TIGA PULUH DUA

38 7 6
                                        

Sudah hampir lima menit Taehun dan Nara berada dalam situasi yang canggung. Niat Nara tadinya hanya mengantarkan segelas susu dan langsung kembali, tapi Taehun malah menyuruhnya untuk masuk.

"Apa yang pengen Tae bicarain ke Mama?" tanya Nara, memecah keheningan di antara keduanya.

Taehun diam sebentar lalu menjawab, "Tae mau nangih janji Mama."

Nara menyerit bingung. "Janji yang mana? Mama lupa kalau punya janji."

"Yang pas Tae masuk rumah sakit, Ma. Gimana Mama bisa tahu kalau Tae reinkarnasi?"

Nara tersenyum tipis. "Sini, duduknya deketan." Taehun menuruti apa yang ibunya katakan. "Mama dulu sekolah di tempat yang sama," lanjut Nara seraya merangkul bahu putra tunggalnya itu.

"Sama Tae, Ma?"

Nara mengangguk. "Iya, dan waktu itu Mama juga satu angkatan sama orang yang mukanya persis kaya anak Mama."

"Mama temenan sama dia?"

"Nggak, dia anak yang kurang bener, gak sopan dan suka bully orang. Pernah satu kali Mama luka gara-gara dia," jawab Nara.

"Nggak sayang, ucapan Mama barusan bohong. Sifat dia yang asli kebalikannya dari apa yang Mama ucapin. Itu juga alasan terbesar Mama kasih nama yang sama ke kamu," ujar Nara dalam hati.

"Kira-kira kenapa dia milih hidup lagi ya, Ma? Apalagi terlahir di keluarga yang rela anaknya mati demi harta."

Ucapan Taehun benar-bener menusuk hati Nara, tapi itu semua nemang benar. "Maaf, Mama ucapin maaf sekali lagi. Mama sama sekali gak mau kamu mati, itu sebabnya Mama minta tolong sama Hwi-"

Taehun menjauh dari Nara. "Bukan yang itu doang, Ma! Mama gak mungkin lupa apa yang udah Mama lakuin ke Tae dulu. Tidur di luar, gak ada jatah makan, gak boleh main bahkan Mama sering ngurung Tae di tempat sempit yang gelap!"

Nara sudah tidak bisa membendung air matanya. Ia mengakui kesalahannya dan ia benar-benar menyesal. Waktu itu, Nara masih memiliki banyak dendam pada Taehun di masa lalu.

"Sayang ... Maafin Mama. Mama beneran gak ada niatan buat bunuh kamu begitu juga ayah. Kami terpaksa," lirih Nara dengan air mata yang berderai.

"Mama perlu lakuin apa supaya Tae bisa maafin Mama? Bersujud? Akan Mama lakuin asal kamu bisa maafin Mama." Nara benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan.

Taehun menatap Nara tak percaya. "MAMA APA-APAAN SIH?!" Ia memegang bahu Nara agar berdiri. Menatap mata itu membuat hati Taehun tersentuh, Taehun tahu Nara sudah menyesali semunya, tapi untuk benar-benar memaafkan semua kesalahannya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Setelah puas memandangi air mata Nara yang menetes, Taehun memeluk tubuh Nara yang kini sudah lebih pendek darinya.

"Mama gak perlu sujud di hadapan Tae. Tae bisa maafin segala kesalahan Mama, tapi Tae bener-bener butuh yang lama untuk itu."

Nara melepaskan pelukannya, memandang wajah sang anak sebentar lalu kembali memeluknya. "Mama bakal tunggu waktu itu."

"Tae bakal berusaha lebih keras, tapi kalau Mama bisa jawab pertanyaan Tae dengan jujur."

"Apapun itu, pasti Mama bakal jawab jujur, asalkan kamu maafin kesalahan Mama," ucap Nara sambil memandangi wajah sang anak.

"Siapa yang udah suruh Mama buat racunin Tae?"

Nara tersenyum. Sekarang memang waktu yang tepat, tidak ada yang mengawasinya saat ini. "Lee Youngjae," jawab Nara yakin.

"Lee - Youngjae? Staf keamanan di sekolah Tae?"

Ibu dari Taehun itu membulatkan matanya. "Staf keamanan? Kayanya gak mungkin, bisa aja namanya sama tapi beda orang."

"Mama punya fotonya?"

Nara menggeleng. "Buat apa?"

Taehun tidak menggubris pertanyaan Nara, yang ia lakukan saat ini adalah mengutak-atik ponselnya, mencari foto organisasi sekolah yang seingatnya ada di galeri ponsel miliknya.

"Lee Youngjae yang Mama maksud temen seangkatan Mama, dia kerja di bawah perusahaan besar yang bekerja sama sama perusahaan Ayah. Jadi gak mungkin mereka orang yang sama."

Seketika pergerakan Taehun terhenti, foto yang ia cari sudah ia temukan dan ada hal yang perlu ia tanyakan lebih lanjut. "Temen seangkatan Mama? Dia juga kerja di perusahaan orang? Terus apa tujuan dia nyuruh Mama ngelakuin hal itu? Supaya anak Mama ini mati kan? Terus keuntungan buat dia apa Ma?"

Nara benar-benar terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan Taehun. "Mama ... Mama beneran gak tahu."

Taehun terkekeh pelan. "Mama gak se-kepo itu ternyata. Yang penting perusahaan tetep aman ya, Ma?" Taehun mengangkat ponselnya hingga berada di depan wajah Nara. "Ini kan Ma, orangnya?"

"Dia-"

"Bener kan, Ma?"

"Iya, dia orangnya."

Mendengar jawaban dari Nara membuat Taehun tersenyum hambar.

"Gak heran kenapa gue bisa tiba-tiba ada yang nyekap padahal kemungkinan orang lain masuk ke lingkungan sekolah minim. Pelakunya orang dalem ternyata," batin Taehun.

"Makasih, Ma. Tae capek, Tae mau istirahat." Taehun berbaring di kasurnya, sebelum itu ia sempat meminum susu buatan Nara.

Nara mengerti apa yang anaknya maksud, ia keluar dari sana tak lupa menutup pintunya.

Setelah memastikan Nara benar-benar keluar, Taehun kembali mengambil ponsel miliknya.

Hyunsoo

Co|
Gue udah tahu pelaku|
yang nyuruh bokap sama|
nyokap gue|

|Siapa?
|Lo tahu dari mana?

Lee Youngjae|
Staf keamanan di sekolah kita|
Dari nyokap gue|

|Gila
|Kok bisa?
|Lee Youngjae loh, lo
|gak salah kan?

Terserah lo mau percaya|
atau nggak, pokoknya lo|
sama yang lain mesti|
hati-hati|

|Maksud gue bisa aja
|cuma nama yang sama

Gue udah kasih liat fotonya|
dan emang sama|












Taehun berani banget ya?
Stan The New Six🏁

Big Secret (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang