Taehun dan Kyungjun berdecak kesal. Pagi ini secara bersamaan mereka lupa membawa buku mata pelajaran dan berakhir mengelilingi lapangan sebagai gantinya.
Sedangkan dari tepi lapangan, Hyunsoo tak henti-hentinya tertawa. Laki-laki itu yang mengitung putaran mereka.
"Unco, lo niat ngituingin apa niat ketawa doang, sih!" Kyungjun sudah kesal melihat Hyunsoo yang tidak serius menghitung.
"Iya-iya, sorry," jawabnya.
"Tinggal berapa lagi, Co?"
"Nggak tahu, gue lupa." Bukan Jang Hyunsoo jika tidak jail.
"JANG HYUNSOO!"
Hyunsoo tertawa mendengar teriakan Taehun, ia berhasil membuat dua orang yang tengah mendapatkan hukuman itu marah.
Tatapan tajam dari Taehun akhirnya membuat Hyunsoo sadar dan merubah raut wajahnya menjadi serius. "Iya, gak usah kaya gitu. Lo pada baru enam putaran, masih sisa empat!"
"Lo dari pada ngetawain kita, mending beliin kita minum," sahut Kyungjun yang melanjutkan hukuman larinya.
Hyunsoo berdecak, ia mengambil ponsel miliknya lalu mengetik sesuatu di sana.
Di tengah kegiatannya itu, Hyunsoo merasakan hawa yang aneh. Jantungnya berpacu lebih cepat, ia merasa ada seseorang yang mengintip kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Hyunsoo mengedarkan pandangannya, ia sangat yakin dengan persaaannya. Dan ya, perasaannya tidak salah. Meskipun tidak ada orang selain mereka, masih ada cctv yang sejak awal memantau pergerakan mereka.
"WOY WOO KYUNGJUN!" Teriak Hyunsoo.
"APA?" Kyungjun yang berada di ujung sana menjawabnya dengan teriakan juga.
Tangan Hyunsoo melambai agar sang empu mendekat kearahnya. Akhirnya bukan hanya Kyungjun, Taehun juga mendekat ke arah Hyunsoo.
"Berisik mulu, ada apa? Kita udah nambah satu putaran," ucap Kyungjun.
"Lah, bukannya masih enam?"
Taehun melongo tak percaya. "Wah ... Jun, nih bocah gak bener ngitungnya. Pantes rasanya gak selesai-selesai. Enaknya diapain nih?"
"Serang gak sih, Hun?"
"Kenapa nggak? Gas lah!"
Sebelum keduanya mendekat, Hyunsoo sudah berlari terlebih dulu.
"JANG HYUNSOO! BERHENTI ANJEER!"
Terjadilah saling kejar satu sama lain. Mereka sampai melupakan jika mereka sudah berada di kelas akhir yang tak lama lagi akan menghadapi ujian.
"Udah Jun, Hun! Gue capek!" Hyunsoo berhenti dan mengatur nafasnya.
Taehun dan Kyungjun ikut berhenti dan langsung merangkul Hyunsoo dari sisi kanan dan kiri.
"Woy anjir! Sakit bangke!"
Taehun dan Kyungjun tertawa puas setelah mendengar teriakan Hyunsoo. Mereka berdua mencubit lengan Hyunsoo hingga sang empu menjerit.
"Gue mau momen kaya gini keulang lagi."
"Bang!"
Teriakan itu berasal dari Sungjun yang sudah berada di tepi lapangan bersama yang lainnya.
Di saat yang sama mereka tersadar jika jam istirahat sudah dimulai.
"Gara-gara lo, Co. Gue sampe gak sadar kalau udah jam istirahat," ucap Kyungjun.
"Lah, nyalahin gue."
"Ya emang salah lo, Unco."
"Anjir, gue dong yang salah?" Hyunsoo menyusul Taehun juga Kyungjun yang sudah berjalan lebih dulu darinya.
Sungjun datang bersama Junhyeok, Doyoung, Haruto, Jeongwoo dan juga Jia. Ia tak lupa nembawa air mineral yang di pesan Hyunsoo.
"Kalian bertiga ngapain dah kejar-kejaran?" tanya Doyoung.
"Hyunsoo gak bener ngitunginnya, Doy," jawab Taehun.
"Gue mulu," ucap Hyunsoo.
"Nasib, Bang," timpal Junhyeok.
"Sialan," umpat Hyunsoo. "Eh, Woo. Paman lo yang itu ada di sekolah gak?"
Jeongwoo yang merasa di tanya mengangkat bahunya. "Nggak tahu, Bang. Emang kenapa? Mau ngasih pelajaran? Ayo gue ikut!"
"Nggak ada. Kemarin-kemarin dia babak belur gara-gara lo ya, Woo," ucap Doyoung.
"Kriminal kaya dia segitu mah masih kurang. Minimal masuk penjara seumur hidup lah."
"Buset, gak sekalian hukum mati?" ucap Junhyeok memelan di akhir.
"Hush, gak boleh gitu, Jun," tegur Kyungjun.
"Santai kali Kak. Jun, harusnya suara lo lebih keras biar kedengeran sama orangnya," kata Jungwoo yang menunjuk satu arah.
Semua mata mereka kini tertuju pada arah yang Jeongwoo tunjuk. Di sana, Youngjae berdiri dengan wajah yang penuh lebam.
Melihat semua mata itu tertuju padanya membuat Youngjae menundukan kepalanya. Iya malu, benar-benar malu. Maka dari itu, hari ini ia akan menebus segala dosanya.
Tanpa ragu Youngjae melangkahkan kakinya menuju mereka. Meskipun begitu, setiap langkahnya terasa berat. Sesampainya di sana, Youngjae benar-benar menjatuhkan lututnya.
Mereka semua terkejut, kecuali Jeongwoo. Laki-laki bermarga Park itu sudah menduga hal ini sebelumnya.
"Buat apa berlutut di hadapan kami?" tanya Taehun tanpa ada niatan membantunya berdiri.
"Maaf, saya banyak salah. Tapi dalang dari semua ini bukan saya, tapi Daeyoon, Seo Daeyoon. Ayah dari Seo Jia."
Tak mendengar respon apapun membuat Youngjae menatap mereka satu persatu dengan tatapan bingung. Wajah mereka tidak ada reaksi apapun.
"Pengakuan macem apa itu, Youngjae? Lo pikir kami bakal percaya? Bangun lo, gak ada gunanya lo berlutut di hadapan temen-temen gue, mereka gak akan pernah percaya kalau gak ada bukti." Siapa lagi yang berani berbicara seperti itu jika bukan Jeongwoo.
Youngjae mengerti sekarang, anak-anak di hadapannya saat ini bukan manusia yang mudah dibodohi. Tak heran jika Daeyoon ingin menghabisi mereka untuk kedua kalinya.
Youngjae bangkit, matanya menatap mereka satu-persatu lalu bergenti di Taehun. "Sesegera mungkin bukti itu akan ada."
"Kami tidak butuh omong kosong, jadi tolong buktikan semuanya," ujar Taehun.
"Satu hari, itu sudah lebih dari cukup. Besok malam, saya akan pergi ke asrama kalian."
"Terserah, ayo pergi." Kyungjun berjalan terlebih dulu setelah mengatakan hal itu.
"Gara-gara lo, Daeyoon. Gue sekarang sama sekali gak dapetin kepercayaan dari keponakan gue sendiri. Dia orang yang paling deket sama gue sekarang jadi orang yang paling benci sama gue."
Kira-kira Youngjae bisa dapetin bukti itu gak ya?
Stan The New Six guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
