TIGA PULUH ENAM

33 8 12
                                        

"Darah di baju lo ini, darah Hwi kan? Jawab gue Woo Kyungjun!" Taehun menggoncang bahu Kyungjun agar dia menjawab pertanyaannya, tapi yang Kyungjun lakukan hanya diam sambil terus terisak.

"ARGHH!!" Taehun berteriak, ia terduduk di lantai dengan tangan yang terus meremas rambutnya.

"Kak Taehun!"

Jia yang saat itu baru datang bersama Hyuna, Jina dan Minsoo langsung menghampiri Taehun dan menghentikan tangannya yang terus meremat rambut itu.

"Kak, jangan kaya gini." Jia memeluk tubuh rapuh Taehun, hatinya ikut teriris melihat Taehun seperti ini.

Sedangkan yang lainnya hanya memandang apa yang Jia lakukan. Jangankan menenangkan, mereka juga butuh ditenangkan.

Kyungjun terus memandangi kertas yang berada di tangannya. Ia belum berani menyerahkan kertas itu pada pada Taehun.

"Hun, kalau lo terus kaya gini, itu tandanya lo nyalahin gue atas semua yang terjadi sama Hwi! Gue emang gak becus Hun!"

Taehun yang mendengar itu langsung berdiri dari pelukan Jia. "Ngomong sekali lagi, Jun! Semakin lo nyalahin diri lo, semakin gue ngerasa gak berguna!"

"Lo ngerasa gak berguna sedangkan lo gak ada di sana? Terus gue apa, Hun?! Gue yang paling tua di antara mereka, harusnya gue bisa jaga. Tapi gue gak bisa ..." Kyungjun terus terisak seraya mengguncang bahu Taehun. "Sekali pun, gue gak akan pernah bisa gantiin posisi lo." Kyungjun menarik tangan Taehun lalu menyerahkan selembar kertas yang terlipat sebelum akhirnya pergi dari sana.

Taehun membuka kertas yang ada di tangannya. Hatinya kembali mencelos ketika membaca tulisan yang ada di kertas itu.

Pergi atau mati.

Tulisan yang sama seperti di kamar mandi waktu itu. Tapi kali ini ditulis bukan menggunakan pewarna merah, tapi darah.

-terima kasih atas tintanya Eun Hwi.

Taehun mengepalkan tangannya yang bergetar. Tulisan itu ditulis menggunakan darah dari temannya sendiri.

"Ternyata bukan karena gak sopan," gumam Minsoo pelan setelah melihat apa yang terjadi di depannya.

"Gue ngersa deja'vu," lirih Hyuna. "Kalian masih inget, dulu kita nemuin dia udah gak bernyawa di belakang sekolah?"

"Kita masih inget itu, sekarang kita berdoa supaya kejadian di masa lalu gak terulang ke mereka," ucap Jina seraya merangkul bahu Hyuna.

"Youngjae harus dapetin hukuman yang setimpal," ujar Minsoo.

"Kita gak punya bukti, lagi pula belum tentu beneran Youngjae yang bunuh mereka dulu."

🕸🕸🕸

Bugh.

Bugh.

Bugh.

"PARK JEONGWOO, UDAH!"

"WOO, SADAR WOO!"

Jeongwoo sama sekali tidak mendengarkan teriakan dari Haruto dan juga Doyoung. Fokusnya saat ini hanya Youngjae yang sama sekali tak melawan.

Doyoung sudah sangat geram dengan tindakan Jeongwoo. Laki-laki itu terlalu gegabah. Tangannya menarik Jeongwoo sekuat tenaga agar menjauh dari Youngjae, dan kali ini berhasil. Doyoung dan Haruto sudah berkali-kali mencoba memisahkan Jeongwoo, tapi hasilnya nihil.

"DIA HARUS NERIMA SEGALA KONSEKUENSINYA, KAK! JANGAN TAHAN GUE!!"

"Gue gak tahu apa yang lo maksud di sini, Jeongwoo!" ujar Youngjae.

