Di meja bundar mereka saling pandang satu sama lain. Setelah acara memeluk Jia yang dilakukan Hyuna dan Jina secara tiba-tiba membuat kelimanya dilanda rasa canggung.
Jina memberi kode pada Taehun agar segera memulai percakapan.
Taehun yang mengerti apa yang Jina maksud hendak nemulai percakapan, tapi-
"Mau diem-dieman aja nih?" tanya laki-laki bernama Minsoo.
Taehun tersenyum tipis. "Sebelumnya maaf Pak, Bu-"
Mendengar panggilan dari Taehun membuat Minsoo tertawa renyah. Oh ayolah, dia merasa belum setua itu untuk dipanggil bapak.
Jika ditanya malu apa tidak, maka Jina akan menjawab sangat malu mempunyai teman seperti manusia bernama lengkap Kim Minsoo ini.
Injakan dikedua kakinya membuat Minsoo berhenti tertawa. Tatapan tajam dari kedua orang di sisi kanan dan kiri membuatnya bergidik ngeri.
"Iya-iya maaf. Lagian gue ngerasa belum setua itu buat dipanggil Bapak. Gini aja, panggil kita kakak," ucap Minsoo.
"Lo udah tua juga, gak ada wibawanya sama sekali ya? Heran gue," kata Hyuna. "Anak manis, maaf ya tadi Kakak terlalu seneng liat wajah kamu yang mirip banget sama temen Kakak dulu," lanjutnya pada Jia.
Minsoo berdecih pelan. "Mau juga lo di panggil 'Kakak'."
Hyuna tidak menghiraukan ucapan Minsoo, matanya terus menatap wajah Jia. "Andai kamu masih hidup, Ji."
"Tuan Minsoo yang terhormat, apa anda sudah percaya dengan apa yang saya katakan tempo hari?" tanya Jina pada Minsoo yang pernah menyebutnya tidak pantas mengarang karena profesinya sebagai perawat.
"Kan bisa aja kebetulan mirip, Na."
"Taehun, boleh Kakak liat foto yang kemarin?"
Taehun mengangguk, tangannya mengutak-atik ponsel guna mencari foto yang sempat ia tunjukan pada Jina kemarin.
"Kakak beneran kenal kami?" tanya Taehun seraya menyerahkan ponselnya.
Jina mengangguk, lalu mengoper ponsel Taehun pada Minsoo.
"Jina, lo gak salah manggil dia Taehun?" tanya Hyuna.
"Namanya emang Taehun," jawab Jina.
"Nama kamu beneran Taehun?" tanya Hyuna memastikan.
Taehun mengangguk. "Iya, Taehun. Choi Taehun, dan dia Seo Jia."
Hyuna menatap dua orang di depannya sambil menutup mulutnya tak percaya. "Jin, mereka- bukan cuma wajahnya yang sama tapi namanya juga."
Minsoo menepuk-nepuk pundak Hyuna. "Na, lo harus liat ini," ucapnya seraya menunjukan foto dari ponsel Taehun.
Mata Hyuna seketika berkaca-kaca. Ternyata selama ini yang di ucapkan Jina benar, tapi dia dan Minsoo sekalipun tidak pernah mempercayainya. Bahkan kemarin, ia hanya mengira bahwa Jina bercanda jika orang yang sangat mirip Taehun di masa lalu ingin bertemu dengannya.
"Kalian ... Sungjun, Junhyeok, Hwi, Kyungjun, Hyunsoo dan kamu?" Hyuna menatap Taehun.
"Mereka di tahun 1990, kalian kenal mereka?" tanya Taehun.
Sekarang ketiganya menatap tak percaya. Tahun kelam itu, tahun di mana mereka kehilangan banyak teman.
"Kami kenal mereka, mereka sudah seperti keluarga kami. Tapi, dari mana kamu tahu tahun itu?"
"Kami reinkarnasi dari mereka." Bukan Taehun yang menjawab, melainkan Jia. "Bukan hanya kami bertujuh, tapi masih ada Kim Doyoung, Haruto juga Jeongwoo," lanjutnya.
"Itu tujuan kami mau ketemu Kak Hyuna." Hyuna menoleh pada Taehun.
"Karena kalian tahu aku kenal mereka?"
Taehun mengangguk. "Kak Hyuna kan yang bikin berita kebakaran asrama tahun 1990? Kami butuh-" ucapan Taehun terhenti karena ponsel miliknya yang berada di hadapan Hyuna berdering.
"Panggilan masuk." Hyuna menyeahkan ponsel itu.
Tanpa ragu Taehun menggeser tombol hijau, menjawab panggilan dari Hyunsoo.
"Kenapa, Co?"
"Hun, ....."
Tanpa berpikir panjang Taehun segera beranjak dan pergi dari sana tanpa pamit, bahkan ia lupa jika pergi bersama Jia, rasa panik membuatnya tak sadar.
"Taehun," panggil Jina yang melihat Taehun pergi begitu saja.
"Gue jadi gak percaya dia reinkarnasi, Taehun yang gue kenal gak-"
"Kak, maaf. Jia juga harus pergi." Jia hendak melangkah, tapi pergelangan tangannya dicekal Hyuna.
"Ada apa? Kenapa kamu panik?" tanya Hyuna melihat raut wajah Jia.
"Kak, Hwi masuk rumah sakit. Jia harus susul Kak Taehun."
"Ayo kita ikut." Hyuna yang terkejut menarik tangan Jia menuju mobilnya.
"Ayo," kata Jina yang melihat Minsoo hanya diam.
"Kalian aja," jawab Minsoo.
"Gak usah bodoh Minsoo! Ayo!" Jina menarik-lebih tepat menyeret tangan Minsoo agar ikut dengan mereka.
🕸🕸🕸
Keadaan di rumah sakit benar-benar kacau. Kyungjun, Junhyeok dan Sungjun duduk terdiam di depan ruangan UGD. Kata terakhir dari dokter membuat mereka seperti ini.
"Pasien kehilangan banyak darah."
Kyungjun, laki-laki itu tidak ada hentinya menangis, ia sama sekali tidak peduli dengan seragamnya yang bersimbah darah. Matanya tak terlepas dari kertas yang berada di tangannya.
"Jun, di mana Hwi?" tanya Taehun yang baru datang. "Jawab gue Kyungjun! Di mana Hwi?!"
"Hwi masih di dalem, Hun," jawab Kyungjun pelan.
"Keadaannya gak parah kan?" satupun dari ketiga temannya yang ada di sana tidak ada yang menjawab. "Sungjun?"
Sungjun menggeleng. "Kita belum tahu," jawabnya menunduk.
Taehun meremas rambutnya prustasi. "Di mana Hyunsoo?"
"Bang Unco lagi donorin darahnya buat Hwi, dia kehilangan banyak darah, Bang." kali ini Junhyeok yang menjawab.
Taehun benar-benar lemas setelah mendengar jawaban dari Junhyeok.
Dukh.
Kyungjun bersimpuh di hadapan Taehun. "Hun ... Maaf. Gue- gue gak becus jagain mereka," ucap Kyungjun dengan badan yang masih bergetar karena menangis.
"Lo apa-apaan Woo Kyungjun?!" tanya Taehun sedikit membentak, ia menarik Kyungjun untuk berdiri. Matanya menangkap noda darah yang berada di seragam Kyungjun.
Taehun memeluk Kyungjun, ia juga menangis di sana. "Kenapa lo minta maaf ke gue?" tanya Taehun setelah melepaskan kembali pelukannya. "Jawab gue!"
"Darah di bahu lo ini, darah Hwi kan? Jawab gue Woo Kyungjun!" Taehun menggoncang bahu Kyungjun agar dia menjawab pertanyaannya, tapi yang Kyungjun lakukan hanya diam sambil terus terisak.
"ARGHH!!" Taehun berteriak, ia terduduk di lantai dengan tangan yang terus meremas rambutnya.
"Kak Taehun!"
Makin gawat nih.
Stan The New Six guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
