"Kita harus balik ke asrama sekarang."
Enam kata itu menjadi kalimat pertama yang keluar dari mulut Hwi setelah berada di dalam ruang inap Taehun.
Hwi datang tidak sendiri, dia datang bersama Junhyeok.
"Ternyata keadaan lo udah baik-baik aja, Bang. Infus di tangan lo aja udah gak jalan," imbuh Junhyeok.
"Kok-"
"Gak ada banyak waktu buat ini, Bang ayo!"
Taehun yang masih bingung itu bagkit dari brankar dan mencabut jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya.
Masih menggunakan baju pasien, Taehun dan ketiga temannya segera pergi dari sana dengan sembunyi-sembunyi.
Keempatnya baru bisa bernafas lega setelah berada di dalam mobil menuju asrama.
"Kenapa kita harus ngendap-ngendap kaya tadi sih?" tanya Sungjun.
"Nanti aja di asrama," jawab Hwi.
"Kalian kenapa bisa tahu kalau keadaan gue udah stabil?" Kini Taehun yang bertanya.
Bukannya menjawab, Hwi dan Junhyeok malah menggeleng. Dalam hati, Taehun menggerutu kesal karena tidak bisa memahami gerak-gerik dari kedua sagabatnya itu.
Sesampainya di asrama, tepatnya di kamar milik Taehun, Kyungjun & Hyunsoo mereka disambut tatapan tidak ramah dari dua orang yang berada di dalamnya.
Awalnya tatapan itu benar-benar seram, tapi setelah melihat Taehun yang ikut muncul dari balik pintu tatapan itu kian melemah.
"Taehun?" Hyunsoo sampai berdiri saking terkejutnya.
Taehun hanya tersenyum tipis melihat reaksi itu. "Gak usah berlebihan," ucapnya lantas duduk di atas kasur yang sangat ia rindukan.
"Bang-" ucapan Hwi langsung terhenti ketika Kyungjun dan Hyunsoo kembali menatapnya seperti tadi.
"Kalian kenap-"
"Diem, duduk," kata Hyunsoo tegas.
Hwi dan Sungjun mau tidak mau menurutinya. Sedangkan Junhyeok yang masih kurang mengerti apa-apa pergi menutup pintu sebelum duduk bergabung di sebelah Sungjun.
"Kita ada sala-"
"Emang ada."
Lagi-lagi ucapan Sungjun terhenti dan kali ini Kyungjun pelakunya.
"Jun, Soo, emang ada apa?" tanya Taehun.
"Mereka nyalain lilin terus pergi gitu aja, kalau kebakaran gimana? Untung kita masuk asrama mereka." Kyungjun akhirnya mengatakan letak kesalahan Hwi dan Sungjun.
"Mampus, gue lupa!" ucap Hwi dalam hati.
"Demi apapun, bukan gue." Sungjun membela dirinya.
"Gue terlalu panik sampai gak sempet cuma buat niup lilinnya," jelas Hwi. "Gue minta maaf, Bang, Kak."
"Kalian kita maafin, tapi kalian banyak hutang cerita," ucap Hyunsoo.
"Hwi, lo yang paling ngerti dan tahu, jadi lo aja yang jelasin." Bukannya tidak mau, tapi Sungjun juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Junhyeok pun sama, ia hanya Hwi ajak kembali ke ruang inap Taehun setelah memberikan kode pada ayah Taehun.
Hwi menghela nafasnya. Ini akan jadi cerita yang cukup panjang.
"Gue tahu kalau orang yang nyelakain Bang Tae ngerencanain sesuatu yang lebih kejam. Lebih parahnya, kedua orang tua Bang Tae terlibat di sini-"
"Orang tua gue? Tapi mereka-" Taehun menutup mulutnya tak percaya.
"Dengerin dulu penjelasan gue, Bang."
Bukan menangis, Taehun malah tertawa kecil. "Gak perlu Hwi, gue juga sebenernya udah tahu kalau mereka mau ngorbanin gue demi harta."
"Tapi kalau bukan karena mereka, gue gak bakal ke sana tepat waktu. Inget kan kemarin gue datang telat? Di situ gue gak sengaja denger percakapan nyokap lo sama seseorang di telepon, mereka lagi bahas rencananya. Tapi ternyata di situ nyokap lo sadar sama kehadiran gue dan dia beberin rencananya biar gue bisa denger, dia juga ngasih kode ke gue supaya datang pas lo mau sarapan. Kode itu baru bisa gue mengerti tadi pagi."
"Jadi mereka nggak mau lo kenapa-napa, mereka ngelakuin itu karena tekanan."
"Tapi tetep aja, Hwi. Mereka hampir bikin gue gak bisa kembali ke sini. Orang tua mana yang tega campur makanan anaknya pake racun? Di hadapan anaknya sendiri lagi."
Hwi menggeleng tapi setelahnya mengangguk. "Ada, orang tua lo. Tapi Bang, biarpun mereka salah-"
"Sekali salah tetep salah, Hwi," Hyunsoo ikut berbicara.
"Cerita lo bahkan belum lengkap, Hwi," kata Sungjun.
"Semua sudut di pantau sama mereka, termasuk kamera yang ada di kamar Taehun, itu punya mereka. Nyokap-bokap Bang Tae yang ngasih tahu gue. Intinya mereka juga gak mau lo kenapa-napa, Bang."
"Itu karena ada kalian, kalau gak ada gak gini ceritanya."
"Gue ngerti apa yang lo maksud di sini, Hwi. Mereka emang sayang sama gue, tapi untuk urusan harta, mereka bisa ngelakuin segala cara bahkan ngorbanin gue sekalipun. Kasus yang nimpa gue aja mereka sebenarnya udah tahu, makanya kasusnya ditutup dan kita udah bisa kembali sekolah kaya biasanya," ujar Taehun.
"Siapa pelakunya?"
Taehun menggeleng. "Gue gak tahu, yang gue tahu mereka ada sangkut pautnya sama perusahaan bokap gue, istilahnya dia orang yang penting."
"Kalau gitu mereka bukan rival kerja orang tua lo, dong? Tapi apa tujuan mereka?" tanya Kyungjun.
Semunya terdiam, terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Orang tua Taehun dan tujua si pelaku benar-benar tidak mudah untuk di mengerti.
🕸🕸🕸
"Mereka sadar? Tapi gimana bisa?"
"Mereka dari dulu memang pintar, kau saja yang bodoh. Bermain-main seperti bocah."
"Diam kau, Youngjae!"
"Kenapa? Tidak terima? Bukankah itu kenyataannya? Dari dulu mereka pintar dan kau malah sebaliknya."
"Jaga ucapanmu jika-"
"Kau bahkan tidak tahu keberadaan keluargaku," ucap Youngjae sebelum meninggalkan laki-laki sepantaranya itu.
"Sialan, Lee Youngjae. Tunggu saja kabar buruk dari keluargamu."
Gak tau lah aku lagi buntu.
Semoga nyambung deh.
Jangan lupa terus dukung The New Six guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasyTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