Haruto mengunci pergelangan Youngjae. "Diem lo tua bangka! Lo itu udah tua, harusnya nggak banyak cari masalah."

"Apa? Gue gak ada cari masalah apapun."

"Gak usah pura-pura! Gue tahu lo kan yang ngancam orang tua nya Bang Tae? Iya kan?!" Jeongwoo mencoba menerobos pertahanan Doyoung.

"Diem dulu, Woo!" ucap Doyoung yang semakin kewalahan.

"Gue gak ada ngancam apapun-"

Bugh!

"Kak, kenapa lo lepasin?!" Haruto sedikit berteriak sambil mencoba menghalagi Jeongwoo.

"Biarin, To. Jeongwoo gak bakal bikin dia sampe mati kok, lo tenang aja," ujar Doyoung yang nyatanya ia sudah kehabisan tenaga hanya untuk menghalangi Jeongwoo.

Jeongwoo menepuk pundak Haruto. "Minggir, To. Gue cuma mau ngasih sedikit pelajaran buat dia."

Akhirnya mau tidak mau Haruto menyingkir dari sana.

Jeongwoo kembali memukul, meninju bahkan menendang Youngjae tanpa belas kasihan.

"Berhenti Park Jeongwoo! Gue paman lo!"

"Gue gak punya paman kaya lo, Lee Youngjae!

Doyoung dan Haruto bukannya memisahkan, mereka malah duduk dan menyaksikan Youngjae yang akhirnya mau tidak mau melawan keponakannya sendiri.

Mereka masih berada di lingkungan sekolah, tepatnya di ruang keamanan.

Ruang keamanan yang tidak aman.

Bugh!

Satu pukulan dari Youngjae mengenai wajah Jeongwoo. Ia benar-benar tak sengaja.

"Woo-"

Bugh!

Satu pukulan kuat membuat Youngjae jatuh tersungkur.

"Haruto iket dia!"

Dengan semangat yang membara Haruto menuruti perintah Jeongwoo. Ia mendudukan Youngjae di kursi lalu mengikat tangan serta kakinya.

"Lepasin gue Haruto!"

Haruto berdecak pelan. "Bang Taehun aja lo iket kaya gini, masa lo gak mau di iket juga? Gak adil dong."

"Jadi kalian ngira kalau gue pelakunya?" tanya Youngjae.

"Bukan ngira sih, kan emang lo pelakunya," ujar Doyoung.

"Bukan gue!" Youngjae mencoba melepaskan ikatannya.

"Terus siapa? Lo yang jaga tiap hari sekolah ini, lo juga yang mantau cctv, mau gue salahin pak Junwook? Ya gak nyambung lah!"

Bugh!

Jeongwoo melayangkan pukulannya lagi. Dengan cepat Doyoung menarik Jeongwoo agar sedikit menjauh.

"Woo, gue izinin lo mukul dia cuma buat ngasih pelajaran. Kalau lo terus-terusan pukulin dia, dia bisa mati. Kalau lo bikin dia mati, lo gak ada bedanya sama dia bahkan lebih parah," ucap Doyoung.

Jeongwoo diam mendengar ucapan Doyoung. "Gimana kalau ternyata dia juga penyebab kita mati di kehidupan sebelumnya? Ratusan nyawa dibayar satu nyawa kedengerannya gak adil kan, Kak?"

"Bukan gue pelakunya! Justru gue juga korban Park Jeongwoo! Lo harus percaya sama paman lo!" Youngjae membela diri

"Kalau bukan lo siapa? Sebutin namanya!"

"Gue gak bisa untuk yang itu, keluarga gue bisa kenapa-napa. Gue cuma bisa jujur pelaku yang  ancam orang tua Taehun dan pelaku penyekapan Taehun," ujar Youngjae menelan di akhir.

"Yaudah siapa?"

"Yang ngancam itu emang gue dan yang nyekap itu Yujin."

Bugh!










Ada yang mau di sampein buat Lee Youngjae sama Park Yujin?

Stan The New Six guys!

Big Secret (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang