DUA PULUH TIGA

37 8 1
                                        

Sekolah sudah semakin sepi, tapi keenam remaja ini masih berada di sekolah.

Sore ini mereka berencana untuk kembali masuk ke ruangan yang mereka sebut-sebut sebagai gudang.

"Udah sepi kayanya, udah aman," ucap Hyunsoo sambil melihat konsidi sekitar.

"Beneran, Co?"

"Iya beneran."

Sesuai instruksi dari Hyunsoo, Taehun yang memegang  kunci perlahan mulai mencoba membukanya.

Tanpa ada hambatan pintu itu terbuka dengan mudahnya. Satu persatu dari mereka mulai memasuki ruangan itu, hingga Hwi sebagai orang terakhir yang masuk menutup kembali pintunya.

Kotor dan berdebu adalah kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan tempat yang mereka pijak saat ini. Wajar saja, tempat ini tidak terurus juga jarang di bersihkan.

"Kita mulai dari mana?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Kyungjun.

"Bagi aja gimana?" usul Taehun.

"Boleh, ruangan ini cukup gede. Tapi gue gak mau sendiri," ucap Hyunsoo.

"Yaudah berdua-berdua. Lo Hyunsoo sama Junhyeok, gue sama Kyungjun, Hwi sama Sungjun," kata Taehun.

Mereka semua mengangguk setuju. Setelah itu mereka mulai berpencar.

"Gila, ini isinya 60% debu," eluh Hwi.

"Iya, kaya gak pernah di bersihiin aja."

Hwi dan Sungjun berada di pojok kanan bagian barat, di sana terdapat banyak kertas-kertas tanpa sampul.

"Hwi, lo yakin gak sih kalau kita bisa mecahin masalah ini?" tanya Sungjun yang mulai memeriksa satu persatu tumpukan kertas di sana.

"Yakin gak yakin sih."

Sungjun menghela nafasnya berat. "Gue sebenernya belum begitu ngerti sih, kenapa kita yang harus ada di posisi ini."

"Lo yang mimpiin kejadian kebakaran itu aja gak ngerti apalagi gue yang gak ada petunjuk sama sekali."

"Soalnya di sana cuma ada gue sama bang Tae."

"Berarti ada kemungkinan kalau gue sama yang lainnya bukan salah satu dari korban kebakaran itu dong?"

Sungjun mengangkat bahunya. "Gue rasa iya, tapi gak tahu juga."

"Yaudah lah, nanti juga ketahuan sendiri," ucap Hwi asal.

Sungjun tidak mengacuhkan ucapan Hwi, meskipun dalam hatinya ia berharap begitu.

Beralih pada Taehun dan Kyungjun. Dua orang itu tengah memeriksa tumpukan berkas.

"Gila, ini udah dari tahun berapa? Banyak banget anjir." Kyungjun menatap lemas tumpukan berkas di sekelilingnya.

"Kayanya masih dari tahun 80-an deh," jawab Taehun. "Kertasnya aja udah pada rusak dimakan rayap."

"Gue gak yakin bisa nemuin petunjuk di sini, Hun."

"Pesimis aja lo! Namanya berusaha."

Sempat hening diantara keduanya, tapi tidak berlangsung lama setelah Kyungjun memanggil Taehun dengan nada panik.

"HUN!"

"Gak usah teriak bangke!"

"Hun, itu." Kyungjun bangkit lalu bersembunyi di belakang Taehun.

"Lo apa-apaan sih? Ada apaan?"

"Itu Hun, itu." Tangan Kyungjun terus menunjuk buku yang baru saja ia buka.

"Itu, itu apaan Justinn? Jangan sampe gue tinggal lo ya!"

"Kecoa terbang!"

"Anjir mana?" tanya Taehun panik.

"Sekarang deket sepatu lo bangke."

Taehun melihat ke bawah, dan benar saja kecoa itu sudah sangat dekat dengan sepatunya. Saat itu juga Taehun berlari menjauh meninggalkan Kyungjun.

"Woy Hun, tungguin gue!"

Terjadilah lari-lari seperti anak kecil hanya karena satu kecoa.

Sementara di sisi lain, Junhyeok dan Hyunsoo menemukan tumpukan foto yang benar-benar usang.

"Ini tahun 98 tapi gak kena rayap, kok bisa ya?" Pertanyaan unfaedah itu datang dari Hyunsoo.

"Ya mana gue tahu, Bang. Tanya aja sama rayapnya, kenapa gak nyentuh foto-foto ini," ucap Junhyeok.

"Nggak dulu, gue masih waras."

"Tumben, lo."

"Gue dari dulu emang- Jun! ini foto lo kan ya?" ucap tanya Hyunsoo sambil mengangkat foto yang ia temukan.

Junhyeok mendongak untuk melihatnya. "Anjir lo, Bang. Gue kira beneran."

Hyunsoo mengerutkan alisnya. "Lah, bukan?" Laki-laki bermarga Jang itu membalikan fotonya, dan ternyata ia salah mengambil. "Yang ini maksud gue, Jun," lanjut Hyunsoo setelah menukarnya.

"Lah, beneran gue ini mah!" ucap Junhyeok terkejut. "Tapi seinget gue, gue gak pernah foto begini."

"Coba sini gue liat." Hyunsoo merebutnya kembali dari Junhyeok. "Jun, ini foto tahun 90-an. Di kanan bawah ada tanggalnya, di sini 4 Januari 1990."

"4 Januari? Bang, lo masih inget tanggal kebakaran itu gak?"

Hyunsoo mencoba mengingat-ingat. "Kalau gak salah 23 Juli. Tapi bentar, gue cek lagi."

Selagi menunggu Hyunsoo yang kembali mencari berita yang pernah mereka temukan beberapa minggu lalu, Junhyeok kembali mencari foto-foto temannya yang lain.

"Artikelnya ilang, Jun," ucap Hyunsoo.

"Yang bener lo? Lo kurang teliti kali, Bang. Coba sekali lagi."

"Gue udah coba berkali-kali, Jun."

"Lo gak simpen waktu itu? Screenshot atau apa gitu?"

Hyunsoo menggeleng. "Nggak. Argh... Bodoh banget gue! Kenapa gak kepikiran buat screenshot coba, padahal di situ ada nama penulisnya."

Junhyeok menghela nafasnya berat. "Yaudah lah, Bang. Nanti kita tanyain ke yang lain, siapa tahu mereka inget. Sekarang kita fokus cari sesuatu yang emang bisa jadi petunjuk kita."

Akhirnya Hyunsoo mengangguk, meski dalam hatinya ia masih merutuki dirinya sendiri.

Satu persatu mereka menemukan foto teman-temannya yang lain, dimulai dari Hwi, Hyunsoo dan Kyungjun. Kini tersisa dua foto lagi yang belum mereka temukan, foto milik Taehun dan Sungjun.

"Gila, punggung gue pegel banget," eluh Hyunsoo.

"Bukan lo doang, gue jug," balas Junhyeok.

Meskipun mengeluh tapi mereka seakan enggan untuk bangkit dari sana.

"Bang," panggil Junhyeok.

"Kenapa?" jawab Hyunsoo tanpa melihat ke arah Junhyeok yang memanggilnya.

"Bang ini."

Karena penasaran Hyunsoo mendongak dan melihat tangan Junhyeok yang gemetar sambil memegang empat foto.

"Me-mereka reinkarnasi juga?"





Nah loh, kira-kira siapa ya?
Sesekali up siang hehe...

Big Secret (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang