"Eh nggak, Ji. Bang Tae mau ngomong sama lo." Junhyeok menyerahkan ponselnya pada Taehun.
Taehun menerimanya. "Ji, lo di mana? Baik-baik aja kan?"
"Kak Tae kenapa? Tiba-tiba banget. Jia lagi di rumah sakit-"
"Kenapa? Ada yang sakit?" Taehun mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video.
Tanpa ragu Jia menerimanya. "Jia baik-baik aja, Kak," ucap Jia santai.
"Terus ngapain di rumah sakit kalau gak sakit?" sahut Hwi yang entah sejak kapan bergabung dengan mereka.
Taehun yang sadar jika kamera ponsel Junhyeok penuh dengan wajahnya sendiri akhirnya meletakkan ponsel Junhyeok dengan tumpuan kotak tisu agar berdiri.
"Nyaut mulu lo!"
"Tapi yang dibilang Hwi bener, Ji. Lo ngapain di rumah sakit kalau gak sakit?" tanya Junhyeok.
"Jagain Yoonho, sakit dia."
"Yoonho?" gumam Taehun pelan.
"Adiknya, Bang," jawab Sungjun yang mendengar gumaman Taehun.
"Tapi lo beneran baik-baik aja kan, Ji?" tanya Hyunsoo.
"Ini kalian kenapa deh? Aneh banget tiba-tiba kaya gini."
"Tanya dia, Ji." Kyungjun menunjuk Taehun.
"Dia bangum tidur udah kaya orang gila, langaung nyari kabar lo,"Imbuh Hyunsoo.
Taehun menatap Hyunsoo horor. "Gak usah berlebihan, bangke!"
"Kak Tae mimpi buruk ya? Jia baik-baik aja kok. Yaudah kak, Jia masih ada urusan Jia tutup ya?"
"Kik Tii mimpi birik yi? Jii biik-biik iji kik," ledek Hwi sedikit menirukan gaya bicara Jia. "Sama orang yang lo suka aja lembut lo, giliran sama yang lain kaya meong garong!"
"Hwii..."
"Kalau ada apa-apa telepon aja, ya?"
Di sebrang sana Jia mengangguk sebelum mematikan panggilannya.
Taehun menyerahkan kembali ponsel Junhyeok. "Nanti kirim kontak Jia."
"Oke," ucap Junhyeok sambil menerima ponselnya.
"Sebenernya ada apa sih, Hun? Kok bisa se-panik tadi?" Hyunsoo benar-benar sudah tidak bisa menahan pertanyaan itu.
"Gue mimpi buruk."
"Ini masih sore, Bang. Lo udah tidur?"
Taehun mengangguk. "Niatnya istirahatin pikiran gue sebentar. Ternyata malah nambah pikiran."
"Eh, Hwi. Lo tadi ada bilang kalau Jia suka Taehun kan?" tanya Hyunsoo.
"Iya, dia emang suka sama Bang Tae, keren katanya."
Kyungjun berteriak heboh. "Gila! Temen gue ada yang demen juga ternyata!"
"Diem lo. Gue lagi pusing juga."
"Pusing mikirin Jia, ya Bang?" Sungjun ikut meledek.
"Lo gimana bisa tahu kalau Jia suka Bang Tae?" tanya Junhyeok.
"Dia yang bilang sendiri sama gue," jawab Hwi. "Cie... Bang Tae ada yang suka."
Taehun sama sekali tidak mendengarkan ledekan dari kelima temannya. Yang ada di pikirannya saat ini penuh dengan mimpi tadi.
"Orang itu, gak mungkin-"
Laki-laki bermarga Choi itu berlari keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
"Bang Tae marah?" tanya Sungjun was-was.
Kyungjun menatap Hyunsoo, begitu pun sebaliknya kemudian mereka menggeleng secara bersamaan.
"Bukan marah. Kita ikutin dia," ujar Hyunsoo.
Kelimanya ikut berlari mengejar Taehun. Tidak ada hal yang aneh, Taehun pergi ke asramanya. Namun saat ini ia masih berada di depan pintu sambil memegang sebuah kotak dan selembar kertas.
"Hun." Nafas Hyunsoo memburu karena lelah. "Kenapa lari lo cepet banget, dah? Cape gue."
Taehun tidak memperdulikan Hyunsoo atau pun yang lainnya. Mulutnya berkomat-kamit membaca tulisan yang berada di kertas itu.
Karena kesal Kyungjun merempas kertas itu dari tangan Taehun. Bertapa terkejutnya Kyungjun saat membacanya.
Rumah sakit harapan jika ingin Jia baik-baik saja.
Kyungjun meremat kertas itu hingga menjadi bola kertas yang padat saking marahnya. Kyungjun hendak pergi dari sana, tapi dengan cepat Taehun menahan tangannya.
"Jia dalam bahaya, Hun!"
"J-Jia kenapa?" tanya Sungjun pelan.
"Itu jebakan, Kyungjun! Jia bail-baik aja, dia juga gak ada di rumah sakit itu!" Tanpa sadar Taehun berbicara dengan nada tinggi, hal itu membuat penghuni asrama yang berada di dekat sana keluar melihat mereka.
Taehun membuka pintu kamarnya lalu menarik Kyungjun yang masih mengepalkan tangannya.
"Kalian juga masuk." perintah Taehun pada keempat temannya yang lain.
Tidak ingin membuat keributan yang lebih, mereka segera menuruti apa yang Taehun ucapkan.
"Lo kenapa sih, Hun? Bukannya lo tadi panling khawatir sama Jia? Terus kenapa lo ngehalangin gue buat datang?"
Taehun melempar kotak yabg sejak tadi ia bawa laku tangannya beralih menegang bahu Kyungjun.
"Kotak sama kertas itu udah ada dari sebelum kita hubungin Jia."
Seketika Kyungjun diam.
"Bener kata Bang Tae, Jia baik-baik aja." Junhyeok memperlihatkan room chatnya bersama Jia. Gadis bermarga Seo itu berada di rumah sakit yang berbeda dalam keadaan yang sangat baik.
Saat itulah emosi Kyungjun mereda. "Bisa gila gue lama-lama. Hun, gimana lo bisa sadar sadangkan tadi kita keluar pas lo masih dalam keadaan panik?"
"Gue gak sengaja liat. Kertas itu di himpit sama kardus paket punya gue," jawab Taehun.
"Jadi kardus itu juga gak bahaya?"
Taehun menggeleng. "Udah gue cek, makanya gue ngomong gitu."
Semuanya bernafas lega. Melihat Kyungjun dan Taehun saling berbicara dengan nada tinggi benar-benar terasa mencekam.
Taehun menatap ketiga adik kelasnya. "Kalian balik ke kamar, langsung istirahat."
"Tapi Bang-"
"Hwi udah, ayo balik. Besok kita harus nyari tahu di balik ini semua." Junhyeok menggiring kedua temannya dari kamar Taehun.
Setelah kepergiaan ketiga adik kelasnya Hyunsoo balik menatap dua teman sekamarnya itu. "Kalian juga istirahat, terutama lo Hun. Jangan cuma ngomong ke mereka lo juga harus istirahat."
Happy Hyunsoo day!
Bang Unco kita resmi 20 tahun gaes♡
Ayo terus dukung The New Six🏁
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
