kan?" tanya Taehun karena ia juga memimpikan hal yang sama.
"Lo mimpi juga ya, Bang? Gue jadi gak terlalu kaget pas denger kabar Hwi."
Taehun mengangguk, tangannya mengusap lembut rambut Sungjun memberikan ketenangan. "Ini alesannya gak masuk sekolah?"
"Iya, Bang. Gue bener-bener ngantuk tapi pas mau tidur gue tetep gak bisa."
"Sekarang bisa kan? Udah sana balik tidur."
Sungjun mengangguk, lantas bangkit dan kembali ke tempatnya semula ia tidur.
Taehun menatap Sungjun dengan pandangan sendu. "Apa mimpi kejadian yang nimpa Hyunsoo juga bukan dari masa lalu?"
Ponselnya bergetar tanda panggilan masuk, setelah melihat nama yang tertera Taehun segera menolak panggilannya. Ia beralih pada room chat.
Mama
Hwi di rumah sakit|
Tae bantu jagain|
Taehun benar-benar lupa hanya untuk mengabari ibunya saja.
"Jangan pernah percaya sama apa yang Kim Nara ucapin, dia pembohong."
Perlahan mata itu terpejam sambil terus memikirkan ucapan Hyuna siang tadi. Ibunya itu memang kurang bisa dipercaya, Taehun mengakui hal itu.
🕸🕸🕸
Masih jam empat pagi tapi Hyunsoo sudah terbangun dari tidurnya. Ia rasa tidurnya sudah cukup dan yang ia lakukan sekarang adalah memainkan ponsel, mencari berita tentang sekolahnya.
Tidak Hyunsoo sangka jika kejadian yang menimpa Hwi menarik media masa. Biasanya kejadian apapun yang terjadi di sekolah mereka akan ditutupi serapat-rapatnya dari publik.
Hyunsoo teringat seseorang yang kemungkinan besar membawa kasus ini, Jang Hyuna.
Senyum itu kian mengembang setelah melihat reaksi dari orang-orang. Sekolah yang ia tempati mempunyai reputasi yang sangat amat baik, itulah sebabnya mereka selalu menutup rapat kasus apapun dari media.
"Kita bakal dapetin keadilan itu secepatnya," batin Hyunsoo senang.
"Masih pagi senyum-senyum sendiri, kesambet lo?"
Senyum Hyunsoo memudar seketika kala syara Kyungjun terdengar di telinganya. Tangannya meraih boneka di sisinya lalu melemparnya pada Kyungjun.
"Apaan anjir, lempar-lempar?"
"Udah lo jangan berisik, gue mau tidur lagi!" Hyunsoo kembali mencoba memejamkan matanya.
"Kaya gue gak tahu lo aja, Co. Kalau udah kenyang tidurnya gak usah di paksain lah. Pusing lo nanti."
"Udah lo diem, Malihhh!"
"Nama gue Kyungjun, bukan Malih!"
"Bodo!"
Kyungjun terkekeh pelan, ia juga mencoba untuk tertidur lagi karena menurutnya ini masih sangat pagi.
Ayo perhatiin setiap kata yang dibaca ya!
Happy 500 days with TNX. Stan The New Six!
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
