TIGA PULUH SATU

34 8 5
                                        

Hal yang paling menbuat Jeongwoo malas menjadi ketua kelas adalah membawa atau mengembalikan buku ke perpustakaan.

Seperti yang ia lakukan saat ini, setumpuk buku kini berada di tangannya. Jeongwoo tidak sendiri, kali ini ia ditemani Sungjun.

"Woo, gue masih kaget soal lo yang tahu dan jadi bagian dari reinkarnasi ini," ucap Sungjun.

"Lo aja kaget, apalagi gue."

"Gue mau tanya, yang bocorin kalau gue reinkarnasi siapa? Kak Doyoung?"

Jeongwoo mengangguk. "Bukan dia, tapi Haruto."

"Haruto?"

"Iya Haruto. Lo gak tahu ya kalau Jia itu sepupunya Haruto?"

"Lah, sejak kapan?"

"Pertanyaan lo ... gimana gue jawabnya?"

"Yaudah jawab pertanyaan gue yang ini aja. Kenapa lo mau bantuin nyari tahu?"

"Awalnya gue cuma niat bantuin Jia, itupun karena Haruto yang minta. Eh ternyata gue juga terlibat."

Sungjun tertawa kecil. "Takdir itu, Woo. Terima aja."

"Takdir macem apa itu? Pantes aja hidup gue gak tenang."

"Buset lo kalau ngomong. Namanya juga hidup, ada masalah mah udah biasa."

"Jun, si Hwi tadi ada di kelas, kan?" tanya Jeongwoo.

"Iya, emang kenapa?"

Jeongwoo menungjuk ke arah depan menggunakan dagunya. "Itu bukannya Hwi ya?"

Sungjun melihat arah yang ditunjukan Jeongwoo, dan benar saja itu Hwi. Tapi dia masuk ke perpustakaan yang jelas-jelas arah dari kelas menuju perpustakaan yang paling dekat hanya satu.

"Ayo samperin dia." Sungjun berlari terlebih dulu meninggalkan Jeongwoo yang menyusulnya di belakang.

Sesampainya di perpustakaan, Sungjun tidak melihat siapa pun di sana.

"Hwi mana Jun?" tanya Jeongwoo dengan nafas yang terengah karena berlari.

"Yang tadi bukan Hwi." Sungjun meletakan buku yang ia bawa kembali ke tempatnya.

Jeongwoo melakukan hal yang sama. "Terus siapa? Orang jelas-jelas gue liat itu Hwi."

"Lo pasti belum tahu, nanti gue jelasin. Kita balik ke kelas aja dulu, takut keduluan guru masuk."

Jeongwoo menatap Sungjun aneh. Yang tadi ia sangat yakin bahwa itu Hwi, tapi sudahlah ia akan minta penjelasan lebih lanjut nanti.

🕸🕸🕸

Setelah bel pulang berbunyi Jeongwoo melarang Sungjun untuk kembali ke asrama terlebih dahulu. Ia masih sangat penasaran dengan apa yang Sungjun maksud tadi siang.

Mereka tidak hanya berdua tapi juga ada Hwi, mengingat peringatan dari Taehun, Hwi tidak akan membiarkan Sungjun pulang sendiri.

"Cepetan, Jun. Asli, gue udah penasaran banget," ucap Jeongwoo.

"Lo mau ngejelasin apa sih, Jun? Penting banget kayanya?" tanya Hwi yang belum tahu apa yang sudah terjadi.

"Kita liat lo masuk ke perpustakaan pas kita berdua ngembaliin buku," jawab Sungjun.

Hwi mengerutkan alisnya tak mengerti. "Pas kalian ngembaliin buku gue kan di kelas, gak kemana-mana apalagi ke perpustakaan."

"Nah itu yang pengen gue tanyain sama Sungjun, Hwi."

Hwi membulatkan matanya ketika ia sadar dengan apa yang Sungjun ceritakan. "Jun ... Kayanya gue selanjut-"

"Hus... Jangan ngomong yang nggak-nggak." Sungjun dengan sengaja menyela ucapan Hwi.

"Ajirr, gue makin gak ngerti. Jelasin dulu!"

"Yang kalian liat diperpustakaan itu bukan gue yang sekarang, tapi gue di masa lalu," jelas Hwi.

"Itu sebenernya udah gak jadi hal aneh lagi buat kami. Bukan sekali aja gue liat yang kaya gini, gue pernah liat bang Hyunsoo masuk ke gudang padahal bang Hyunsoo ada di samping gue dan itu juga kejadian di Junhyeok sama bang Taehun juga," tambah Sungjun.

"Kok bisa? Buat apa mereka muncul?"

"Itu dia mesalahnya, Woo. Mereka belum tenang, kata kak Doyoung ada yang belum tuntas di masa lalu dan kita yang harus beresin semuanya."

"Kalian udah tahu apa yang belum tuntas di masa lalu?"

Baik Hwi atau pun Sungjun, keduanya sama-sama menggeleng. "Kita belum terlalu yakin. Tapi dugaan sementara pelaku kebakaran asrama kita tahun 1990 yang belum dapetin hukuman yang setimpal."

🕸🕸🕸

"Di sekolah aman kan?"

"Aman, lo tenang aja. Lo gimana?"

"Aman."

"Orang tua lo, gimana?"

Taehun tersenyum tipis, matanya terus terfokus pada layar laptop yang menunjukan artikel yang Jang Hyuna tulis. "Ya, nggak gimana-gimana."

"Gak nanya gitu kenapa lo tiba-tiba pulang?"

"Mereka pasti udah tahu, ngapain nanya lagi."

"Iya sih. Terus lo udah tanya ke mereka soal di rumah sakit?" tanya Hyunsoo di sebrang sana.

"Udah, dan jawabannya sesuai dugaan gue."

Terdengar helaan nafas dari Hyunsoo. "Kira-kira kalau gue caci maki orang tua lo dosa gak ya?"

"Dosa sih kayanya." Taehun menjeda ucapannya. "Soo, besok kan gue bakal ketemu sama penulis itu. Kira-kira apa aja yang harus gue tanyain sama dia? Terus kalau dia nanya buat apa, gue harus jawab gimana?"

"Menurut gue nih ya, lo tanya dulu kenal kita apa nggak. Terus kalau kenal lo ceritain aja apa yang terjadi, gue yakin mereka bukan cuma mau ngasih informasi tapi mau bantuin kita juga."

"Yakin banget lo kayanya."

"Iya dong, tapi lo tetep harus hati-hati. Lo di sana sendiri, rumah lo aja gak seratus persen aman."

Tok tok tok.

Di tengah percakapan Taehun dengan Hyunsoo ada yang mengetuk pintu kamar Taehun.

"Siapa Hun?"

"Kayanya Mama, kalau gitu gue tutup dulu ya. Gue mau nanyain soal pelaku yang hampir bunuh gue mumpung gak ada ayah."

"Oke, gue doa'in supaya nyokap lo mau jawab."

Setelah menutup panggilan dengan Hyunsoo, Taehun segera beranjak untuk membuka pintu kamarnya. Sesuai keinginan Taehun, yang datang sang ibu yang membawakannya segelas susu.








Aku hampir lupa mau up :(
Stan The New Six!

Big Secret (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang