EMPAT PULUH TUJUH

40 8 17
                                        

Hari sudah semakin gelap, tapi mereka sama sekali belum menemukan Hyunsoo.

Taehun menatap teman-temannya, ia tahu jika mereka sudah lelah. Sekolah dengan ukuran yang luas sangat melelahkan untuk di cek setiap sudutnya.

"Ji, lo balik ke asrama aja. Ini udah mau malem," ucap Taehun pada Jia.

"Tapi Kak-"

"Masih ada gue, Jeongwoo, Bang Taehun, Kak Kyungjun, Kak Doyoung, Junhyeok sama Sungjun. Kita gak akan pulang sebelum ketemu bang Hyunsoo," ucap Haruto.

Ucapan dari sepupunya itu membuat Jia mengangguk mengerti. Ia akhirnya pamit sebelum pergi dari sana.

Mereka menatap kepergian Jia dengan harapan anak itu akan baik-baik saja. Meskipun target utamanya adalah Hyunsoo, tetap saja hal ini jadi ke-khwatiran.

"Apa mereka udah bawa Bang Unco pergi?" Pertanyaan itu datang dari Junhyeok.

"Gue juga mikirnya gitu sih, Jun," imbuh Taehun.

Kyungjun menggeleng tak setuju. "Gue yakin kalau Hyunsoo masih ada di sekolah ini."

"Kalau dari cerita kalian yang tempat kehidupan berakhir itu bener, kemungkinan bang Hyunsoo di bawa ke sana lagi gak sih? Tanpa sadar dia bisa ngulangin hal yang sama," ujar Haruto.

"Gudang ya? Bisa jadi sih. Apa kita cek aja?"

Saran dari Kyungjun membuat Junhyeok menghela nafasnya kasar. "Lewatin tangga kematian itu lagi dong? Mana udah mau malem, di gudang juga agak serem, Kak."

"Justru karena serem mereka berpikiran kalau kita gak akan ke sana," ucap Doyoung.

"Yaudah deh, ayo. Tapi gue gak mau di belakang."

Akhirnya mereka memutuskan untuk mengecek gudang atas saran dari Kyungjun.

Berjalan dengan langkah pelan membuat mereka semakin lama sampai pada tujuan. Suasana yang sepi membuat mereka terpaksa berjalan lambat dan pelan.

Tiap langkah membuat jarak mereka semakin dekat dengan gudang, tiap langkah juga rasa cemas dan takut semakin tak karuan.

Taehun yang berada paling depan tiba-tiba berhenti, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sungjun yang berada di sampingnya pun ikut berhenti.

"Kenapa, Bang?" tanya Sungjun.

Taehun membalikan badannya ke belakang dan kosong. Tidak ada orang lagi selain dirinya dan Sungjun.

"Bang, yang lainnya ke mana?"

Tidak ada yang bisa Taehun katakan, ia benar-benar terkejut. Mereka sudah berjalan lambat agar tidak ada yang tahu jika mereka masih berada di lingkungan sekolah.

"Jun, kita lanjutin aja jalannya." Jujur, Taehun sudah benar-benar hilang arah.

"Terus yang lainnya gimana? Gue juga takut."

"Pegang tangan gue. Kita gak boleh kepisah."

Sungjun menuruti apa yang Taehun katakan, ia menautkan jarinya diantara jari kakak kelasnya itu. Sungjun berharap tindakan yang ia dan Taehun pilih tidak lah salah.

🕸🕸🕸

Dua pria setengah baya menatap remeh enam orang siswa yang sudah tak sadarkan diri. Semua ini tidak sesusah yang mereka duga.

"Niatnya hanya Hyunsoo, tapi kalian terlalu ikut campur," gumam si pemilik sekolah. Ya, dia Seo Daeyoon.

"Lihatlah, mereka seperti menyerahkan diri. Apa kau akan memulainya sekarang?" tanya Yujin.

"Ini terlalu mudah, aku suka yang sedikit menantang. Bukankah kau menyeret mereka satu per satu dengan mudah?"

Yujin mengangguk sebagai jawaban.

"Bawa Taehun untuk-ku. Sekarang aku berubah pikiran, entah mengapa aku menginginkan jika semua ini dimulai darinya."

"Jangan gila Seo Daeyoon, aku mendapatkan mereka dengan mudah bukan berarti aku bisa mendapatkan Taehun dengan mudah juga. Kau lupa? Dia otaknya mereka?"

Daeyoon tersenyum remeh. "Baiklah, aku mengerti. Kita akan siaihkan dua orang itu seperti apa yang aku lakukan dulu," ujarnya.

Kaki itu melangkah melihat satu per satu dari mereka yang sudah diikat tangan serta kakinya.

"Kau tahu Yujin? Aku pernah mengakhiri hidup mereka satu per satu, dan itu di mulai dari Kyungjun, Hyunsoo, Hwi, Junhyeok dan puncaknya saat aku dengan sengaja membakar gedung asrama yang Taehun dan Sungjun tempati. Niatnya hanya untuk mereka berdua, tapi ternyata mereka bertiga juga menjadi korbannya."

"Ya, kau sudah pernah menceritakannya lima tahun lalu, aku masih ingat hal itu. Bahkan Seo Jia, kehidupannya berakhir karena kau juga kan?"

Daeyoon terkekeh pelan. "Tidak, itu bukan salahku, itu salahnya sendiri. Dia mencoba menyelamatkan orang yang ia cintai namun berakhir tragis."

"Sampai sekarang kau bahkan belum mengatakan apa alasanmu menghabisi mereka dulu."

"Mereka ... Tidak, tepatnya hanya Taehun, Kyungjun, Hyunsoo, Junhyeok, Hwi dan Sungjun. Mereka berenam adalah anak yang mendapatkan beasiswa sehingga bisa bersekolah di sini. Mereka tinggal di panti asuhan dan mereka tidak mempunyai keluarga. Sebelum adanya mereka akulah yang orang-orang pandang. Baik, pintar dan tentunya kaya raya, saat itu aku seperti manusia yang sempurna. Tapi saat mereka datang, semua yang ku miliki mereka rampas begitu saja. Perhatian yang selalu aku dapatkan beralih pada mereka, apapun selalu mereka. Bahkan Nara, orang yang aku cintai malah mencintai Choi Taehun, orang yang aku benci," jelas Daeyoon.

"Apa kau masih mencintai Nara?"

"Kim Nara, sampai kapanpun aku akan terus mencintainya. Walaupun sekarang dia sudah memiliki yang lain tapi aku akan membuatnya menjadi miliku. Apapun rintangannya akan aku hadapi."

Mata Yujin memicing, sedikit ada rasa aneh dari setiap kata yang Daeyoon ucapkan. "Mengapan tidak mengejarnya sebelum ia mempunyai pasangan?"

"Aku sempat kehilangannya. Tepat setelah kebakaran, waktu itu di adakan penyelidikan dan sekolah milik ayahku ini ditutup. Aku kembali mendapatkan kabarnya baru beberapa bulan ini, karena ternyata dia ibu dari salah satu anak yang aku incar."

"Siapa?"

"Choi Taehun."









Daeyoon masih suka Mamanya Bang Tae guys.
Stan The New Six!

Big Secret (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang