EMPAT PULUH

36 9 11
                                        

Hari sudah semakin siang, Taehun dan Sungjun sudah kembali. Tapi sekarang Taehun tidak berada di ruang rawat Hwi, melainkan berada di restoran yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.

Taehun tak sendiri, ia bersama Kyungjun, Hyunsoo dan juga Jina. Tak lama setelah kembalinya Taehun dan Sungjun, Jina datang dan mengajak mereka berbicara.

Tak mau mengganggu waktu istirahat Hwi dan meninggalkannya sendiri, berakhirlah Junhyeok dan Sungjun yang menjaganya.

"Apa yang mau Kakak biacarain?" tanya Taehun.

"Tentang kalian di masa lalu." Jina menatap ketiganya dengan perasaan yang tak karuan. Ia sedih tapi juga senang. "Kakak yakin mereka gak akan milih terlahir lagi kalau gak ada tujuan."

Kyungjun mengangguk setuju. "Bener apa yang Kakak bilang, mereka punya tujuan. Pelaku kebakaran tahun itu belum dapet hukumannya kan, Kak?"

"Belum, gak ada yang tahu pelakunya siapa. Sebenernya waktu itu pihak kepolisian udah tahu siapa pelakunya,  tapi sampe hari ini gak ada tindakan lebih lanjut," jelas Jina yang kemudian tersenyum miris. "Saat itu, perekonomian negara sedang kacau, banyak koruptor di mana-mana, suap menyuap udah jadi hal lumrah. Kakak yakin, pelakunya udah nyuap pihak kepolisian dan media suapaya dia gak dapet hukuman dan identitasnya tetep aman."

"Kalau bener, gila sih. Pantes aja hidup kami setelah tahu kalau kami ini reinkarnasi rasanya gak tenang. Tiap bulan ada aja kejadian yang aneh. Di mulai dari mimpinya Taehun sama Sungjun, kami yang lihat diri sendiri secara nyata, Junhyeok yang jatuh dari tangga, teror gak jelas, percobaan pembuhunan Taehun yang kejadian sampe dua kali, dan sekarang kejadian yang nimpa Hwi," ujar Hyunsoo.

"Percobaan pembunuhan?" tanya Jina.

Taehun mengangguk, ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi bekas luka di dahinya. "Di sini pernah keluar darah, tangan sama kaki ini pernah diiket dan Tae pernah di kunci di bilik kamar mandi yang sempit dan emang gak di pake."

"Siapa pelakunya?"

"Gak-"

"Park Yujin." Jungwoo yang baru datang langsung menyela ucapan Taehun.

Taehun menatap Jeongwoo tak mengerti. Laki-laki itu datang tak sendiri, ia datang bersama Haruto dan Doyoung.

"Jangan asal tuduh, Woo. Kalau kejadiannya pas dia udah keluar sih masuk akal, tapi ini kejadiannya sebelum dia keluar," ucap Hyunsoo.

"Gue gak asal tuduh, Youngjae sendiri yang ngaku."

Doyoung tersenyum canggung, temannya yang satu ini terkadang tidak melihat situasi.

"Eum ... Kak, maaf ya. Kedatangan kami gak sopan," ucap Doyoung pada Jina.

"Gak papa, ayo duduk."

Keempatnya ikut bergabung. Mereka sudah di beritahu oleh Jia mengenai Jina, Hyuna juga Minsoo.

Niat awal mereka adalah menjenguk Hwi, tapi Haruto tak sengaja melihat Taehun, akhirnya atas saran dari Doyoung mereka berniat menghampiri Taehun dulu sebelum menghampiri Hwi.

"Kak Jina kenal Park Yujin?" tanya Kyungjun.

Jina menggeleng, ia tidak ingat mempunyai teman bernama Park Yujin. "Adanya Kim Yujin, dan dia jadi salah satu korban kebakaran itu."

"Woo, lo punya bukti? Bukannya kita gak percaya, tapi ini Lee Youngjae. Orang yang udah ngedesak orang tuanya Taehun," ucap Kyungjun.

"Kakak pengen ngelurusin yang kemarin, Lee Youngjae yang kalian maksud dan yang Kakak maksud kemarin apa orang yang sama kan?"

"Kak Jina tahu mama Tae, kan? Kim Nara. Dia dulu juga bersekolah di INTERNATIONAL FUTURE SCHOOL, dan Lee Youngjae yang kami maksud dulu satu sekolah dengannya," ucap Taehun.

"Ternyata benar, dunia ini sangat sempit."

"Itu berarti orang yang sama."

Nara, Jina masih ingat betul bagaimana ia dulu sangat menyukai Taehun dan membencinya setelah kejadian tak terduga waktu itu. Sekarang wanita itu malah melahirkan reinkarnasi dari laki-laki yang pernah ia cintai dan benci dulu.

Jina benar-benar tidak bisa berkata-kata, ia masih terlalu terkejut. Menurut Jina ini semuanya lebih seram dari pada film horor.

"Taehun, apa selama ini kamu baik-baik aja? Maksud Kakak, di rumah?"

"Sama sekali nggak. Rumah biasanya jadi tempat yang paling nyaman dan aman, tapi Tae gak ngerasain hal itu."

"Bibi Nara hampir buhuh Taehun demi harta," ujar Hyunsoo.

Jina menutup mulutnya tak percaya. Ternyata Nara masih sama, dendam karena Taehun yang lebih memilih Jia dari pada dirinya.

"Taehun ... Kamu itu, reinkarnasi dari orang yang Nara suka."

🕸🕸🕸

Setelah ucapan Jina pagi tadi membuat Taehun terus terdiam. Ia benar-benar tak percaya pada kenyataan ini.

"Berarti orang yang dorong Jia di mimpi waktu itu beneran Mama?"

Taehun tersadar dari lamunannya karena Hyunsoo mendorong bahunya.

"Gue takut lo kesambet, makanya gue dorong. Noh, lo dipanggilin Hwi dari tadi," ujar Hyunsoo.

Tanpa mengatakan apapun Taehun bangkit dan mendekat pada Hwi. "Kenapa?"

Hwi sudah mendengar semuanya. Kyungjun, laki-laki itu sudah menceritakan apa saja yang mereka bicarakan bersama Jina.

"Bang, kita harus bikin perhitungan sama Park Yujin," ucap Hwi. Ia tak berniat untuk menambah pikiran Taehun, tapi menurutnya ini akan sedikit mengalihkan pikiran kakak kelasnya itu.

Tak mendapatkan jawaban, Hwi memegang punggung tangan Taehun agar sang empu kembali fokus.

"Perhitungan yang waktu itu masih kurang ya?"

"Bukan buat Bang Unco, tapi untuk kita berdua. Yang bikin gue kaya gini dia dan kemarin, gue sempet ngelawan sampe dia ngakuin kelakuannya sendiri. Dia ngaku kalau yang nyekap lo waktu itu emang dia, Bang."



Yang di mimpi Taehun waktu itu udah kejawab ya guys. Ini pelakunya emang Yujin ya, nggak ada plot twis lagi, capek. Btw siap-siap, besok bakal ada kejutan.
Stan TNX guys!

Big Secret (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang